Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap Aktivitas dan Identitas Anggota Organisasi Primordial KMIK UIN Jakarta Fikri, Nur Muhammad Fikri; Dede, Muhammad Dede Fachrudin; Lukman, Lukmanul Hakim; Ihsan, Maulana Ihsan; Zicko, Fanzicko Tri rizfyanda; Daffa, Daffa Sulthon
Socio Historica: Journal of Islamic Social History Vol. 2 No. 2 (2023): Vol. 2, No. 2, Desember 2023
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sh.v2i1.39882

Abstract

Penelitian ini menginvestigasi pengaruh lingkungan sosial terhadap aktivitas dan identitas anggota Keluarga Mahasiswa Islam Karawang (KMIK) di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan menerapkan teori habitus Pierre Bourdieu, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana faktor-faktor sosial, seperti nilai-nilai keagamaan dan solidaritas kelompok, membentuk habitus individu dalam konteks kehidupan kampus. Studi ini melibatkan wawancara mendalam dengan anggota KMIK untuk memahami bagaimana pengalaman dalam organisasi tersebut mempengaruhi pembentukan identitas dan aktivitas mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam KMIK tidak hanya memperkaya pengalaman sosial dan keagamaan anggotanya tetapi juga berpartisipasi dalam transformasi kebiasaan yang memengaruhi cara mereka berpikir, merasa, dan bertindak dalam konteks sosial yang lebih luas. KMIK, sebagai organisasi primordial, menempatkan nilai-nilai keislaman sebagai pilar utama dalam membentuk identitas kolektif anggotanya. Partisipasi dalam kegiatan keagamaan, seperti pengajian dan dzikir bersama, menjadi wadah bagi anggota untuk memperkuat keimanan mereka sambil membangun jaringan solidaritas dalam lingkungan kampus yang heterogen. Dalam analisis teori habitus Pierre Bourdieu, ditemukan bahwa habitus individu dalam KMIK terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai, norma, dan praktik sosial yang mereka pelajari dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini tidak hanya membentuk identitas anggota sebagai bagian dari komunitas primordial tetapi juga membuka ruang untuk mentransformasikan kebiasaan melalui interaksi dengan anggota lain dan struktur organisasi. Kajian ini juga mengungkap dinamika interaksi sosial di KMIK yang memainkan peran penting dalam membentuk budaya organisasi. Diskusi kelompok, acara budaya, dan kegiatan sosial lainnya tidak hanya menjadi wadah untuk pertukaran ide dan pengalaman tetapi juga untuk memperluas wawasan anggota tentang pluralitas keislaman dan identitas budaya Karawang. Keterlibatan dalam KMIK juga memiliki esensi yang signifikan terhadap perkembangan pribadi anggota. Melalui tanggung jawab organisasi, seperti menjadi ketua atau anggota panitia acara, anggota mengembangkan keterampilan kepemimpinan, manajemen waktu, dan komunikasi yang penting untuk pengembangan karir akademis dan profesional mereka di masa mendatang. Tantangan juga dihadapi dalam lingkungan kampus yang dinamis, termasuk tekanan akademis dan konflik pribadi. Namun, nilai-nilai solidaritas dan dukungan kolektif dari sesama anggota KMIK membantu mereka mengatasi tantangan ini dengan lebih baik dan mempertahankan keterlibatan aktif dalam kegiatan organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pemahaman tentang peran organisasi primordial dalam membentuk identitas dan aktivitas mahasiswa di perguruan tinggi.Implikasi penelitian ini bagi pengelola kampus dan pengambil kebijakan adalah pentingnya mendukung dan memfasilitasi organisasi peserta didik sebagai agen pembentuk kebiasaan dan pengembang identitas yang positif bagi peserta didik. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa lingkungan sosial, melalui interaksi dalam organisasi primordial seperti KMIK, memainkan peran penting dalam membentuk aktivitas dan identitas siswa. Dengan menggunakan pendekatan teori habitus, penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana nilai-nilai keagamaan, solidaritas kelompok, dan interaksi sosial membentuk habitus individu dan kolektif dalam konteks kehidupan kampus yang beragam dan kompleks.
REKONSTRUKSI PARADIGMA ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN NASIONAL MENUJU INDONESIA EMAS: Rekonstruksi Paradigma Analisis Ekonomi Pembangunan Hukum Bagi Umkm Dalam Rangka Peningkatan Perekonomian Menuju Indonesia Emas Lukman, Lukmanul Hakim; Ritonga , Rifandy; Kaplele, Farida
LITIGASI Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/litigasi.v26i2.23149

Abstract

Several regulations related to Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) have brought about significant changes in accelerating business growth. The greatest impact has been felt, particularly by micro-enterprises, which were previously considered a less influential sector, but have now proven to contribute significantly to strengthening the real sector. Regulatory changes have also created a new paradigm for micro-enterprises. This is evident in the change in capital requirements, from Rp 50 million to Rp 1 billion. This change reflects a shift in perspective, emphasizing that micro-enterprises are no longer merely informal sectors but can develop into reliable, leading businesses. This phenomenon has become even more evident since the Covid-19 pandemic, when the micro-enterprise sector has proven to be a key pillar of national economic recovery. This development confirms the resilience and strategic role of micro-enterprises in maintaining economic stability. Therefore, reconstructing the legal development paradigm is crucial. This paradigm serves not only as a regulatory instrument but also as a fundamental foundation that shapes the perspectives, mindsets, and actions of micro-entrepreneurs. With supportive and progressive legal support, micro-enterprises are expected to rise to the top, become leading businesses, and make a significant contribution to realizing the vision of Golden Indonesia 2045.