Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Singapore And Sustainable Finance: Successful Models In Policy Implementation And Best Practices, Compare With Indonesia Fadhillah, Fadhillah; Agung, Wahyu Dwi
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM SEBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35836/jakis.v12i2.748

Abstract

Singapore stands out among ASEAN countries for its notable accomplishments in sustainable finance. Singapore is the sole ASEAN country featured in the top 15 rankings of the thirteenth edition of the Global Green Finance Index. Therefore This study aims to find the determining factors for Singapore's success in the implementation of sustainable finance. This research uses qualitative methods and literature review approaches. Upon examining the reports and official websites from the Financial Services Authority (OJK) (Indonesia) and the Monetary Authority of Singapore (MAS) (Singapore), it is evident that Singapore has implemented similar initiatives as Indonesia in addressing its three key issues; lack of knowledge and involvement in the financial sector, standardization of green categorization, and support and collaboration for business opportunities. Both countries have implemented national campaigns, published green taxonomies, and fostered public-private partnership to address these issues. In this study, a new finding was revealed in terms of culture financial understanding. Singapore lacks particular rules pertaining to the promotion of financial literacy. However, Singapore boasts a far greater financial literacy rate compared to other ASEAN countries. The high level of financial literacy certainly has positive influences on the implementation of sustainable finance. Singapura menjadi negara ASEAN terbaik karena prestasinya dalam hal keuangan berkelanjutan. Singapura adalah satu-satunya negara ASEAN yang masuk ke dalam peringkat 15 besar berdasarkan Global Green Finance Index edisi ketiga belas. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor penentu kesuksesan Singapura dalam implementasi keuangan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan literatur rview. Berdasarkan laporan dan situs web resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (Indonesia) dan Otoritas Moneter Singapura (MAS) (Singapura) terbukti bahwa Singapura telah menerapkan strategi serupa seperti Indonesia dalam mengatasi tiga masalah utamanya; kurangnya pengetahuan dan keterlibatan di sektor keuangan, standardisasi kategori hijau, serta dukungan dan kolaborasi untuk peluang bisnis. Kedua negara tersebut telah menerapkan kampanye nasional, menerbitkan taksonomi hijau, dan membina kemitraan publik-swasta untuk mengatasi masalah ini. Dalam penelitian ini, sebuah temuan baru terungkap dalam hal budaya terkait pemahaman keuangan. Singapura tidak memiliki aturan khusus yang berkaitan dengan promosi literasi keuangan. Namun, Singapura memiliki tingkat literasi keuangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Tingginya tingkat literasi keuangan tentunya memberikan pengaruh positif terhadap penerapan keuangan berkelanjutan.
Penyuluhan Hukum Pertanahan Masyarakat Babakan Madang Sentul Bogor Agung, Wahyu Dwi; Priatna , Rusdiana; Mustafa, Muhammad Isa
Tamkin Jurnal Pemberdayaan Tazkia Vol. 3 No. 1 (2025): TAMKIN: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Tazkia Islamic University College

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30993/tamkin.v3i1.505

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan hukum pertanahan kepada masyarakat, khusususnya bagi mereka yang berpendidikan rendah atau yang memerlukan informasi tentang hukum dan pengaturan pertanahan melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). PKM direncanakan akan dilaksanakan di beberapa Desa di wilayah kecamatan Babakan Madang kabupaten Bogor, yang dianggap relevan dan paling membutuhkan atas kegiatan ini, setelah dilakukan observasi dan koordinasi dengan para pihak terkait. Kecamatan Babakan madang memiliki 9 Desa, terletak didaerah strategis dan pemandangan alam berupa bukit yang indah, tidak jauh dari Jakarta ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Banyak pembangunan perumahan elit dengan Brand ‘Sentul’ dan usaha dibidang property mengakibatkan kebutuhan tanah semakin tinggi dan tidak jarang memunculkan permasalahan pertanahan. Masyarakat Babakan Madang dihadapkan pada berbagai permasalahan terkait kepemilikan tanah, termasuk pemahaman yang sangat terbatas mengenai hak dan kewajiban hukum pertanahan. Kegiantan ini mengusulkan suatu metode penyuluhan yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait hukum pertanahan dan mempromosikan partisipasi aktif mereka dalam proses hukum tersebut. Metode yang dipergunakan dalam PKM ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang menuntut Partisipasi masyarakat, apparat Desa, Kecamatan, kantor BPN dan pihak-pihak lain yang terkait. Team PKM secara proaktif menyusun langkah- langkah serta berkoordinasi dengan para pihak tersebut diatas. Kegiatan PKM ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman serta wawasan tentang pertanahan, permasalahan , hukum dana pengaturannya. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam literatur mengenai pemberdayaan masyarakat dalam konteks pemahaman hukum pertanahan di Indonesia. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan panduan praktis bagi pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, dan komunitas akademis, dalam perencanaan dan pelaksanaan program serupa di wilayah-wilayah lain.
Analysis of Sharia Maqashid on PKWT in the Job Creation Law Article 18 No. 35 of 2021 Putri, Rahmawati Aulia; Agung, Wahyu Dwi
RechtIdee Vol 20, No 1 (2025): JUNE
Publisher : Trunojoyo Madura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/ri.v20i1.29628

Abstract

This study analyzes the Fixed-Time Work Agreement (PKWT) in the Job Creation Law Article 18 No. 35 of 2021 through the perspective of Maqashid Sharia, focusing on the principles of Hifdzul Mal (property protection) and Hifzun Nafs (life protection). Indonesia's labor regulations were significantly changed by the Job Creation Law, including the removal of restrictions on the field of work that can use the outsourcing system. This change provides flexibility for the business world, but also poses challenges in protecting workers' rights. From Hifdzul Mal's point of view, this policy can improve business efficiency and encourage investment. However, from Hifzun Nafs' perspective, job uncertainty due to PKWT's flexibility has the potential to reduce workers' welfare. This research uses a qualitative method with a sharia maqashid approach that examines laws and regulations related to PKWT and the outsourcing system in the Job Creation Law. The analysis was carried out by examining legal documents, Constitutional Court decisions, and Maqashid Syariah theory to assess the implications of regulations on the welfare of workers and the business world. This research emphasizes the importance of comprehensive follow-up regulations and effective supervision mechanisms so that labor reform in the Job Creation Law can run according to the principles of justice and welfare in Maqashid Sharia.
THE LEGAL STATUS OF DIGITAL GOLD TRADING FROM THE PERSPECTIVES OF CONTEMPORARY FIQH AL-MUʿĀMALAH AND FATWA Mubarok, Royhan Ibnu; Rasyi, Asgaft Asysyad; Agung, Wahyu Dwi
Hikmah: Journal of Islamic Studies Vol 22, No 1 (2026): Hikmah Journal of Islamic Studies (In Proggress)
Publisher : STAI ALHIKMAH Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47466/hikmah.v22i1.389

Abstract

AbstractThis study examines the legal status of digital gold trading from the perspectives of contemporary fiqh al-muʿāmalah and Sharia fatwas. The growth of Islamic fintech has enabled gold transactions through digital platforms, yet it also raises legal concerns regarding ownership, constructive possession (qabḍ ḥukmī), underlying assets, and the avoidance of ribā, gharar, and maysir. This study employs a qualitative normative-juridical and doctrinal approach based on library research. Primary sources include the Qur’an, hadith, classical fiqh literature, DSN-MUI Fatwa No. 77/DSN-MUI/V/2010, and AAOIFI Sharia Standard No. 57, while secondary sources consist of scholarly works on Islamic fintech and digital gold investment. The analysis applies doctrinal legal analysis, content analysis, comparative analysis, and tarjīḥ. The findings show that the permissibility of digital gold trading depends on the clarity of ownership, the existence of verified physical gold, and the validity of qabḍ. Fully allocated gold models may be considered permissible because they provide real asset ownership and valid constructive possession. Unallocated gold accounts remain doubtful due to unclear ownership, while derivative-based gold trading and CFDs are impermissible because they involve speculation, uncertainty, and ribā-related elements. This study argues that digital technology may be accepted in Islamic finance when the substance of the transaction complies with Sharia principles. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji status hukum perdagangan emas digital dari perspektif fiqh al-muʿāmalah kontemporer dan fatwa syariah. Perkembangan fintech syariah telah memungkinkan transaksi emas dilakukan melalui platform digital. Namun, praktik ini juga menimbulkan sejumlah persoalan hukum, terutama terkait kepemilikan, penguasaan secara konstruktif atau qabḍ ḥukmī, keberadaan aset dasar, serta upaya menghindari unsur ribā, gharar, dan maysir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain normatif-yuridis dan doktrinal berbasis studi kepustakaan. Sumber primer yang digunakan meliputi Al-Qur’an, hadis, literatur fiqh klasik, Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010, dan AAOIFI Sharia Standard No. 57. Sementara itu, sumber sekunder terdiri atas karya-karya ilmiah yang membahas fintech syariah dan investasi emas digital. Analisis dilakukan melalui analisis hukum doktrinal, analisis isi, analisis komparatif, dan metode tarjīḥ. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebolehan perdagangan emas digital sangat bergantung pada kejelasan kepemilikan, keberadaan emas fisik yang terverifikasi, dan keabsahan qabḍ. Model emas yang dialokasikan secara penuh dapat dinilai boleh karena memberikan kepemilikan aset yang nyata dan memenuhi unsur qabḍ ḥukmī yang sah. Sebaliknya, akun emas yang tidak dialokasikan masih berada dalam wilayah keraguan karena kepemilikannya tidak jelas. Adapun perdagangan emas berbasis derivatif dan CFD dinilai tidak boleh karena mengandung unsur spekulasi, ketidakpastian, dan unsur yang berkaitan dengan ribā.
Barriers to Sustainable Finance in Islamic Banking: Qualitative Insights from Bank Syariah Indonesia Alifi, Awaliyah; Agung, Wahyu Dwi
MALIA: Journal of Islamic Banking and Finance Vol 10, No 1 (2026): MALIA: Journal of Islamic Banking and Finance
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/malia.v10i1.36023

Abstract

Sustainable reporting aims to promote transparency and accountability, yet a significant implementation gap persists within the Indonesian Islamic banking sector. This study investigates the systemic barriers hindering the growth of sustainable financing at Bank Syariah Indonesia (BSI), where documented proportions decline between 2021 to 2023. Employing a qualitative methodology, the research synthesizes BSI’s annual reports with in-depth interviews from bank executives, entrepreneurs across various scales, sustainable financing expert, and the Financial Services Authority (OJK. The findings reveal three primary obstacles: first, a traditional credit framework within BSI that prioritize immediate profitability over ESG metrics. Second, an advisory regulatory stance by the OJK that lacks tangible fiscal incentives or infrastructure. Third, a misalignment between policy and practice that causes  entrepreneurs to perceive sustainable practises as a financial and administrative burden rather than a strategic advantage. By exposing the disconnect between government regulation and practical application, this study offers novel qualitative insights into the industry’s reality. It proposes targeted recommendations to harmonize the tripartite interest of the state, financial institutions, and the private sectors. Furthermore, the research advocates for integrating environmental protection (hifz al bi’ah ) into Sharia compliance to transition sustainability from a voluntary formality into a strategic pillar of operational stability. Ultimately, these strategies aim to enhance regulatory frameworks and foster innovation, supporting a more responsible and inclusive financial ecosystem aligned with global environmental goals.