Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Tumor Cerebellopontine Angle Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i2.1897

Abstract

For about 85% of tumors in the region of the cerebellopontine angle is acoustic neuroma, 10% are meningiomas and 5% are epidermoid tumor. An acoustic neuroma is a benign tumour that develops in the acoustic or auditory nerve. The acoustic neuroma starts from schwann cells which cover the acoustic nerve and is sometimes therefore called a schwannoma.Hearing loss is the most frequent symptom. Vertigo or spinning occurs in about 20 percent of persons with acoustic neuroma. Early diagnose by signs and symptoms detection is very important in acoustic neuroma treatment. Unfortunately, misdiagnose becomes the problem in this step. The optimal test for excluding an acoustic neuroma is MRI. If an MRI cannot be done, CT scan should be obtained.About more than a half of all acoustic neuromas are presently treated with surgery. The recurrence rate of the tumor is about 3% after surgery. Overall, the risk of death from acoustic neuroma surgery is about 0.5 to 2 percent. Unexpected post-operative complications occur in roughly 20percent with more complications occurring in elderly and infirm individuals and those with large tumors. Surgical treatment where the brain is exposed is nearly always performed by a team of surgeons, usually including a neurologist, a neurosurgeon and an anesthesiolgist. Pathology anatomist is needed to make definitif diagnose.Sekitar 85% tumor yang tumbuh di daerah sudut serebelo pontin adalah neuroma akustik, sekitar 10% adalah meningioma dan sekitar 5% adalah tumor epidermoid. Neuroma akustik adalah tumor jinak yang tumbuh pada nervus akustikus, yang berasal dari sel schwann yang meliputi nervus akustikus sehingga disebut juga schwanoma.Gangguan pendengaran merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Vertigo atau rasa berputar dirasakan pada sekitar 20% penderita. Diagnosa dini melalui pengenalan tanda dan gejala sangat penting dalam penatalaksanaan neuroma akustik. Sayangnya, hal ini seringkah terabaikan atau teijadi misdiagnosis. Pemeriksaan yang optimal adalah menggunakan MRI, namun jika hal itu tidak bisa dilakukan maka CT scan sebaiknya dilakukan.Sekitar lebih dari setengah kasus neuroma akustik diterapi melalui pembedahan. Angka kekambuhan setelah pembedahan sekitar 3%. Risiko kematian saat operasi sekitar 0,5 - 2%. Komplikasi setelah operasi muncul pada sekitar 20% penderita, yang paling banyak pada penderita usia dewasa serta pada tumor yang besar. Terapi pembedahan pada otak melibatkan tim yang terdiri dari dokter ahli saraf, bedah saraf dan ahli anestesi. Ahli patologi anatomi berperan dalam menentukan diagnosa pasti.
Hubungan antara Status Ekonomi, Status Pendidikan dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesadaran Adanya Demensia dalam Keluarga Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1560

Abstract

Dementia in the elderly are often not realized because the onset is not clear and progressive history of their illness but slowly. Patients and families often assume that the decline in cognitive function that occurred in early dementia is a natural thing. Overall status of economic, education andfamily harmony allegedly had a role to knowledge of the incidence of dementia on family members. The study aims to determine the relationship between economic status, education andfamily harmony to the knowledge of the incidence of dementia on family members. This study used cross sectional method. Research subjects were 51 elderly people, one of whom were excluded because of severe hearing loss, making it hard communication time of the study. The method of guided interviews undertaken to obtain the status of education and economic status. APGAR Score is used to determine the level of family harmony and the MMSE (score minimental examination) are used to diagnose dementia. Chi squares analysis used to determine the relationship between variables. The results showed a significant correlation between educational status of the family with awareness of dementia in the family (p = 0.007). APGAR economic status andfamily values are not significantly related to awareness of dementia in the family, with a value of p in sequence are 0.427 and 0.231.Demensia pada usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya tidak j elas dan perjalanan penyakitnya progresif namun perlahan. Pasien dan keluarga sering menganggap bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia merupakan hal yang wajar. Status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga diduga mempunyai peran terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia pada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia terhadap anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 51 orang lansia, satu diantaranya dieksklusi karena adanya gangguan pendengaran yang berat sehingga menyulitkan komunikasi saat dilakukan penelitian. Metode wawancara terpimpin dilakukan untuk mendapatkan data status pendidikan dan status ekonomi. Nilai APGAR digunakan untuk menentukan tingkat keharmonisan keluarga dan MMSE (minimentalscore examination) digunakan untuk menegakkan diagnosis demensia. Analisis chi squares digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status pendidikan keluarga dengan kesadaran adanya demensia dalam keluarga (p=0,007). Status ekonomi dan nilai APGAR keluarga tidak berhubungan yang bermakna kesadaran adanya demensia dalam keluarga, dengan nilai p secara berurutan adalah 0,427 dan 0,231.
Pengaruh Olahraga Terhadap Derajat Nyeri Dismenorea pada Wanita Belum Menikah Cahyaningtias, Putri Leilina; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1665

Abstract

Dysmenorrhea is a menstrual disorder that usually happens on the age between 15-45 years old. In Surabaya was found 1.07-1.31% and in United State estimtedly that more than 140 million work hour has lost every year because of dysmenorrhea, and also lost of job opportunity until 10-15%. This research was done to know the influence of exercise to the degree of dysmenorrhea pain on the premarietal woman. This research is an analytic observation with cross sectional approach. The population is 107people, all menses woman with or without dysmenorrhea. Every sample divide into 2 groups, exercise and nonexercise groups based on Visual Analogue Scale (VAS). This is the pain divide into no pain, mild pain, moderate pain and severe pain. The people of this research were done in the 3 places: Medical Faculty of UMY, Max Gym and Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. This research was done in 6 months, during June - December 2008. Statistic test result with Mann-Whitney and Wilcoxon Signed Rank test shown the decreasing degree of dysmenorrhea pain significantly, the woman that doesn ’t do exercise feel more pain than the woman that do exercise and after do exercise the degree of pain on the woman that doesn ’t do exercise before has decreasing significantly withp value = 0.001 ( 0.05). This research shown that exercise give the effect to decreasing degree of dysmenorrhea pain on the woman dysmenorrhea. This effect can be obtain by doing regular exercise.Dismenorea merupakan gangguan mentruasi yang sering terjadi pada usia 15-45 tahun. Di Surabaya dijumpai sebesar 1,07%-1,31% dan Di Amerika Serikat diperkirakan bahwa lebih dari 140 juta jam kerja hilang tiap tahunnya karena dismenorea, dan juga kehilangan kesempatan kerja hingga 10-15%. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh aktifitas olahraga tehadap derajat nyeri dismenorhea pada wanita belum menikah. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Populasinya adalah semua wanita menstruasi dengan atau tanpa dismenorea sejumlah 107 tiap sampelnya yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang melakukan olahraga dan kelompok yang tidak melakukan olahraga dinilai berdasarkan skala analog visual, dimana nyeri di bedakan menjadi tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat. Tempat penelitian di lakukan di 3 tempat yaitu Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Max Gym, dan Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 6 bulan yaitu pada bulan juni sampai dengan Desember 2008. Hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test menunjukkan penurunan derajat nyeri yang signifikan dimana pada wanita yang tidak melakukan olahraga mengalami nyeri yang lebih hebat dari pada yang olahraga, dan setelah melakukan olahraga derajat nyeri pada wanita yang tadinya tidak melakukan olahraga mengalami penurunan yang sangat signifikan dengan nilai p= 0,001 (0,05). Penelitian ini menjukkan bahwa olahraga memberikan efek berupa menurunnya derajat nyeri pada wanita yang mengalami dismenorhea. Efek ini didapatkan dengan melakukan olahraga secara teratur.
Pengaruh Olahraga Terhadap Derajat Nyeri Dismenorea pada Wanita Belum Menikah Cahyaningtias, Putri Leilina; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1665

Abstract

Dysmenorrhea is a menstrual disorder that usually happens on the age between 15-45 years old. In Surabaya was found 1.07-1.31% and in United State estimtedly that more than 140 million work hour has lost every year because of dysmenorrhea, and also lost of job opportunity until 10-15%. This research was done to know the influence of exercise to the degree of dysmenorrhea pain on the premarietal woman. This research is an analytic observation with cross sectional approach. The population is 107people, all menses woman with or without dysmenorrhea. Every sample divide into 2 groups, exercise and nonexercise groups based on Visual Analogue Scale (VAS). This is the pain divide into no pain, mild pain, moderate pain and severe pain. The people of this research were done in the 3 places: Medical Faculty of UMY, Max Gym and Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. This research was done in 6 months, during June - December 2008. Statistic test result with Mann-Whitney and Wilcoxon Signed Rank test shown the decreasing degree of dysmenorrhea pain significantly, the woman that doesn ’t do exercise feel more pain than the woman that do exercise and after do exercise the degree of pain on the woman that doesn ’t do exercise before has decreasing significantly withp value = 0.001 (0.05). This research shown that exercise give the effect to decreasing degree of dysmenorrhea pain on the woman dysmenorrhea. This effect can be obtain by doing regular exercise.Dismenorea merupakan gangguan mentruasi yang sering terjadi pada usia 15-45 tahun. Di Surabaya dijumpai sebesar 1,07%-1,31% dan Di Amerika Serikat diperkirakan bahwa lebih dari 140 juta jam kerja hilang tiap tahunnya karena dismenorea, dan juga kehilangan kesempatan kerja hingga 10-15%. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh aktifitas olahraga tehadap derajat nyeri dismenorhea pada wanita belum menikah. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Populasinya adalah semua wanita menstruasi dengan atau tanpa dismenorea sejumlah 107 tiap sampelnya yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang melakukan olahraga dan kelompok yang tidak melakukan olahraga dinilai berdasarkan skala analog visual, dimana nyeri di bedakan menjadi tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat. Tempat penelitian di lakukan di 3 tempat yaitu Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Max Gym, dan Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 6 bulan yaitu pada bulan juni sampai dengan Desember 2008. Hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test menunjukkan penurunan derajat nyeri yang signifikan dimana pada wanita yang tidak melakukan olahraga mengalami nyeri yang lebih hebat dari pada yang olahraga, dan setelah melakukan olahraga derajat nyeri pada wanita yang tadinya tidak melakukan olahraga mengalami penurunan yang sangat signifikan dengan nilai p= 0,001 (0,05). Penelitian ini menjukkan bahwa olahraga memberikan efek berupa menurunnya derajat nyeri pada wanita yang mengalami dismenorhea. Efek ini didapatkan dengan melakukan olahraga secara teratur.
Meningioma Wahyuliati, Tri; Dahlan, Pernodjo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1869

Abstract

Tumor yang tumbuh didalam rongga kepala atau tumor intra kranial, dapat berasal dari tulang tengkorak, selaput otak atau meninges, nervus cranialis, pembuluh darah, glandula pituitari atau parenkim otak itu sendiri. Angka insidensi tumor intra kranial pada penderita dari semua golongan umur mencapai sekitar 4,2 - 5,4 /100,0002 Tumor intra kranial bisa bermanifestasi dalam berbagai variasi, dari keluhan minimal yang tidak khas sampai pada keluhan berat atau ditemukannya tanda abnormalitas yang berat seperti kelemahan atau kejang. Berbagai manifestasi tersebut yang berupa tanda dan gejala, berhubungan dengan lokasi tumor. Meskipun secara umum tidak ada kelompok gejala yang patognomonik untuk tumor intra kranial.Tanda trias yang khas untuk tumor intra kranial meliputi nyeri kepala, mutah proyektil dan papil edema yang bermanifestasi pada keluhan pandangan kabur yang dirasakan penderita. Hal itu terutama disebabkan karena adanya obstruksi saluran cairan serebrospinal oleh desakan masa tumor. Trias tersebut terutama muncul paling sering pada anak - anak. Pemeriksaan Ct scan dan MRI kepala merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat membantu dan handal dalam menegakkan diagnosa tumor otak. Diagnosa pasti tumor otak, seperti halnya tumor dari organ atau jaringan lain adalah dengan biopsi.
PROFIL FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN PADA NYERI KEPALA PRIMER Wahyuliati, Tri; Ardiyanto, Rizky
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v10i3.1135

Abstract

Headache is a common patient complaint in the world with prevalence in the adult population is 50%. Headache can be divided into two types based on their causes. They are primary headaches and secondary headaches. The examples of primary headaches are migraine, Tension Type Headaches (TTH), and cluster headaches. The background indicates that this research needs to be carried out to determine the profile of risk factors associated with primary headache. An analytic observational study with a cross-sectional design conducted at the Temanggung Hospital. The subjects of this study were patients at the neuro polyclinic for the period 1 September 2019 to 30 September 2021, with a total of 88 subjects. The data were analyzed using the chi-square test. The distribution of primary headaches was migraine (19.3%), TTH (64.1%), and cluster headaches (15.9%). The results of Chi-square test between risk factors and primary headache found that age (p = 0.02), gender (p = 0.816), BMI (p = 0.223), smoking history (p = 0.166) family history with headache (p = 0.035), and stress (p = 0.022). Age, family history with headache, and stress have relationship with primary headache, while gender, BMI, and smoking history haven’t relationship with primary headache.
Correlation Between Blood Pressure at Emergency Room and Mortality in Acute Non-Hemorrhagic Stroke Azzahra, Puteri Aulia; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 24, No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v24i2.21140

Abstract

According to data from the World Stroke Organization (WSO), the annual incidence of stroke is around 13.7 million new cases, with an estimated 5.5 million deaths among those impacted. Stroke caused by complications of hypertension causes 51% of the 9.4 million deaths worldwide. The neurological severity of stroke patients is associated with a decrease in systolic blood pressure of 10 mmHg for every value below 150 mmHg. The purpose of this study is to examine the correlation between blood pressure levels and mortality in acute non-hemorrhagic stroke patients. This study uses cross-sectional research methods to conduct observational research. The study included a total of 60 patients with acute non-hemorrhagic strokes who were admitted to PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. The patients were all over the age of 50 and met the specified inclusion and exclusion criteria. Data analysis using univariate tests and Spearman's bivariate tests. The results showed that there is no significant correlation between blood pressure at hospital admission and mortality in non-hemorrhagic stroke patients, as evidenced by a p-value of 0.5. The conclusion is that there is no meaningful correlation between blood pressure on admission to the hospital and mortality in patients with acute non-hemorrhagic strokes.
Hubungan Hipertensi dengan Kejadian Vertigo di RS PKU Muhammadiyah Gamping Ersandra, Fatih Husnaa; Wahyuliati, Tri
Health Research Journal of Indonesia Vol 3 No 2 (2024): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v3i2.502

Abstract

Data Kemenkes RI 2021 menyebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia sudah mencapai angka 34,1%. Hipertensi meningkatkan risiko aterosklerosis yaitu terjadinya penyempitan pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan penurunan perfusi oksigen di sistem vestibular sentral maupun perifer sehingga seseorang bisa mengalami sensasi berputar dan kehilangan keseimbangan yang disebut vertigo.
EFEKTIVITAS PELATIHAN 3S (SDKI, SLKI, SIKI) PADA PERAWAT PELAKSANA TERHADAP KESESUAIAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RS X JAKARTA DAN BOGOR Wahyuliati, Tri; Novita, Regina Vidya Trias; Supardi, Sudibyo
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i2.579

Abstract

ABSTRAKPendokumentasian asuhan keperawatan menggunakan 3S, yaitu SDKI, SLKI, dan SIKI yang baik dan benar merupakan syarat medico-legal yang sangat penting dalam praktik keperawatan yang aman, etis, dan efektif. Namun, implementasi dokumentasi keperawatan yang belum sesuai dengan standar 3S masih banyak ditemukan. Tujuan penelitian: mengetahui efektivitas pelatihan 3S terhadap peningkatan pendokumentasian asuhan keperawatan. Metode: quasi experimental two groups pretest posttest with control. Responden dipilih menggunakan consecutive sampling dan kriteria inklusi untuk merekrut 33 partisipan intervensi dan 28 kontrol. Kuesioner dan tools audit asuhan keperawatan digunakan untuk mengumpulkan data. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Terdapat efektivitas pelatihan 3S (p = 0,000) terhadap peningkatan kesesuaian pendokumentasian asuhan keperawatan secara statistik bermakna. Pelatihan asuhan keperawatan 3S berpengaruh signifikan terhadap pemberian asuhan keperawatan sesuai dengan standar 3S. Setelah pelatihan 3S, perawat yang berpendidikan nersmempunyai kemungkinan tiga kali kesesuaian pendokumentasian meningkat dibandingkan dengan D-3 keperawatan, dikontrol variabel masa kerja. Perawat yang mempunyai masa kerja lima tahun atau lebih mempunyai kemungkinan tujuh kali kesesuaian pendokumentasian meningkatdibandingkan dengan masa kerja kurang dari lima tahun, dikontrol variabel pendidikan. Diskusi: Terdapat peningkatan yang signifikan perihal kesesuaian pendokumentasian asuhan keperawatan pada kelompok intervensi yang diberikan pelatihan 3S karena pelatihan yang diberikan dengan metode ceramah, studi kasus, dan simulasi dapat dipahami oleh responden. Kesimpulan: Pelatihan 3S secara signifikan meningkatkan kemampuan perawat dalam dokumentasi. Monitoring dan evaluasi dengan audit asuhan keperawatan dan hasil capaian dijadikan salah satu key performance indicator. Rumah sakit diharapkan menyelenggarakan pelatihan secara berkala yang diikuti oleh semua perawat.  Kata Kunci: dokumentasi, layanan keperawatan, pelatihan, SDKI, SLKI, SIKI Effectiveness of 3S Training (SDKI, SLKI, SIKI) for Nurses on the Comformity of Nursing Care Documentation at Hospital X Jakarta ABSTRACTDocumentation of nursing care using 3S, namely SDKI, SLKI and SIKI, is a medico-legal requirement that is very important in safe, ethical and effective nursing practice, electronically. However, the implementation of nursing documentation that is not in accordance with the 3S standard is still widely found. Objective: To determine the effectiveness of 3S training on improving nursing care documentation. Methods: Quasi-experimental two group pretest posttest with control. Consecutive sampling and inclusion criteria were used to recruit 33 intervention participants and 28 control participants. Questionnaires and nursing care audit tools were used to collect data. Data were analyzed univariately, bivariately, and multivariately. The results: The effectiveness of 3S training (p=0.000) on improving the appropriateness of nursing care documentation was statistically significant. 3S nursing care training has a significant effect on the provision of nursing care in accordance with the 3S standard. The training carried out is effective in increasing nurses' knowledge of nursing care documentation using 3S. After the 3S training, nurses with an ners education were 3 times more likely to improve the appropriateness of nursing care documentation compared to those with a D-3 nursing, controlling for tenure. Nurses with 5 or more years of service were 7 times more likely to improve the appropriateness of nursing care documentation than those with less than 5 years, controlling for education. Discussion: There was a significant increase in the suitability of nursing care documentation in the intervention group given 3S training because the training provided using lecture methods, case studies and simulations could be understood by respondents. The control group that was not given the intervention did not have a significant increase in the suitability of nursing care documentation. Recomendation: The hospital should conduct 3S training for all nurses gradually, both new nurses andnurses who have been working for a long time. The nursing committees are expected to carry out monitoring and evaluation by auditing nursing care and making the results as one of the key performance indicators. Keywords: documentation; nursing service, training; SDKI, SLKI, SIKI
Anxiety as a risk factor of tension type headache Wahyuliati, Tri; Afifudin, Lutfi
Science Midwifery Vol 12 No 4 (2024): October: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i4.1716

Abstract

Tension-type headache is a primary headache frequently encountered by young individuals. Anxiety is a contributing factor to tension-type headaches. A rigorous curriculum and schedule, transfers within the educational system, competitive academic performance, and similar factors induce anxiety among medical students. This study aims to assess the impact of anxiety on tension-type headaches. We conducted a cross-sectional study that included 73 medical students who were preparing for the Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Data was collected about 2-5 days before the OSCE at the final tutorial. Anxiety is assessed using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). At the same time, tension-type headaches are identified via the ICHD III criteria. A total of 73 individuals exhibiting anxiety were examined. Specifically, mild anxiety was observed in 13 participants (17.8%), moderate anxiety in 7 subjects (9.6%), severe anxiety in 21 subjects (28.8%), and highly severe anxiety in 32 subjects (43.8%). Among the 73 participants, 26 (35.6%) suffered tension-type headaches, while 47 (64.4%) did not. The Spearman Rank test revealed a correlation coefficient of r = 0.263 and a p-value of 0.025 (<0.05), indicating a weak yet significant association. Anxiety exhibits a weak yet substantial link with the occurrence of tension-type headaches.