Dwi Sri Wahyuningsih
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Pemerintah Dalam Struktur Hubungan Industrial Di Indonesia Studi Kasus : Kebijakan Ketenagakerjaan Dwi Sri Wahyuningsih; Amedia Puspa
Jurnal Ekonomi Manajemen Dan Bisnis (JEMB) Vol. 2 No. 3 (2025): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jemb.v2i3.3873

Abstract

Hubungan industrial bertujuan untuk meningkatkan tingkat produktidf dan kesejahteraan para tenaga dan wirausaha. Dalam melaksanakan struktur hubungan industrial, pemerintah memiliki peranan penting yaitu menetapkan kebijakan, memberikan pelayanan,  melaksanakan pengawasan, melakukan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Penelitian ini akan berfokus kepada peran pemerintah dalam melaksanakan hubungan industrial dengan menetapkan kebijakan ketenagakerjaan kepada para pekerja. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif menggunakan data kuisioner yang diperoleh dari wawancara kepada beberapa pekerja umum seperti pekerja lepas, kontrak, tetap dan pekerja lainnya. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 45 responden. Analisis yang digunakan adalah menggunakan Analisa regresi linear yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran pemerintah dalam struktur hubungan industrial terhadap kebijakan ketenagakerjaan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel peran pemerintah memiliki hubungan atau pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan ketenagakerjaan. Dapat dilihat pada nilai koefisien determinasi antara kedua variabel adalah sebesar 61.3% dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas pada penelitian, sehingga sisa persentase 38.7% dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.
INTEGRASI TEORI PEMBELAJARAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENGETAHUAN DALAM MENGATASI MASALAH INOVASI: ANALISIS KASUS STARTUP TEKNOLOGI FINTECH DOMPET DIGITAL Dwi Sri Wahyuningsih
Jurnal Ekonomi Manajemen Dan Bisnis (JEMB) Vol. 2 No. 6 (2025): Juli
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jemb.v2i6.4959

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi integrasi teori pembelajaran organisasi dan manajemen pengetahuan sebagai solusi terhadap masalah inovasi pada startup fintech dompet digital di Indonesia. Pertumbuhan pesat sektor ini (41,5% pada 2023) dihadapkan pada tantangan mempertahankan keunggulan kompetitif melalui inovasi berkelanjutan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada tiga startup dompet digital terkemuka, penelitian mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan 15 informan kunci, observasi non-partisipan, dan analisis dokumen. Hasil penelitian mengidentifikasi mekanisme kunci dalam akuisisi pengetahuan (pendekatan open innovation), transformasi pengetahuan (kodifikasi sistematis), dan eksploitasi pengetahuan (eksperimentasi terstruktur) yang berkorelasi dengan outcome inovasi yang lebih tinggi. Tantangan utama meliputi silo pengetahuan, tekanan kultur untuk hasil cepat, dan kesulitan mengintegrasikan pengetahuan pelanggan. Penelitian mengusulkan kerangka kerja integratif yang mencakup infrastruktur pengetahuan, proses pembelajaran, dan enablers organisasional sebagai pendekatan holistik untuk meningkatkan kapabilitas inovasi berkelanjutan dalam ekosistem fintech yang dinamis.
Analyzing the Factors Affecting Adolescents' Ability to Provide First Aid for Burns at SMP Muhammadiyah 8 Surakarta sari, Irma Mustika; Erika Dewi Noorratri; Rini Widarti; Hesty Winda Hapsari; Dwi Sri Wahyuningsih
Promotif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 2: DECEMBER 2025 (On Progress)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/promotif.v15i2.8603

Abstract

Introduction: Burns are among the most common types of injuries that occur in daily life, whether at home, school, or in the surrounding environment. The mortality and morbidity rates due to burns in developing countries are estimated to be approximately 11.6 per 100,000 population. These injuries most frequently occur at home, school, or the workplace, with children and adolescents being the most vulnerable groups to burn injuries resulting from daily activities. Objective: This study aims to analyze the factors that most significantly influence adolescents’ ability to provide first aid for burns at Muhammadiyah 8 Junior High School Surakarta. Method: The research design employed was logistic regression. A total of 100 respondents were selected using a purposive sampling technique, and the data were analyzed using logistic regression tests. Results: The majority of respondents were aged 11–14 years (46%), with 54% having a junior high school education. A total of 70 respondents (70%) obtained information from social media or the internet, 44 respondents (47%) had good knowledge, and 73 respondents (73%) had previously experienced burn injuries. In addition, 42 respondents (42%) administered first aid using running water, and 66 respondents (66%) were capable of providing burn first aid. The logistic regression test results showed that the source of information produced a p-value of 0.035 with an OR of 1.929 and a 95% CI of 1.048–3.551, indicating that the source of information was the most influential factor on the ability to perform burn first aid. Conclusion: Adolescents’ ability to perform burn first aid is influenced by several factors, including age, educational level, sources of information, knowledge level, history of burn injuries, and frequency of first aid practices. Among these, the source of information was identified as the most important factor enhancing adolescents’ ability to provide burn first aid. Adolescents with access to reliable sources of information, such as materials developed by healthcare professionals, school modules, or formal education, are more likely to acquire the ability to administer burn first aid earlier compared to those without such access.