Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Jaringan Sosial Kelompok Perempuan Muara Tanjung dalam Konservasi Hutan Mangrove Baiduri, Ratih; Harahap, Nur Ainun
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 9, No 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i2.58314

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis: (1) jaringan sosial yang terbentuk didalam kelompok perempuan Muara Tanjung dalam konservasi hutan mangrove; (2) struktur jaringan yang ada baik itu didalam maupun diluar kelompok. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan etnografi. Informan dalam penelitain ini ialah ketua kelompok perempuan Muara Tanjung, penggurus dan anggota kelompok yang aktif, anggota kelompok jaringan sosial luar yang bekerjasama dengan kelompok perempuan Muara Tanjung. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ialah teknik analisis wawancara etnografis, analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap bahwasannya dalam sebuah kelompok diperlukannya jaringan sosial yang mengikat didalamnya baik itu secara internal maupun ekternal. Bagi kelompok perempuan Muara Tanjung sendiri jaringan sosial merupakan satu hal yang penting di miliki oleh sebuah kelompok. Melalui jaringan sosial ini terbentuk sebuah kerjasama yang tentunya mampu meningkatkan kinerja anggota kelompok Muara Tanjung sendiri. Kelompok perempuan Muara Tanjung merupakan kelompok yang memiliki struktur keanggotaan yang unik. Struktur keanggotaan yang ada didalam kelompok perempuan Muara Tanjung hanya terdiri dari anggota keluarga saja. Fenomena ini merupkan fenomena yang jarang terlihat dalam sebuah organisasi. Fenomena ini jugalah yang menjadikan kelompok perempuan Muara Tanjung memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dalam organisasi kelompoknya. Adapun kelebihannya yaitu kelompok perempuan Muara Tanjung ini memiliki ikatan kekerabatan yang kuat sehingga anggota kelompok memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan organisasi. Adapun kekurangannya adalah kelompok ini sulit menerima keanggotaan di luar lingkar keluarga. This article aims to explain the social network that is formed within the Muara Tanjung women’s group as well as the network structure that exists both inside and outside the group. This reaserch is included in qualitative research using an ethnographic approach method.  The informant in this research was the Muara Tanjung Womens’s Group where the group leader, Mrs. Jumiati, was the key informant. Apart from that, other additional informants were external network groups that collaborated with the Muara Tanjung Women’s Group. This research also use data collection techniques through participant observation, in-depth interviews, documentation and field notes. The data collection techniques used in the research are ethnographic interview analysis techniques, domain analysis and taxonomic analysis techniques. The result obtained from this research show at in a group a social network is needed that binds it both internally and externally. For the Muara Tanjung women’s group, social network are an important thing for a group to have. Thourgh social networks, a collaboration will be formed which will certainly be able to improve the quality of the members of the Muara Tanjung itself. Apart rom that, the Muara Tanjung women’s group is also a group that has a uniqe membership structure. The membership structure in the Muara Tanjung Womens’s group only consists of family members. This phenomenon is a phenomenon that is rarely seen in organization. This is what makes the Muara Tanjung Women’s group different from other women’s groups.
MUTUAL MODERASI KEBERAGAMAN SEBAGAI PRAKTIK BAIK MENUJU SEKOLAH RAMAH ANAK DI SMP SWASTA AL-WASLIYAH KECAMATAN MEDAN SUNGGAL KOTA MEDAN Baiduri, Ratih; Wahyudi, Arief; Damanik, M.Ridha; Jamaludin, Jamaludin; Anastasya Sihaloho, Oksari
Batara Wisnu : Indonesian Journal of Community Services Vol. 4 No. 3 (2024): Batara Wisnu | September - Desember 2024
Publisher : Gapenas Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53363/bw.v4i3.276

Abstract

The goal of the Community Partnership Program (PKM) is to generally respond to the circular on the child-friendly school program from the Medan City Government's Department of Education and Culture through mutual moderation as a good practice towards the child-friendly school program. The profile of the area where the service location is situated is Lalang Village, Medan Sunggal District, Medan City, covering an area of approximately 125 hectares. This village serves as the western gateway to Medan City and is traversed by the Trans-Sumatra Highway. Administratively, Lalang Village consists of 13 neighborhoods. Al-Wasliyah Middle School becomes the partner location for this community program activity. The potential problems found at the junior high school/equivalent education level are intolerance, bullying, and child violence. The solution offered through mutual moderation of diversity towards child-friendly schools makes Medan City a safe and comfortable place for every student by prioritizing tolerance, harmony, and comfort, which are the foundations of mutual moderation in good practices. Encouraging parental involvement in the children's education process, as well as giving special attention to the emotional and social well-being of the students. The method used involves systematic and coherent stages starting from data collection, socialization, education (FGD, research, and study visits), training, and mentoring. (monitoring dan evaluasi). Mutual moderation (or joint moderation) in the context of Child-Friendly Schools can be an effective approach to addressing problems, achieving common goals, and maintaining a positive environment. Through these steps, the process of mutual moderation can become an effective tool for achieving and maintaining a Child-Friendly School environment. It involves active collaboration and positive contributions from all stakeholders
Jaringan Kekerabatan Perantau Minangkabau Sebagai Pekerja di Rumah Makan Padang Pariaman Yasmin, Adha Kamila; Baiduri, Ratih
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 2, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v2i2.4158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang kaum laki-laki etnis Minangkabau lebih memilih bekerja di rumah makan, menganalisis jaringan kekerabatan yang terbangun pada pekerja etnis Minangkabau ketika memilih bekerja di rumah makan, dan menganalisis apa saja hambatan pekerja etnis Minangkabau ketika bekerja di rumah makan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Lokasi penelitian dilakukan di tiga rumah makan Padang Pariaman dengan nama yang berbeda. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi merantau di kalangan etnis Minangkabau didorong oleh sistem matrilineal yang menyebabkan kaum laki-laki mencari penghidupan di luar kampung halaman, mengingat harta warisan hanya diwariskan kepada perempuan. Rumah makan menjadi salah satu pilihan utama bagi perantau untuk memulai kehidupan baru dengan peluang yang disediakan. Selain itu, etnis Minangkabau memiliki jaringan kekerabatan yang kuat dan memainkan peran penting untuk membantu para perantau mendapatkan pekerjaan, memberikan dukungan moral, dan menciptakan stabilitas ekonomi. Penelitian ini sejalan dengan sejalan dengan teori Claude Levi-Strauss tentang sistem kekerabatan, dimana jaringan kekerabatan  dan hubungan keluarga menjadi suatu bagian yang penting dalam mendukung ekonomi perantau.
Decision Making Regarding Childfree Choices in Couples in The Childfree Facebook Community Indonesia : Analisis Feminisme Radikal Sebayang, Annisa Carolin; Amsani, Hidayat; Baiduri, Ratih
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2024 - Januari 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i1.3319

Abstract

Penelitian ini mendalami bagaimana keputusan pilihan childfree dapat menjadi kesepakatan yang dibangun bersama. Perlu adanya pengkajian berkaitan dengan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam mengkomunikasikan hingga dapat saling menyepakati keputusan childfree. Kajian ini berfokus pada 1) latar belakang pengalaman yang dimiliki pasangan dalam memaknai pilihan childfree hingga menyepakati keputusan tersebut, 2) relasi gender dalam keterlibatan pihak laki-laki maupun perempuan ketika menyepakati pilihan childfree. Analisis feminist memungkinkan seseorang untuk menganalisis makna yang tergambar dari relasi gender antara laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan hal kuasa dalam menentukan pilihan childfree dipernikahan. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi virtual, dianggap dapat memfasilitasi penulis dalam mengumpulkan data terkait dengan temuan penelitian. Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap interaksi komunitas secara virtual, wawancara dengan informan antara lain anggota komunitas yang telah menjalani pilihan childfree serta analisis hingga kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) umumnya anggota komunitas yang telah memilih kesepakatan childfree relatif memiliki cara pandang yang sama dalam memaknai kehadiran anak. Keseluruhan informan mengungkapkan hal yang serupa bahwa kehadiran anak bukanlah keharusan dalam pernikahan, tekanan secara finansial dan psikologis menghadirkan pandangan tersebut. 2). Relasi gender yang digambarkan beberapa pasangan dengan pilihan childfree dibangun atas dasar kesepakatan suami dan istri. Mereka bahkan mencoba memberi ruang bagi pasangannya untuk mendiskusikan pilihan tersebut, agar lebih mudah dalam menjalani kesepakatan childfree.
Dari Subsisten ke Ekonomi Pasar: Perubahan Mata Pencaharian Masyarakat Dayak Kayan di Desa Miau Baru Angga, Angga; Baiduri, Ratih; Puspitawati, Puspitawati
Jurnal Antropologi Sumatera Vol. 22 No. 1 (2024): Vol 22, No 1 (2024): Jurnal Antropologi Sumatera, Desember 2024
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jas.v22i1.66545

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan mata pencaharian masyarakat Dayak Kayan dari subsisten ke ekonomi pasar serta dampaknya pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menemukan bawah pada masa-masa awal menetap di Miau Baru, mata pencaharian masyarakat Dayak Kayan adalah bertani ladang dan cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Program pembangunan desa tertinggal oleh pemerintah kemudian datang dengan upaya mencetak lebih banyak sawah basah bagi masyarakat. Selanjutnya pembukaan lahan hutan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit memberikan kesempatan kerjasama bagi masyarakat lewat koperasi plasma. Masyarakat mulai mengalih fungsikan ladang mereka untuk ditanami sawit. Berubahnya  mata pencaharian dari petani ladang ke petani sawah serta beralih fungsinya ladang pada perkebunan sawit mengubah orientasi mata pencaharian yang semula subsisten menjadi komersil. Selain itu akses terhadap pendidikan juga berdampak pada diversifikasi mata pencaharian. Pembangunan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi warga ini berdampak pada relasi sosial dan struktur dalam adat, beberapa telah hilang dan sebagian lainnya mengalami penyesuaian.
Mistisisme dalam Pelaksanaan Ritual pada Bulan Suro pada Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Deli Serdang Kumara, Afrillia Dinda; Baiduri, Ratih; Damanik, Erond Litno
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Juni - Juli 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i4.5048

Abstract

Ritual malam pengesahan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan salah satu tradisi penting yang menggabungkan unsur mistis, spiritualitas, dan budaya Jawa, serta menjadi bagian integral dari proses pengesahan anggota baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna, proses, dan alasan mengapa ritual mistis ini masih tetap dilaksanakan oleh warga PSHT hingga saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis etnografi, yang mencakup observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan informan kunci, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual malam pengesahan mengandung nilai-nilai spiritual yang mendalam, di mana setiap elemen ritual, seperti doa, simbol, dan aktivitas fisik, memiliki makna khusus yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan penguatan ikatan persaudaraan. Ritual ini juga berfungsi untuk memperkuat hubungan anggota dengan dimensi spiritual yang lebih tiggi, menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan oleh leluhur, serta menanamkan nilai-nilai luhur PSHT. Ritual ini tetap dipertahankan karena dianggap sebagai cara untuk menghormati leluhur, menjaga identitas budaya, dan memperkuat komitmen anggota terhadap ajaran PSHT. Sebagai sarana untuk pembentukan karakter dan penguatan spiritual, ritual malam pengesahan tidak hanya menjadi simbol pengesahan formal, tetapi juga sebagai momen refleksi diri dan pengembangan kepribadian yang lebih baik bagi setiap anggota PSHT.
PERGESERAN GAYA HIDUP PEREMPUAN KOTA: STUDI KASUS KONSUMSI œFASHION DI INDONESIA Baiduri, Ratih
JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA Vol 11 No 2 (2013): JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jkss.v11i22.3559

Abstract

ABSTRACT This paper discusses the phenomenon of a shift in women's lifestyle fashion consumption in Indonesia. In this paper fashion could be interpreted as clothing, fashion, makeup, and style. The dynamics of changes in social and cultural life experienced by urban women in Indonesia have caused a shift in lifestyle in terms of fashion consumption. This shift was indicated in the function and meaning of fashion itself, namely in: (1) positioning the production of desire, identity / ethnic identity / group; (2) position the power of individuals / groups; (3) shows the ideology / ideological resistance and (4 ) to identify the context of sex / gender. The factors that case it are factors coming from within the individual (internal) and factors originating from outside the individual (external). The internal factors include the attitudes, experiences and observations, personality, self-concept, motives and perceptions. While the external factors are included in reference group, family, social class, and culture. The shift in the consumption of fashion lifestyle is adopted in every aspect of cultural life of urban women in Indonesia showed that there was a shift from the direction of homogenization (uniformity) in the direction heterogeneous (differentiation) in terms of fashion consumption. Kata Kunci : Pergeseran gaya hidup, perempuan, konsumsi fashion.
Women's Leadership in the Era of Disruption (Case Study: Women's Leadership in Religious Organizations) Eranutrise, Desmie; Baiduri, Ratih; Rosramadhana
Formosa Journal of Sustainable Research Vol. 3 No. 10 (2024): October 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjsr.v3i10.11806

Abstract

Women as leaders must have an attitude that tends to be full of confidence, have a strong belief in their actions and be able to express their feelings and opinions without hurting their own feelings or the feelings of otherswithout interfering with the rights of others.Talking about women in terms of leadership, the position of women is often compared to the position of men in leadership before the modern era, women were often discriminated against in their position as leaders. However, with the development of the times, in this modern era there have been many women who are able to lead a group or organization. Women's leadership in the era of disruption or the digital era has now penetrated into public organizations, government, social organizations as well as into religious organizations. In this case the author will examine and see the leadership of women in a religious organization. The research method used in this research is descriptive qualitative research by conducting observations and literature studies (library research)
Netnographic Study: Caring for Online Gender-Based Violence on Instagram @awaskbgo Eranutrise, Desmie; Baiduri, Ratih; Rosramadhana
Formosa Journal of Sustainable Research Vol. 3 No. 10 (2024): October 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjsr.v3i10.11807

Abstract

This study found the novelty of the fact that cases of gender-based violence does`t only occur in public spaces, but can also occur in cyberspace. Such as gender-based violence through media and internet networks which are referred to as cases of online gender-based violence. The purpose of this study is to contribute to knowledge of online gender-based violence prevention through Instagram social media. The type of research used is virtual ethnographic research or often called a netnographic study, which uses data collection techniques with in-depth interviews and participant observation. The results of the study show that Instagram social media is quite influential in providing education on online gender-based violence against women and Instagram social media users. Movements made in providing education can be through posts and opening discussions on live Instagram and in the comments column
Jaringan Sosial Kelompok Perempuan Muara Tanjung dalam Konservasi Hutan Mangrove Baiduri, Ratih; Harahap, Nur Ainun
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 9 No. 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i2.58314

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis: (1) jaringan sosial yang terbentuk didalam kelompok perempuan Muara Tanjung dalam konservasi hutan mangrove; (2) struktur jaringan yang ada baik itu didalam maupun diluar kelompok. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan etnografi. Informan dalam penelitain ini ialah ketua kelompok perempuan Muara Tanjung, penggurus dan anggota kelompok yang aktif, anggota kelompok jaringan sosial luar yang bekerjasama dengan kelompok perempuan Muara Tanjung. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ialah teknik analisis wawancara etnografis, analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap bahwasannya dalam sebuah kelompok diperlukannya jaringan sosial yang mengikat didalamnya baik itu secara internal maupun ekternal. Bagi kelompok perempuan Muara Tanjung sendiri jaringan sosial merupakan satu hal yang penting di miliki oleh sebuah kelompok. Melalui jaringan sosial ini terbentuk sebuah kerjasama yang tentunya mampu meningkatkan kinerja anggota kelompok Muara Tanjung sendiri. Kelompok perempuan Muara Tanjung merupakan kelompok yang memiliki struktur keanggotaan yang unik. Struktur keanggotaan yang ada didalam kelompok perempuan Muara Tanjung hanya terdiri dari anggota keluarga saja. Fenomena ini merupkan fenomena yang jarang terlihat dalam sebuah organisasi. Fenomena ini jugalah yang menjadikan kelompok perempuan Muara Tanjung memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dalam organisasi kelompoknya. Adapun kelebihannya yaitu kelompok perempuan Muara Tanjung ini memiliki ikatan kekerabatan yang kuat sehingga anggota kelompok memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan organisasi. Adapun kekurangannya adalah kelompok ini sulit menerima keanggotaan di luar lingkar keluarga. This article aims to explain the social network that is formed within the Muara Tanjung women™s group as well as the network structure that exists both inside and outside the group. This reaserch is included in qualitative research using an ethnographic approach method.  The informant in this research was the Muara Tanjung Womens™s Group where the group leader, Mrs. Jumiati, was the key informant. Apart from that, other additional informants were external network groups that collaborated with the Muara Tanjung Women™s Group. This research also use data collection techniques through participant observation, in-depth interviews, documentation and field notes. The data collection techniques used in the research are ethnographic interview analysis techniques, domain analysis and taxonomic analysis techniques. The result obtained from this research show at in a group a social network is needed that binds it both internally and externally. For the Muara Tanjung women™s group, social network are an important thing for a group to have. Thourgh social networks, a collaboration will be formed which will certainly be able to improve the quality of the members of the Muara Tanjung itself. Apart rom that, the Muara Tanjung women™s group is also a group that has a uniqe membership structure. The membership structure in the Muara Tanjung Womens™s group only consists of family members. This phenomenon is a phenomenon that is rarely seen in organization. This is what makes the Muara Tanjung Women™s group different from other women™s groups.