Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Spatiotemporal Analysis of B-Value at Mount Slamet (2014–2023) Ika Maulita; Sugito Sugito; Lusia Silfia Pulo Boli
Jurnal Fisika Flux: Jurnal Ilmiah Fisika FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Vol 21, No 3 (2024): Jurnal Fisika Flux: Jurnal Ilmiah Fisika FMIPA Universitas Lambung Mangkurat
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v21i3.20718

Abstract

This study investigates the spatial and temporal distribution of b-values at Mount Slamet, one of Indonesia’s most active volcanoes, during its eruption activities from 2014 to 2023. The primary objective is to explore how variations in b-values correlate with stress conditions and volcanic activity, providing insights into eruption forecasting. Seismic data were sourced from USGS, BMKG, and local networks and analyzed using ZMAP and MATLAB to calculate b-values, assess magnitude completeness, and perform spatial and temporal analyses. Results reveal notable spatial variability: higher b-values in the northern and northeastern regions indicate lower stress levels, while lower b-values in the southwestern region suggest elevated stress concentrations. These spatial patterns align with geological features, highlighting zones of intense tectonic and magmatic interactions. Temporally, b-values consistently declined before major eruptions in 2017 and 2020, reflecting increased stress and larger seismic events. Post-eruption, b-values rose, indicating stress reduction and stabilization of the volcanic system. These findings underscore the value of b-value monitoring as an effective tool for eruption forecasting. The observed spatial and temporal trends offer critical insights into Mount Slamet’s evolving stress conditions, aiding disaster preparedness and risk mitigation strategies for local communities. The study highlights the importance of continuous seismic monitoring combined with advanced analytical techniques to enhance the predictive capabilities of volcanic hazard assessments. Future research should integrate additional geophysical parameters, refine predictive models, and extend analyses to similar volcanic settings to improve global understanding of volcanic processes and enhance early warning systems.
Interpretasi Kualitatif Data Anomali Magnetik Residual Tereduksi ke Ekuator untuk Analisis Sebaran Rekahan Air Tanah (Studi Kasus: Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas) Sehah Sehah; Abdullah Nur Aziz; Lusia Silfia Pulo Boli; Muhammad Rizki Ariyanto
Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) 2025: Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) 2025
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prosidingsnfa.v0i0.115738

Abstract

Secara geologis Desa Sumbang Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas didominasi oleh endapan lahar dan lava Gunungapi Slamet. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola sebaran rekahan air tanah pada komplek batuan vulkanik berdasarkan data anomali magnetik. Manfaat yang diharapkan adalah diperolehnya sumber air tanah yang melimpah di daerah penelitian untuk mendukung irigasi berbasis air tanah sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan dan pengembangan agrowisata. Akuisisi data magnetik telah dilakukan dengan resolusi spasial sebesar 100 m dan menghasilkan data intensitas magnetik total. Pengolahan data telah dilakukan dengan menerapkan beberapa koreksi dan reduksi sehingga dapat diperoleh data anomali magnetik lokal yang berkisar -3.089,49 – 1.502,98 nT. Untuk mereduksi efek-efek dipol magnetik yang mengganggu interpretasi, maka dilakukan reduksi data ke ekuator terhadap data anomali magnetik lokal. Hasilnya adalah data anomali magnetik dengan nilai berkisar -2.056,54 – 2.264,55 nT. Untuk memetakan sebaran rekahan air tanah pada komplek batuan vulkanik, maka dilakukan perhitungan first horizontal derivative (FHD) terhadap data anomali magnetik lokal tersebut. Gradien yang dihasilkan berkisar 0,24 – 22,72 nT/m. Nilai-nilai gradien horizontal ini cenderung membentuk ridge di atas perubahan magnetisasi yang tiba-tiba. Banyaknya ridge pada peta kontur mengindikasikan keberadaan batas-batas kontak litologi antar batuan bawah permukaan yang dapat diinterpretasi sebagai rekahan air tanah di daerah penelitian.