Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Description of Dengue Hemorrhagic Fever Cases in Health Centers in the East Pekalongan Sub-District in 2023 Irawan, Teguh; Indriyani, Yulis; Angraeni, Diva Alya; Amalia, Putri Rika; Zahro, Fatimata; Mutiafani, Amelia; Yusuf, Muhammad Lutfi
PROMOTOR Vol. 8 No. 1 (2025): FEBRUARI
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v8i1.874

Abstract

In terms of public health, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a problem in Indonesia. The Aedes aegypti mosquito infected with dengue virus is the vector of dengue hemorrhagic fever (DHF).  DHF is usually found in tropical climates, as vector characteristics are influenced by rainfall, temperature, and rapid movement. Data shows that Asia is the center of the most cases of dengue fever every year, and Indonesia is still one of the main transmission areas. In 2017, the dengue incidence rate in Pekalongan City was 1.44 cases per 10,000 population, and there were 44 confirmed cases in the Pekalongan City Health Center area, consisting of 18 males and 16 females. Therefore, this study aims to describe dengue hemorrhagic fever (DHF) cases at the health center in the east Pekalongan sub-district area in 2023, including the number of cases, age, gender, and time of occurrence of cases. This study uses a descriptive method in which secondary data on DHF patients recorded at the Noyontaan, Tondano, and Sukorejo health centers are obtained and then analyzed descriptively using the SPSS version 24 application. Based on the results of the research, the number of DHF cases at the Puskesmas of East Pekalongan Subdistrict in 2023 was quite high, as many as 49 cases, with the highest number of DHF cases found in the Tondano health center area. The number of DHF patients occurred in the adolescent age group of 10-18 years as many as 20 cases (40.8%) and 25 cases (51.0%) of males. The high number of DHF cases indicates the need for more intensive disease prevention and control efforts, especially in the adolescent age group, as well as paying attention to the increase in cases in certain months.
Strategi Promosi Kesehatan: Upaya Menuju Santri Sehat di MAS Simbang Kulon Putri dan Pondok Pesantren Nurul Huda An-Najah Banat Rahmatika, Shilnia; Akmala, Nisrina Zulfa; Mutiafani, Amelia; Abidah, Qonita; Fazaira, Sabrina Amna; Wati, Naila Rochvika; Indriyani, Yulis
Abdimas Galuh Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v7i2.20351

Abstract

Permasalahan kesehatan pada remaja seperti rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kesehatan mental, kesehatan reproduksi dan konsumsi makanan kurang sehat. Permasalahan tersebut sangat penting untuk diatasi mengingat masa remaja merupakan periode krusial dalam pembentukan kebiasaan hidup yang sehat dan pola pikir yang positif. Tujuan utama pengabdian masyarakat yaitu peningkatan pengetahuan remaja meliputi berbagai aspek kesehatan, merancang intervensi, serta mendorong partisipasi aktif santri dalam upaya pencegahan dan perbaikan kesehatan lingkungan (MA) Madrasah Aliyah dan pondok pesantren. Metode yang digunakan meliputi beberapa tahap, yaitu observasi lingkungan, penyebaran kuesioner, forum diskusi kelompok yang melibatkan para santri. Pengabdian ini menegaskan pentingnya pendidikan kesehatan yang berkelanjutan dan pendekatan yang melibatkan seluruh komunitas, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendukung tumbuh kembang remaja secara optimal. Hasil pengabdian  ini menunjukkan bahwa program intervensi yang diterapkan berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran para santri tentang kesehatan reproduksi, kesehatan mental, serta pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Dengan adanya peningkatan ini, diharapkan para santri tidak hanya menjadi lebih sehat secara fisik dan mental, tetapi juga mampu menjadi agent of change guna membawa dampak positif di lingkungan pondok pesantren serta masyarakat sekitar. Upaya ini diharapkan dapat berkelanjutan dan menjadi contoh bagi institusi pendidikan dan masyarakat lainnya.