Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Tumor Cerebellopontine Angle Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i2.1897

Abstract

For about 85% of tumors in the region of the cerebellopontine angle is acoustic neuroma, 10% are meningiomas and 5% are epidermoid tumor. An acoustic neuroma is a benign tumour that develops in the acoustic or auditory nerve. The acoustic neuroma starts from schwann cells which cover the acoustic nerve and is sometimes therefore called a schwannoma.Hearing loss is the most frequent symptom. Vertigo or spinning occurs in about 20 percent of persons with acoustic neuroma. Early diagnose by signs and symptoms detection is very important in acoustic neuroma treatment. Unfortunately, misdiagnose becomes the problem in this step. The optimal test for excluding an acoustic neuroma is MRI. If an MRI cannot be done, CT scan should be obtained.About more than a half of all acoustic neuromas are presently treated with surgery. The recurrence rate of the tumor is about 3% after surgery. Overall, the risk of death from acoustic neuroma surgery is about 0.5 to 2 percent. Unexpected post-operative complications occur in roughly 20percent with more complications occurring in elderly and infirm individuals and those with large tumors. Surgical treatment where the brain is exposed is nearly always performed by a team of surgeons, usually including a neurologist, a neurosurgeon and an anesthesiolgist. Pathology anatomist is needed to make definitif diagnose.Sekitar 85% tumor yang tumbuh di daerah sudut serebelo pontin adalah neuroma akustik, sekitar 10% adalah meningioma dan sekitar 5% adalah tumor epidermoid. Neuroma akustik adalah tumor jinak yang tumbuh pada nervus akustikus, yang berasal dari sel schwann yang meliputi nervus akustikus sehingga disebut juga schwanoma.Gangguan pendengaran merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Vertigo atau rasa berputar dirasakan pada sekitar 20% penderita. Diagnosa dini melalui pengenalan tanda dan gejala sangat penting dalam penatalaksanaan neuroma akustik. Sayangnya, hal ini seringkah terabaikan atau teijadi misdiagnosis. Pemeriksaan yang optimal adalah menggunakan MRI, namun jika hal itu tidak bisa dilakukan maka CT scan sebaiknya dilakukan.Sekitar lebih dari setengah kasus neuroma akustik diterapi melalui pembedahan. Angka kekambuhan setelah pembedahan sekitar 3%. Risiko kematian saat operasi sekitar 0,5 - 2%. Komplikasi setelah operasi muncul pada sekitar 20% penderita, yang paling banyak pada penderita usia dewasa serta pada tumor yang besar. Terapi pembedahan pada otak melibatkan tim yang terdiri dari dokter ahli saraf, bedah saraf dan ahli anestesi. Ahli patologi anatomi berperan dalam menentukan diagnosa pasti.
Hubungan antara Status Ekonomi, Status Pendidikan dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesadaran Adanya Demensia dalam Keluarga Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1560

Abstract

Dementia in the elderly are often not realized because the onset is not clear and progressive history of their illness but slowly. Patients and families often assume that the decline in cognitive function that occurred in early dementia is a natural thing. Overall status of economic, education andfamily harmony allegedly had a role to knowledge of the incidence of dementia on family members. The study aims to determine the relationship between economic status, education andfamily harmony to the knowledge of the incidence of dementia on family members. This study used cross sectional method. Research subjects were 51 elderly people, one of whom were excluded because of severe hearing loss, making it hard communication time of the study. The method of guided interviews undertaken to obtain the status of education and economic status. APGAR Score is used to determine the level of family harmony and the MMSE (score minimental examination) are used to diagnose dementia. Chi squares analysis used to determine the relationship between variables. The results showed a significant correlation between educational status of the family with awareness of dementia in the family (p = 0.007). APGAR economic status andfamily values are not significantly related to awareness of dementia in the family, with a value of p in sequence are 0.427 and 0.231.Demensia pada usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya tidak j elas dan perjalanan penyakitnya progresif namun perlahan. Pasien dan keluarga sering menganggap bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia merupakan hal yang wajar. Status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga diduga mempunyai peran terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia pada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia terhadap anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 51 orang lansia, satu diantaranya dieksklusi karena adanya gangguan pendengaran yang berat sehingga menyulitkan komunikasi saat dilakukan penelitian. Metode wawancara terpimpin dilakukan untuk mendapatkan data status pendidikan dan status ekonomi. Nilai APGAR digunakan untuk menentukan tingkat keharmonisan keluarga dan MMSE (minimentalscore examination) digunakan untuk menegakkan diagnosis demensia. Analisis chi squares digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status pendidikan keluarga dengan kesadaran adanya demensia dalam keluarga (p=0,007). Status ekonomi dan nilai APGAR keluarga tidak berhubungan yang bermakna kesadaran adanya demensia dalam keluarga, dengan nilai p secara berurutan adalah 0,427 dan 0,231.
Pengaruh Olahraga Terhadap Derajat Nyeri Dismenorea pada Wanita Belum Menikah Cahyaningtias, Putri Leilina; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1665

Abstract

Dysmenorrhea is a menstrual disorder that usually happens on the age between 15-45 years old. In Surabaya was found 1.07-1.31% and in United State estimtedly that more than 140 million work hour has lost every year because of dysmenorrhea, and also lost of job opportunity until 10-15%. This research was done to know the influence of exercise to the degree of dysmenorrhea pain on the premarietal woman. This research is an analytic observation with cross sectional approach. The population is 107people, all menses woman with or without dysmenorrhea. Every sample divide into 2 groups, exercise and nonexercise groups based on Visual Analogue Scale (VAS). This is the pain divide into no pain, mild pain, moderate pain and severe pain. The people of this research were done in the 3 places: Medical Faculty of UMY, Max Gym and Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. This research was done in 6 months, during June - December 2008. Statistic test result with Mann-Whitney and Wilcoxon Signed Rank test shown the decreasing degree of dysmenorrhea pain significantly, the woman that doesn ’t do exercise feel more pain than the woman that do exercise and after do exercise the degree of pain on the woman that doesn ’t do exercise before has decreasing significantly withp value = 0.001 ( 0.05). This research shown that exercise give the effect to decreasing degree of dysmenorrhea pain on the woman dysmenorrhea. This effect can be obtain by doing regular exercise.Dismenorea merupakan gangguan mentruasi yang sering terjadi pada usia 15-45 tahun. Di Surabaya dijumpai sebesar 1,07%-1,31% dan Di Amerika Serikat diperkirakan bahwa lebih dari 140 juta jam kerja hilang tiap tahunnya karena dismenorea, dan juga kehilangan kesempatan kerja hingga 10-15%. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh aktifitas olahraga tehadap derajat nyeri dismenorhea pada wanita belum menikah. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Populasinya adalah semua wanita menstruasi dengan atau tanpa dismenorea sejumlah 107 tiap sampelnya yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang melakukan olahraga dan kelompok yang tidak melakukan olahraga dinilai berdasarkan skala analog visual, dimana nyeri di bedakan menjadi tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat. Tempat penelitian di lakukan di 3 tempat yaitu Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Max Gym, dan Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 6 bulan yaitu pada bulan juni sampai dengan Desember 2008. Hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test menunjukkan penurunan derajat nyeri yang signifikan dimana pada wanita yang tidak melakukan olahraga mengalami nyeri yang lebih hebat dari pada yang olahraga, dan setelah melakukan olahraga derajat nyeri pada wanita yang tadinya tidak melakukan olahraga mengalami penurunan yang sangat signifikan dengan nilai p= 0,001 (0,05). Penelitian ini menjukkan bahwa olahraga memberikan efek berupa menurunnya derajat nyeri pada wanita yang mengalami dismenorhea. Efek ini didapatkan dengan melakukan olahraga secara teratur.
Pengaruh Olahraga Terhadap Derajat Nyeri Dismenorea pada Wanita Belum Menikah Cahyaningtias, Putri Leilina; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1665

Abstract

Dysmenorrhea is a menstrual disorder that usually happens on the age between 15-45 years old. In Surabaya was found 1.07-1.31% and in United State estimtedly that more than 140 million work hour has lost every year because of dysmenorrhea, and also lost of job opportunity until 10-15%. This research was done to know the influence of exercise to the degree of dysmenorrhea pain on the premarietal woman. This research is an analytic observation with cross sectional approach. The population is 107people, all menses woman with or without dysmenorrhea. Every sample divide into 2 groups, exercise and nonexercise groups based on Visual Analogue Scale (VAS). This is the pain divide into no pain, mild pain, moderate pain and severe pain. The people of this research were done in the 3 places: Medical Faculty of UMY, Max Gym and Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. This research was done in 6 months, during June - December 2008. Statistic test result with Mann-Whitney and Wilcoxon Signed Rank test shown the decreasing degree of dysmenorrhea pain significantly, the woman that doesn ’t do exercise feel more pain than the woman that do exercise and after do exercise the degree of pain on the woman that doesn ’t do exercise before has decreasing significantly withp value = 0.001 (0.05). This research shown that exercise give the effect to decreasing degree of dysmenorrhea pain on the woman dysmenorrhea. This effect can be obtain by doing regular exercise.Dismenorea merupakan gangguan mentruasi yang sering terjadi pada usia 15-45 tahun. Di Surabaya dijumpai sebesar 1,07%-1,31% dan Di Amerika Serikat diperkirakan bahwa lebih dari 140 juta jam kerja hilang tiap tahunnya karena dismenorea, dan juga kehilangan kesempatan kerja hingga 10-15%. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh aktifitas olahraga tehadap derajat nyeri dismenorhea pada wanita belum menikah. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Populasinya adalah semua wanita menstruasi dengan atau tanpa dismenorea sejumlah 107 tiap sampelnya yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang melakukan olahraga dan kelompok yang tidak melakukan olahraga dinilai berdasarkan skala analog visual, dimana nyeri di bedakan menjadi tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat. Tempat penelitian di lakukan di 3 tempat yaitu Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Max Gym, dan Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 6 bulan yaitu pada bulan juni sampai dengan Desember 2008. Hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test menunjukkan penurunan derajat nyeri yang signifikan dimana pada wanita yang tidak melakukan olahraga mengalami nyeri yang lebih hebat dari pada yang olahraga, dan setelah melakukan olahraga derajat nyeri pada wanita yang tadinya tidak melakukan olahraga mengalami penurunan yang sangat signifikan dengan nilai p= 0,001 (0,05). Penelitian ini menjukkan bahwa olahraga memberikan efek berupa menurunnya derajat nyeri pada wanita yang mengalami dismenorhea. Efek ini didapatkan dengan melakukan olahraga secara teratur.
Meningioma Wahyuliati, Tri; Dahlan, Pernodjo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1869

Abstract

Tumor yang tumbuh didalam rongga kepala atau tumor intra kranial, dapat berasal dari tulang tengkorak, selaput otak atau meninges, nervus cranialis, pembuluh darah, glandula pituitari atau parenkim otak itu sendiri. Angka insidensi tumor intra kranial pada penderita dari semua golongan umur mencapai sekitar 4,2 - 5,4 /100,0002 Tumor intra kranial bisa bermanifestasi dalam berbagai variasi, dari keluhan minimal yang tidak khas sampai pada keluhan berat atau ditemukannya tanda abnormalitas yang berat seperti kelemahan atau kejang. Berbagai manifestasi tersebut yang berupa tanda dan gejala, berhubungan dengan lokasi tumor. Meskipun secara umum tidak ada kelompok gejala yang patognomonik untuk tumor intra kranial.Tanda trias yang khas untuk tumor intra kranial meliputi nyeri kepala, mutah proyektil dan papil edema yang bermanifestasi pada keluhan pandangan kabur yang dirasakan penderita. Hal itu terutama disebabkan karena adanya obstruksi saluran cairan serebrospinal oleh desakan masa tumor. Trias tersebut terutama muncul paling sering pada anak - anak. Pemeriksaan Ct scan dan MRI kepala merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat membantu dan handal dalam menegakkan diagnosa tumor otak. Diagnosa pasti tumor otak, seperti halnya tumor dari organ atau jaringan lain adalah dengan biopsi.
PROFIL FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN PADA NYERI KEPALA PRIMER Wahyuliati, Tri; Ardiyanto, Rizky
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v10i3.1135

Abstract

Headache is a common patient complaint in the world with prevalence in the adult population is 50%. Headache can be divided into two types based on their causes. They are primary headaches and secondary headaches. The examples of primary headaches are migraine, Tension Type Headaches (TTH), and cluster headaches. The background indicates that this research needs to be carried out to determine the profile of risk factors associated with primary headache. An analytic observational study with a cross-sectional design conducted at the Temanggung Hospital. The subjects of this study were patients at the neuro polyclinic for the period 1 September 2019 to 30 September 2021, with a total of 88 subjects. The data were analyzed using the chi-square test. The distribution of primary headaches was migraine (19.3%), TTH (64.1%), and cluster headaches (15.9%). The results of Chi-square test between risk factors and primary headache found that age (p = 0.02), gender (p = 0.816), BMI (p = 0.223), smoking history (p = 0.166) family history with headache (p = 0.035), and stress (p = 0.022). Age, family history with headache, and stress have relationship with primary headache, while gender, BMI, and smoking history haven’t relationship with primary headache.
Correlation Between Blood Pressure at Emergency Room and Mortality in Acute Non-Hemorrhagic Stroke Azzahra, Puteri Aulia; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 24, No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v24i2.21140

Abstract

According to data from the World Stroke Organization (WSO), the annual incidence of stroke is around 13.7 million new cases, with an estimated 5.5 million deaths among those impacted. Stroke caused by complications of hypertension causes 51% of the 9.4 million deaths worldwide. The neurological severity of stroke patients is associated with a decrease in systolic blood pressure of 10 mmHg for every value below 150 mmHg. The purpose of this study is to examine the correlation between blood pressure levels and mortality in acute non-hemorrhagic stroke patients. This study uses cross-sectional research methods to conduct observational research. The study included a total of 60 patients with acute non-hemorrhagic strokes who were admitted to PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. The patients were all over the age of 50 and met the specified inclusion and exclusion criteria. Data analysis using univariate tests and Spearman's bivariate tests. The results showed that there is no significant correlation between blood pressure at hospital admission and mortality in non-hemorrhagic stroke patients, as evidenced by a p-value of 0.5. The conclusion is that there is no meaningful correlation between blood pressure on admission to the hospital and mortality in patients with acute non-hemorrhagic strokes.
Anxiety as a risk factor of tension type headache Wahyuliati, Tri; Afifudin, Lutfi
Science Midwifery Vol 12 No 4 (2024): October: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i4.1716

Abstract

Tension-type headache is a primary headache frequently encountered by young individuals. Anxiety is a contributing factor to tension-type headaches. A rigorous curriculum and schedule, transfers within the educational system, competitive academic performance, and similar factors induce anxiety among medical students. This study aims to assess the impact of anxiety on tension-type headaches. We conducted a cross-sectional study that included 73 medical students who were preparing for the Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Data was collected about 2-5 days before the OSCE at the final tutorial. Anxiety is assessed using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). At the same time, tension-type headaches are identified via the ICHD III criteria. A total of 73 individuals exhibiting anxiety were examined. Specifically, mild anxiety was observed in 13 participants (17.8%), moderate anxiety in 7 subjects (9.6%), severe anxiety in 21 subjects (28.8%), and highly severe anxiety in 32 subjects (43.8%). Among the 73 participants, 26 (35.6%) suffered tension-type headaches, while 47 (64.4%) did not. The Spearman Rank test revealed a correlation coefficient of r = 0.263 and a p-value of 0.025 (<0.05), indicating a weak yet significant association. Anxiety exhibits a weak yet substantial link with the occurrence of tension-type headaches.
Hubungan Kadar HbA1c dengan Neuropati Diabetik pada Pasien Diabetes Melitus Vianca Marsiano, Aurelia; Wahyuliati, Tri
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v3i1.316

Abstract

Data International Diabetes Federation (IDF) 2021 memerkirakan populasi diabetes di Indonesia sebanyak 19.465.100 orang yang berusia antara 20-79 tahun. Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018 menyebutkan bahwa prevalensi diabetes melitus di Derah Istimewa Yogyakarta (DIY) melebihi angka nasional yaitu sebesar 4,5% dengan data nasional 2,4%. Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang cukup serius serta dapat menyebabkan berbagai efek negatif seperti jatuh, gejala depresi, gangguan kualitas hidup, dan keterbatasan aktivitas. HbA1c dapat memprediksi potensi risiko perkembangan dan munculnya komplikasi pada diabetes. Pasien dengan tingkat HbA1c di atas 7% akan memiliki risiko komplikasi yang meningkat sebanyak dua kali lipat. Penelitian ini merupakan observasional deskriptif analitik dengan metode cross-sectional. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 79 pasien diabetes melitus di RS PKU Muhammadiyah Gamping yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Analisis data menggunakan uji univariat dan bivariat uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 57 dari 79 subjek memiliki kadar HbA1c yang tidak terkontrol dan mengalami neuropati. Hasil uji bivariat hubungan antara kadar HbA1c dengan neuropati pada pasien diabetes melitus menghasilkan nilai p 0,001 (p < 0,05) dan nilai r 0,685. Terdapat hubungan signifikan kuat antara kadar HbA1c dengan neuropati pada pasien diabetes melitus.
PENGARUH DURASI DAN DERAJAT HIPERTENSI DENGAN FUNGSI KOGNITIF BERDASARKAN MOCA-INA Fahad, Moh Billy; Wahyuliati, Tri
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v8i2.21685

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang berbahaya. Perkembangan gaya hidup masa kini diyakini sebagai salah satu penyebab meningkatnya hipertensi di seluruh dunia. Penderita hipertensi di Jawa Timur diperkirakan mencapai 12 juta jiwa, sementara di Kabupaten Tulungagung 80.000 jiwa. Hipertensi juga menjadi faktor risiko dari demensia dan gangguan fungsi kognitif. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan durasi dan derajat hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif. Metode yang digunakan adalah Cross-sectional dengan teknik non random sampling. Populasi pasien hipertensi sejumlah 95 dan beusia 45-65 tahun. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yang berlokasi di RS Prima Medika Tulungagung. Instrumen skrining yang digunakan adalah MoCA-Ina. Analisis data yang digunakan dengan uji Chi-square bivariat dan univariat. Hasil penelitian didapatkan subjek dengan durasi hipertensi >5 tahun yang memiliki gangguan fungsi kognitif sebanyak 36 dari 42 subjek, sedangkan subjek dengan durasi hipertensi <5 tahun yang memiliki gangguan fungsi kognitif sebanyak 33 dari 53 subjek. Subjek hipertensi derajat 1, 2 dan 3 berturut-turut adalah 30, 33, 32. Subjek dengan gangguan fungsi kognitif derajat 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 15, 25, 29. Analisis bivariat hubungan durasi dan derajat hipertensi dengan fungsi kognitif menghasilkan nilai p=0,011 serta p=0,001, sementara nilai korelasi masing-masing r=0,253 dan r=0,348. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang lemah signifikan antara durasi dan derajat hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif.