Kecamatan Cigedug tercatat sebagai wilayah utama produksi tanaman kentang atlantik di Jawa Barat, terutama dalam lingkup Kabupaten Garut. Untuk memitigasi risiko fluktuasi harga yang sering terjadi dan mengurangi ketidakpastian, kemitraan antara kelompok tani Sebartani dengan PT Indofood telah terjalin. Melalui kemitraan ini, harga jual produk kentang atlantik dapat dijamin, sehingga petani dapat mengurangi risiko penurunan pendapatan. Selain itu, penggunaan bibit berkualitas dari PT Indofood juga dapat mengurangi risiko gagal panen dan investasi modal yang besar. Petani non-mitra cenderung menghadapi tantangan yang lebih besar terkait fluktuasi harga jual, terutama saat memasuki musim panen yang berlimpah. Penggunaan bibit lokal oleh petani non-mitra dapat meningkatkan risiko penurunan hasil panen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap pendapatan dan kelayakan usaha pertanian kentang atlantik bagi petani yang menjalin kemitraan dengan PT Indofood. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai usaha pertanian kentang atlantik dengan pola kemitraan. Analisis mencakup pengeluaran biaya usaha pertanian, termasuk biaya produksi, serta penerimaan dan pendapatan yang diperoleh. Sampel penelitian diambil dengan pendekatan non probability sampling, dengan melibatkan semua kelompok tani Sebartani yang menjalin kemitraan dengan PT Indofood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi untuk satu musim tanam kentang atlantik pada luas lahan satu hektar adalah sebesar Rp. 105.871.657. Namun, pendapatan yang diterima mencapai Rp. 180.000.000, sehingga total keuntungan yang diperoleh petani mitra sebesar Rp. 74.128.343. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa usaha pertanian kentang atlantik bagi petani mitra layak untuk dijalankan, dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan petani non-mitra.