Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Analysis Study of Diagnosis and Surgical Management of Hemorrhoids: A Comprehensive Systematic Review Jiwa Zhaqi Adiguna; Betti Merdiani Putri; Metti Herliani
The International Journal of Medical Science and Health Research Vol. 8 No. 3 (2025): The International Journal of Medical Science and Health Research
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/m7yypt94

Abstract

Background: Although its precise prevalence is unknown, haemorrhoidal illness is a common reason for surgical consultation. Epidemiological studies are uncommon, and the numbers differ. According to a previous study, the global prevalence ranged from 3 to 30%. With about 3.3 million scheduled or emergency visits annually, it is regarded as the fourth most common gastrointestinal diagnosis in the US. The aim: The aim of this study to show about diagnosis and surgical management of hemorrhoids. Methods: By the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) 2020, this study was able to show that it met all of the requirements. This search approach, publications that came out between 2014 and 2024 were taken into account. Several different online reference sources, like Pubmed, SagePub, and Sciencedirect were used to do this. It was decided not to take into account review pieces, works that had already been published, or works that were only half done. Result: Eight publications were found to be directly related to our ongoing systematic examination after a rigorous three-level screening approach. Subsequently, a comprehensive analysis of the complete text was conducted, and additional scrutiny was given to these articles. Conclusion: Despite more complicated postoperative effects that may drive patient refusal, surgical treatment is associated with higher effectiveness and is necessary for less than 20% of patients who arrive with haemorrhoidal illness. We have emphasised surgical management-related elements that can help the practitioner make treatment decisions.
The Analysis Study of Diagnosis and Surgical Management of Appendicitis:A Comprehensive Systematic Review Jiwa Zhaqi Adiguna; Betti Merdiani Putri; Metti Herliani
The International Journal of Medical Science and Health Research Vol. 8 No. 3 (2025): The International Journal of Medical Science and Health Research
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/drdgfj46

Abstract

Introduction: Acute appendicitis (AA) is a prevalent cause of acute abdominal pain requiring emergency care. It poses a significant global healthcare burden, with a lifetime risk of 2–9%, peaking between ages 10 and 30. Complicated appendicitis accounts for 16–40% of cases, with a mortality rate of up to 5%. Advances in diagnosis and treatment, including imaging modalities and surgical techniques, have sparked debates on optimal strategies. Non-operative treatments like antibiotics are effective for uncomplicated cases but have recurrence risks, while complicated cases typically require surgical intervention. Methods: This systematic review adheres to PRISMA guidelines and evaluates studies from 2010–2024 on AA diagnosis and surgical management. Inclusion criteria encompass observational studies, RCTs, and cohort studies reporting diagnostic accuracy, surgical outcomes, and patient prognosis. Search strategies target databases like PubMed, Embase, Cochrane Library, and Scopus. Data extraction focuses on diagnostic methods, surgical techniques, and outcomes. Results: Preliminary findings from eight studies indicate varying outcomes based on diagnostic tools, surgical approaches (laparoscopic vs. open), and geographical practices. Complications, recurrence rates, and recovery times were analyzed to highlight trends and gaps in current knowledge. Conclusion: This review shows the importance of accurate, cost-effective diagnostic tools and tailored management strategies. Global variability in practices impacts outcomes, emphasizing the need for standardized protocols to optimize care and resource utilization in acute appendicitis management.
Kehamilan Ektopik Terganggu: Laporan Kasus dan Tinjauan Pustaka Komprehensif Betti Merdiani Putri; Metti Herliani Putri
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 17 No. 3 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/0zcan335

Abstract

Pendahuluan: Kehamilan ektopik (KE), dan komplikasinya yaitu kehamilan ektopik terganggu (KET), merupakan suatu kegawatdaruratan obstetri yang menjadi penyebab utama mortalitas maternal pada trimester pertama kehamilan. Diagnosis dini yang akurat dan tatalaksana yang cepat merupakan faktor krusial untuk mencegah komplikasi fatal dan mem preservasi fertilitas di masa depan. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengilustrasikan pendekatan diagnostik dan tatalaksana komprehensif pada sebuah kasus KET dengan instabilitas hemodinamik. Ilustrasi Kasus: Seorang wanita, 32 tahun, dengan status obstetri G2P1A0, datang ke unit gawat darurat dengan keluhan utama nyeri perut kanan bawah yang timbul mendadak disertai amenorea selama 8 minggu. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda syok hipovolemik, termasuk hipotensi dan takikardia, serta gambaran abdomen akut. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar beta-human chorionic gonadotropin (β-hCG) kuantitatif sebesar 8.500 mIU/mL. Ultrasonografi transvaginal (USG-TV) yang dilakukan segera tidak menunjukkan adanya kantung gestasi di dalam kavum uteri, namun mengidentifikasi adanya massa kompleks di adneksa kanan dan sejumlah besar cairan bebas yang mengindikasikan hemoperitoneum di kavum Douglas. Dengan diagnosis kerja KET, pasien segera menjalani laparotomi eksplorasi. Ditemukan adanya ruptur pada tuba Fallopii kanan dengan perdarahan aktif, yang kemudian ditatalaksana dengan salpingektomi kanan. Pasien menunjukkan pemulihan yang baik tanpa komplikasi pascaoperasi. Diskusi: Kasus ini menegaskan pentingnya indeks kecurigaan yang tinggi terhadap KE pada setiap wanita usia reproduktif yang datang dengan keluhan nyeri abdomen dan riwayat amenorea. Kombinasi antara presentasi klinis, kadar β-hCG yang berada di atas zona diskriminatif, dan temuan USG-TV yang khas merupakan pilar utama dalam penegakan diagnosis. Tatalaksana bedah darurat yang dilakukan pada kasus ini sepenuhnya sesuai dengan pedoman klinis internasional untuk KET dengan instabilitas hemodinamik, di mana tatalaksana medisinal menggunakan metotreksat merupakan suatu kontraindikasi absolut. Kesimpulan: Kehamilan ektopik terganggu adalah kondisi yang mengancam nyawa dan menuntut diagnosis yang cepat serta intervensi segera. Manajemen yang berhasil sangat bergantung pada integrasi yang cermat antara temuan klinis, hasil pemeriksaan biokimia, dan pencitraan diagnostik, serta kesiapan dan keterampilan tim bedah dalam melakukan intervensi penyelamatan nyawa.