Anisa Purnamasari
Mandala Waluya University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LITERATUR REVIEW : KUALITAS HIDUP DAN DUKUNGAN PSIKOSOSIAL ANAK DENGAN SINDROM NEFROTIK Lisnawati Lisnawati; Ainun Mardiah; Astriani Patiwael; Suci Ramadani; Dimas Eko Prasetyo; Anisa Purnamasari
FKF Vol 2 No 1 (2025): JHPS. Maret 2025
Publisher : LPPM Universitas Bani Saleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Sindrom nefrotik adalah gangguan pada ginjal yang ditandai dengan peningkatan kadar protein dalam urine akibat kebocoran pada glomerulus, yaitu bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah. Kondisi ini merupakan salah satu penyakit ginjal kronis yang paling sering terjadi pada anak-anak, dengan angka kejadian sekitar 2–7 kasus per 100.000 anak setiap tahun di seluruh dunia. Di Indonesia, sindrom nefrotik paling banyak ditemukan pada anak usia 2–8 tahun, dengan rasio laki-laki dan perempuan sekitar 2:1. Kondisi ini sering menyebabkan pembengkakan tubuh, kelelahan, dan peningkatan risiko infeksi, sehingga memerlukan perawatan jangka panjang.. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kualitas hidup dan dukungan psikososial pada anak dengan sindrom nefrotik. Metode: Pencarian literatur sistematik dilakukan menggunakan ScienceDirect dan PubMed, dengan menerapkan istilah Boolean dan batasan pada artikel full-text yang diterbitkan antara tahun 2021 hingga 2025 untuk mengidentifikasi studi yang relevan. Hasil: Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi dan kata kunci, dengan fokus pada kualitas hidup dan dukungan psikososial pada anak dengan sindrom nefrotik.. Kesimpulan: Kualitas hidup anak dengan sindrom nefrotik dipengaruhi oleh faktor medis, sosial, dan psikologis. Pendekatan holistik yang melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial anak sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan mendukung perkembangan optimal mereka meskipun hidup dengan penyakit kronis
Literatur review : Atresia Duktus Hepatikus pada Anak Lisnawati Lisnawati; Rikmal Jaya; Sarni Sakir; Nurjanna Hamsin; Putri Nadia; Anisa Purnamasari
FKF Vol 2 No 1 (2025): JHPS. Maret 2025
Publisher : LPPM Universitas Bani Saleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penelitian terkait atresia bilier (BA) dan transplantasi hati pediatrik perkembangan kognitif pasca-transplantasi, perubahan mikrobioma usus dan homeostasis asam empedu setelah transplantasi, insiden dan faktor risiko sindrom pascareperfusi (PRS), peran HMGB1 pada sindrom gangguan pernapasan akut pediatrik (PARDS) pasca-LDLT pengalaman psikososial orang tua. Atresia bilier (BA) merupakan penyakit hati obstruktif pediatrik yang progresif dan langka yang membutuhkan intervensi dini. Meskipun terdapat penelitian ekstensif tentang BA, tantangan tetap ada dalam diagnosis dini, prediksi hasil, dan standarisasi manajemen. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dampak LT pada BA, termasuk pengaruhnya terhadap mikrobioma usus, respons psikologis orang tua, efektivitas biaya, dan identifikasi faktor risiko sindrom pascareperfusi (PRS). Metode: penelitian ini menggunakan pendekatan pencarian Literature melalui data Base seperti Pubmed, Google Search, Google Scholar,dan Science Direct dengan mengguanakan Kata Kunci Biliary Atresia, Liver Transplantation, dan Pediatrics. Artikel yang dipilih Adalah artikel yang memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu Artikel Full Text terbitan tahun 2021-2025, dalam Bahasa Inggris atau Indonesia. Hasil pencarian berdasarkan kriteria dan katakunci didapatkkan 10 artikel yang layak untuk di review. Hasil: Penelitian ini menyoroti bahwa LT sebagian memulihkan komposisi mikrobioma usus, meskipun perbedaan komposisi mikroba masih ada 2+ tahun setelah transplantasi. Orang tua mengalami perubahan dinamis dalam pengalaman pascatrauma mereka, dan strategi intervensi yang disesuaikan penting untuk meningkatkan pertumbuhan pascatrauma. Pendaftaran Liver Transplantation (LT) pada skor PELD <15 lebih hemat biaya untuk mencegah kematian. Hipotermia dan waktu iskemia dingin graft merupakan faktor risiko independen untuk PRS. Kesimpulan: LT sebagian memulihkan komposisi mikrobioma usus, dan perubahan keragaman berkorelasi dengan sintesis asam empedu sekunder. Pengalaman orang tua dalam pertumbuhan pascatrauma melibatkan perubahan yang dinamis, dan strategi intervensi yang disesuaikan penting. Pendaftaran LT pada skor PELD yang lebih rendah lebih hemat biaya, dan hipotermia serta waktu iskemia dingin graft merupakan faktor risiko independen untuk PRS. Temuan ini memberikan wawasan penting untuk manajemen BA dan meningkatkan luaran pasien.