Transisi menuju Era Industri 5.0 menggeser fokus dari otomatisasi murni ke paradigma produksi yang berpusat pada manusia (human-centric), tangguh (resilient), dan berkelanjutan (sustainable). Konsekuensinya, integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) muncul sebagai strategi kritis bagi keberlanjutan organisasi jangka panjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) untuk menganalisis tren penelitian, implementasi, dampak, tantangan, serta strategi masa depan dari kerangka kerja ESG di era Industri 5.0. Data dikumpulkan dari berbagai database akademik kredibel yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi ESG berhasil menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pelestarian lingkungan dan sosial. Integrasi alat digital canggih seperti AI dan IoT memungkinkan organisasi mengoptimalkan efisiensi sumber daya dan menjamin tata kelola yang transparan. Namun, hambatan utama implementasi meliputi biaya adopsi awal yang tinggi, fragmentasi data di seluruh rantai pasok, risiko greenwashing, kesenjangan regulasi, dan resistensi budaya. Penelitian ini menekankan pentingnya insentif hijau yang inklusif, peningkatan kapasitas (upskilling) tenaga kerja secara komprehensif, dan platform pelaporan digital yang terpadu untuk mempercepat transisi ESG. Dengan mengatasi tantangan tersebut, ESG bertindak sebagai fondasi yang kokoh untuk membangun organisasi yang tangguh di lanskap Industri 5.0.