Sentavito, Eko Wahyu
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komunikasi visual multikultural ornamen bangunan bangsal kencana keraton Yogyakarta Septarina, Sri Wahyuning; Sentavito, Eko Wahyu
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 10, No 4 (2024): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020243370

Abstract

Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia, memiliki cerita historis yang panjang sejak dibangunnya bangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta) dua setengah abad lalu. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dan menjelaskan tentang bagaimana mengkomunikasikan pesan visual multikultural yang disampaikan melalui ornamen pada Bangsal Kencana, Keraton Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah dan budaya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui metode wawancara, observasi (pengamatan), dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, ornamen bangunan Bangsal Kencana dipengaruhi oleh identitas visual yang hadir karena relasi kuasa Sultan sebagai Raja. Kedua, sudut pandang makna pada setiap ornamen dipengaruhi karena perbedaan keberagaman budaya yang hadir. Ketiga, kehadiran ornamen tidak terlepas dari kondisi sosial budaya pada masanya. Saran terhadap penelitian ini adalah (1) Perlu adanya regenerasi pengetahuan dalam menggambarkan komunikasi visual multikultural melalui ornamen, (2) Upaya bersama agar bukti sejarah dalam bentuk naskah, dokumen dan manuskrip yang tersimpan di berbagai perpustakaan dapat kembali ke Indonesia.
Analisis Semiotik Identitas Kultural Komunitas Maiyah Kenduri Cinta Sebagai Simbol Spiritual, Sosial, dan Interaksi Sentavito, Eko Wahyu; Irmayanti, Shinta; Fauzy, Ryan; Fakih, Muhammad Zulyan; Anthonio, Timothy Farrel
Desainpedia: Jurnal Desain Produk dan Desain Komunikasi Visual Vol 4, No 1 (2025): Urban Design, Lifestyle & Behaviour
Publisher : Universitas Pembangunan Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36262/dpj.v4i1.1119

Abstract

Abstract - The Maiyah community initiated by Emha Ainun Nadjib, better known as Cak Nun, emphasizes the concept of Sinau Bareng as a form of shared learning that includes cultural, spiritual and intellectual aspects. This research aims to identify the cultural and ideological identity of the Maiyah community, explore this subculture's role in shaping its members' spiritual and social understanding, and examine the social interaction model applied in the community. Using a descriptive qualitative method, this research goes in-depth into the formation and development process of the Maiyah community. The results show that Maiyah is a discussion forum and a movement that encourages togetherness, openness and love of knowledge. The values of tolerance, pluralism and nationalism applied in this community strengthen social cohesion between members and create space for cross-cultural dialog. Through Roland Barthes' semiotic approach, it is revealed that elements in Maiyah, such as Kiai Kanjeng's music, the community's visual identity such as peci and white shirts, have connotative meanings that depict social alternative education relevant to the context of Indonesian society.Abstrak — Komunitas Maiyah yang diinisiasi oleh Emha Ainun Nadjib, atau yang lebih dikenal sebagai Cak Nun, menekankan pada konsep Sinau Bareng sebagai bentuk pembelajaran bersama yang mencakup aspek budaya, spiritual dan intelektual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi identitas kultural dan ideologis komunitas Maiyah, mengeksplorasi peran subkultur ini dalam membentuk pemahaman spiritual dan sosial anggotanya, serta mengkaji model interaksi sosial yang diterapkan dalam komunitas. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini mendalam pada proses pembentukan dan perkembangan komunitas Maiyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Maiyah tidak hanya merupakan forum diskusi tetapi juga sebuah gerakan yang mendorong kebersamaan, keterbukaan dan cinta ilmu. Nilai-nilai toleransi, pluralisme, dan nasionalisme yang diterapkan dalam komunitas ini memperkuat kohesi sosial antara anggota dan menciptakan ruang untuk dialog lintas budaya. Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, terungkap bahwa elemen-elemen dalam Maiyah, seperti musik Kiai Kanjeng, identitas visual komunitas seperti peci dan baju putih, memiliki makna konotatif yang menggambarkan pendidikan alternatif sosial yang relevan dengan konteks masyarakat Indonesia.
Komunikasi visual multikultural ornamen bangunan bangsal kencana keraton Yogyakarta Septarina, Sri Wahyuning; Sentavito, Eko Wahyu
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2024): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020243370

Abstract

Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia, memiliki cerita historis yang panjang sejak dibangunnya bangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta) dua setengah abad lalu. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dan menjelaskan tentang bagaimana mengkomunikasikan pesan visual multikultural yang disampaikan melalui ornamen pada Bangsal Kencana, Keraton Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah dan budaya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui metode wawancara, observasi (pengamatan), dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, ornamen bangunan Bangsal Kencana dipengaruhi oleh identitas visual yang hadir karena relasi kuasa Sultan sebagai Raja. Kedua, sudut pandang makna pada setiap ornamen dipengaruhi karena perbedaan keberagaman budaya yang hadir. Ketiga, kehadiran ornamen tidak terlepas dari kondisi sosial budaya pada masanya. Saran terhadap penelitian ini adalah (1) Perlu adanya regenerasi pengetahuan dalam menggambarkan komunikasi visual multikultural melalui ornamen, (2) Upaya bersama agar bukti sejarah dalam bentuk naskah, dokumen dan manuskrip yang tersimpan di berbagai perpustakaan dapat kembali ke Indonesia.