Penelitian ini mendalami bagaimana keputusan pilihan childfree dapat menjadi kesepakatan yang dibangun bersama. Perlu adanya pengkajian berkaitan dengan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam mengkomunikasikan hingga dapat saling menyepakati keputusan childfree. Kajian ini berfokus pada 1) latar belakang pengalaman yang dimiliki pasangan dalam memaknai pilihan childfree hingga menyepakati keputusan tersebut, 2) relasi gender dalam keterlibatan pihak laki-laki maupun perempuan ketika menyepakati pilihan childfree. Analisis feminist memungkinkan seseorang untuk menganalisis makna yang tergambar dari relasi gender antara laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan hal kuasa dalam menentukan pilihan childfree dipernikahan. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi virtual, dianggap dapat memfasilitasi penulis dalam mengumpulkan data terkait dengan temuan penelitian. Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap interaksi komunitas secara virtual, wawancara dengan informan antara lain anggota komunitas yang telah menjalani pilihan childfree serta analisis hingga kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) umumnya anggota komunitas yang telah memilih kesepakatan childfree relatif memiliki cara pandang yang sama dalam memaknai kehadiran anak. Keseluruhan informan mengungkapkan hal yang serupa bahwa kehadiran anak bukanlah keharusan dalam pernikahan, tekanan secara finansial dan psikologis menghadirkan pandangan tersebut. 2). Relasi gender yang digambarkan beberapa pasangan dengan pilihan childfree dibangun atas dasar kesepakatan suami dan istri. Mereka bahkan mencoba memberi ruang bagi pasangannya untuk mendiskusikan pilihan tersebut, agar lebih mudah dalam menjalani kesepakatan childfree.