Ni Putu Ratnayutika
Universitas Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN DESK COLLECTOR FINTECH ILEGAL Ni Putu Ratnayutika; Nikmatul Keumala Nofa Yuwono; Ana Laela Fatikhatul Choiriyah; Tri Dharma Putra
Lex Et Lustitia Vol. 1 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Universitas Moch. Sroedji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70079/lel.v1i2.69

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong munculnya layanan pinjaman online sebagai alternatif keuangan bagi masyarakat Indonesia. Pinjaman online, terutama melalui fintech seperti peer-to-peer (P2P) lending dan payday loans, menawarkan kemudahan akses dan kecepatan pencairan dana. Namun, maraknya penyalahgunaan layanan pinjaman online ilegal menimbulkan berbagai permasalahan, termasuk ancaman terhadap privasi data pribadi pengguna, pelanggaran hukum, dan praktik penagihan yang tidak etis. Studi ini menganalisis regulasi yang berlaku, seperti POJK No. 77/POJK.01/2016 dan POJK No. 13/POJK.02/2018, yang bertujuan melindungi konsumen dan menegakkan transparansi dalam layanan fintech. Selain itu, ancaman penyebaran data pribadi yang dilakukan oleh pinjaman online ilegal dan tindakan arogansi debt collector menjadi sorotan utama. Beberapa kasus menunjukkan penyalahgunaan data pribadi untuk intimidasi, pencemaran nama baik, hingga pelanggaran hak asasi manusia. Regulasi terkait, termasuk UU ITE dan RUU Perlindungan Data Pribadi, masih dianggap belum memadai untuk menangani pelanggaran data secara rinci. Kajian ini merekomendasikan penguatan regulasi perlindungan data pribadi, pengawasan lebih ketat oleh OJK, dan pengenalan sanksi yang lebih tegas bagi pelaku pelanggaran. Studi ini memberikan wawasan mengenai pentingnya perlindungan hukum terhadap konsumen layanan fintech dan urgensi perbaikan regulasi di Indonesia.
Penegakan Hukum terhadap Ayah yang Lalai Menafkahi Anak Pasca-Perceraian: Analisis Pidana dan KHI Ana Laela Fatikhatul Choiriyah; Ni Putu Ratnayutika; Inayatul Anisa
SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 2 (2025): SAKINAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : State Islamic University of Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/sakinah.v3i2.79

Abstract

Abstract: This study examines the enforcement of law against fathers who neglect child support obligations after divorce within the framework of Islamic family law and criminal law in Indonesia. Although the Marriage Law and the Compilation of Islamic Law stipulate that fathers are responsible for their children’s needs, in practice, enforcement and monitoring mechanisms remain weak. As a result, many mothers bear a double burden while children suffer from neglect. From a criminal law perspective, such negligence may constitute child neglect under the Child Protection Law. This research also compares Malaysia’s system, which is more effective through the establishment of special institutions such as the Family Support Division (BSK). The analysis employs Feminist Legal Theory and the Theory of Children’s Rights, emphasizing the need for substantive justice for women and the protection of children’s rights to care, education, and welfare. The findings highlight the urgency of legal reform in Indonesia so that child support rulings are not merely declaratory but truly ensure comprehensive protection for women and children. Keywords: Child Support, Divorce, Religious Court   Abstrak: Penelitian ini membahas penegakan hukum terhadap ayah yang lalai menafkahi anak pasca perceraian dalam perspektif hukum keluarga Islam dan hukum pidana di Indonesia. Meskipun Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam telah menetapkan kewajiban ayah untuk membiayai kebutuhan anak, praktik di lapangan menunjukkan lemahnya mekanisme pengawasan dan eksekusi putusan nafkah. Akibatnya, banyak ibu menanggung beban ganda, sementara anak menjadi korban penelantaran. Dari perspektif hukum pidana, kelalaian ini dapat dikategorikan sebagai penelantaran anak berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak. Penelitian ini juga membandingkan sistem di Malaysia yang lebih efektif melalui pembentukan lembaga khusus seperti Bahagian Sokongan Keluarga (BSK). Analisis menggunakan pendekatan Feminist Legal Theory dan Teori Hak Asasi Anak, yang menegaskan pentingnya keadilan substantif bagi perempuan dan pemenuhan hak anak atas pengasuhan, pendidikan, dan kesejahteraan. Hasil kajian menunjukkan urgensi reformasi hukum di Indonesia agar putusan nafkah anak tidak hanya bersifat deklaratif, melainkan benar-benar menjamin perlindungan perempuan dan anak secara komprehensif. Kata Kunci: Nafkah Anak, Perceraian, Pengadilan Agama