Data International Diabetes Federation (IDF) 2021 memerkirakan populasi diabetes di Indonesia sebanyak 19.465.100 orang yang berusia antara 20-79 tahun. Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018 menyebutkan bahwa prevalensi diabetes melitus di Derah Istimewa Yogyakarta (DIY) melebihi angka nasional yaitu sebesar 4,5% dengan data nasional 2,4%. Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang cukup serius serta dapat menyebabkan berbagai efek negatif seperti jatuh, gejala depresi, gangguan kualitas hidup, dan keterbatasan aktivitas. HbA1c dapat memprediksi potensi risiko perkembangan dan munculnya komplikasi pada diabetes. Pasien dengan tingkat HbA1c di atas 7% akan memiliki risiko komplikasi yang meningkat sebanyak dua kali lipat. Penelitian ini merupakan observasional deskriptif analitik dengan metode cross-sectional. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 79 pasien diabetes melitus di RS PKU Muhammadiyah Gamping yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Analisis data menggunakan uji univariat dan bivariat uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 57 dari 79 subjek memiliki kadar HbA1c yang tidak terkontrol dan mengalami neuropati. Hasil uji bivariat hubungan antara kadar HbA1c dengan neuropati pada pasien diabetes melitus menghasilkan nilai p 0,001 (p < 0,05) dan nilai r 0,685. Terdapat hubungan signifikan kuat antara kadar HbA1c dengan neuropati pada pasien diabetes melitus.