Tandan buah kosong (EFB) kelapa sawit merupakan limbah lignoselulosa yang berpotensi sebagai bahan baku bioetanol; namun, hidrolisatnya miskin nutrisi (N, P, K), yang menghambat pertumbuhan dan aktivitas fermentasi Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pupuk NPK dan KCl terhadap pertumbuhan S. cerevisiae, mengidentifikasi perbedaan signifikan antara kedua sumber nutrisi tersebut terhadap kandungan bioetanol, dan menentukan rasio nutrisi NPK-terhadap-KCl yang optimal untuk produksi bioetanol dari EFB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (CRD) dengan enam perlakuan: kontrol (P0) dan rasio KCl:NPK 4:0 (P1), 3:1 (P2), 2:2 (P3), 1:3 (P4), dan 0:4 (P5), masing-masing dengan empat ulangan. Fermentasi dilakukan selama 7 hari pada pH 4 dan suhu ruangan. Pertumbuhan ragi diukur menggunakan OD600, sedangkan kandungan bioetanol diukur menggunakan refraktometer. Data dianalisis menggunakan ANOVA Satu Arah diikuti dengan uji HSD Tukey pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan bahwa nilai OD meningkat pada semua perlakuan, dengan nilai tertinggi pada rasio 2:2 (0,789) dan terendah pada kontrol (0,331). ANOVA menunjukkan bahwa variasi rasio KCl terhadap NPK memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kandungan bioetanol (F(5,18) = 41,830; p < 0,001). Uji HSD Tukey mengelompokkan perlakuan menjadi tiga subkelompok: kontrol (11,6%) berbeda secara signifikan dari semua perlakuan yang diberi suplemen nutrisi; rasio 4:0 (13,3%) membentuk subkelompok terpisah; Sementara rasio 0:4, 3:1, 1:3, dan 2:2 (14,4–15,3%) tidak berbeda secara signifikan satu sama lain tetapi berbeda secara signifikan dari kontrol dan rasio 4:0. Kandungan bioetanol tertinggi diperoleh pada rasio 2:2 (15,3%). Disimpulkan bahwa nutrisi KCl dan NPK memengaruhi pertumbuhan S. cerevisiae dan menghasilkan perbedaan signifikan dalam kandungan bioetanol dari EFB, dengan rasio KCl:NPK 2:2 direkomendasikan sebagai yang paling optimal.