Ferry Hartono
Stikas Santo Yohanes Salib

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

MARK AS NARRATIVE (Plot and Structure of Mark 4,35-8,30) Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v1i2.1

Abstract

Every literature consists of Story and Plot, or should I say, series of events. While the Story is about what happened literally, the Plot is more about how the narrator explains what happened. Aristotle alleged that the Plot and Structure were the most important elements in of a Tragedy (Poetics VI,5; VII,1). However, the success of a story also depends on the rendering of Character (Poetics VI,5). Therefore, the study about Characters in Narrative Criticism is necessary to conclude the exploration of a literature. Gospel of Mark, as presented in this paper is through and through a story. Study of plot and structure in it, therefore, is necessary to build the sufficient base for study of character. This research paper is dedicated mainly on plot of the Gospel of Mark, particularly Mark 4,35-8,30. To understand the plot, it is essential to know the style and context of the literature at hand, facts about the author and the setting of the story.
THE PRIESTHOOD OF SAMUEL (A Very Short Study of 1Sam 3:1-15) Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i1.9

Abstract

Posisi Samuel dalam 1-2Sam sangat besar. Dialah kingmaker yang dipilih oleh Allah. Dengan diurapinya Saul dan Daud sebagai raja, Israel memasuki suatu periode baru yang penting. Samuel lebih dikenal sebagai nabi, meskipun panggilannya yang terjadi di bawah bimbingan Imam Eli di Rumah Tuhan sangat pantas ‘dicurigai’ menempatkan posisi Samuel sebagai imam juga. Artikel singkat ini bertujuan untuk mencari bukti-bukti intrabiblis dari 1Sam 3,1-15 akan martabat dan status imamat Samuel. Ini tidak mudah pertama-tama karena mengingat institusi imamat pada masa Samuel belum terdefinisikan secara penuh. Belum lagi ditambah dengan latar belakang Samuel yang bukan berasal dari Suku Lewi. Untuk membedah masalah-masalah ini saya akan menggunakan kritik teks sederhana dan pendekatan sinkronistis.
STUDY OF THE CHARACTER OF JESUS IN MARK 4:35-8:30 Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v2i2.18

Abstract

Yesus ditampilkan Injil Markus sebagai karakter yang misterius. Studi tentang kemisteriusan pribadi Yesus semakin menanjak belakangan ini sejak Wrede mengungkapkan teori tentang “Rahasia Mesianis”-nya. Analisis karakter Yesus secara naratif dalam artikel ini merupakan salah satu upaya terfokus untuk membantu mengungkit beberapa aspek dari “Rahasia” ini. Saya menggunakan metode analisis karakter yang dirancang oleh Malbon, yang berfokus pada performa karakter, dalam hal ini Yesus. Analisis ini menaruh perhatian pada apa yang karakter-karakter lain katakan kepada dan tentang Yesus; apa tanggapan Yesus; apa yang Yesus lakukan, serta apa karakter-karakter lain lakukan sebagai tanggapan atas kata dan tindakan Yesus. Pembahasan hanya dibatasi atas Mrk 4:35-8:30 karena dalam bagian inilah terjadi proses identifikasi karakter Yesus yang berpuncak pada pengakuan Petrus atas Kemesiasan Yesus. Proses ini tampak terkait secara hakiki dengan tonggak peristiwa misi pertama Yesus ke seberang, yang notabene merupakan daerah orang non-Yahudi. Hasil dari studi ini menunjukkan karakter Yesus yang familiar, meneguhkan beberapa fakta yang sudah ada sebelumnya, sekaligus menyajikan aspek-aspek yang mungkin mengejutkan.
INTERACTION BETWEEN JESUS AND THE CHARACTERS IN MARK 4:35–8:30 Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i1.20

Abstract

Upaya menemukan teologi biblis yang relevan dengan zaman ini sangat penting. Studi tentang karakter-karakter dalam Mrk 4:35–8:30 ini merupakan salah satu upaya tersebut. Analisis naratif dalam studi Kitab Suci, dengan fokus pada analisis karakter, tidak sulit untuk diarahkan pada refleksi teologis yang relevan. Proses identifikasi pembaca dengan tokoh- tokoh dalam Kitab Suci pada umumnya dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang ditunjukkan dalam artikel ini. Metode analisis karakter dengan kategorisasi berdasarkan jenis dan sifat dalam artikel ini, selain memperjelas posisi para karakter, juga mempertegas pengenalan akan karakter utama dalam Injil Markus, yakni Yesus. Interaksi mereka dengan Yesus, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada akhirnya menuntun para pembaca untuk menentukan sikap dalam interaksi pribadi dengan Yesus.
JESUS’ UNIVERSAL TEACHING OF PURITY IN MARK 7:1-15 Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v3i2.28

Abstract

Masalah makanan haram dan halal merupakan perkara besar dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tokoh-tokoh dalam Kitab Makabe seperti Eleazar serta seorang ibu dengan anak-anaknya lebih rela mati daripada harus makan makanan haram. Meskipun secara mengejutkan tidak banyak dibahas dalam Perjanjian Baru, tema haram dan halal ini pun disinggung dalam situasi yang serius dan dengan pernyataan- pernyataan yang mutlak, baik dari Yesus sendiri maupun dari para rasul. Injil Markus secara spesifik juga membahas soal ini dalam pasal 7. Pembahasan Markus ini, selain mencatat salah satu pernyataan doktriner Yesus yang paling mutlak, menyumbangkan pula alasan-alasan teologis dan praktis yang matang. Haram dan halal menurut Yesus dalam Injil Markus dikembalikan kepada maksud dan tujuannya yang hakiki, yang tidak pernah hanya soal fisik, melainkan memiliki nilai teologis yang intrinsik. Kutipan dari Kitab Yesaya dalam perikop ini menjadi kunci utama untuk memahami dimensi teologis yang mendasari ajaran Yesus mengenai haram dan halal. Rupanya nilai terhakiki dari dimensi teologis ajaran Yesus tentang kemurnian itu terletak pada universalitasnya. Untuk pembahasan kali ini, saya tetap memilih metode analisis naratif dengan fokus pada analisis karakter berdasarkan interaksi mereka dalam percakapan.
RISET KEAGAMAAN DENGAN PEMBACAAN DEKONSTRUKTIF ALA DERRIDA Ferry Hartono
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v4i2.40

Abstract

Pembacaan Dekonstruktif Derrida, sebagai salah satu kritikan atas tawaran kemapanan strukturalisme, menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menganalisis data riset kualitatif. Ketika berbicara tentang riset keagamaan, pembacaan dekonstruktif tidak dapat begitu saja meniadakan banalitas diskusi mengenai sifat apofatis realitas ilahi. Namun, ketika diskusi ditarik ke arah fenomena keagamaan, pembacaan dekonstruktif seperti ikan menemukan kolam yang tenang, tempat ia dapat berenang dengan bebas. Metodologi- metodologi studi keagamaan umum, seperti Fenomenologi, Fungsionalisme, dan Agama Terhayati menekankan kemungkinan untuk menarik dunia metafisis kepada realitas fenomenologis yang dapat diamati dan dipahami. Fenomena-fenomena tersebut, ketika dikaitkan dengan kaidah ruang dan waktu, akan selalu menghasilkan anomali. Keasingan dan penyimpangan dalam fenomena tidak perlu dimusuhi. Dalam pembacaan dekonstruktif, justru unsur pengejut dan pengesan unik dalam fenomena sering menjadi agen kuat untuk memahami suatu obyek pembacaan. Artikel ini bertujuan menunjukkan kedigjayaan pembacaan dekonstruktif sebagai sarana analisis data dalam suatu riset keagamaan. Pembacaan dekonstruktif ini dapat dipakai baik dalam riset kuantitatif maupun riset kualitatif, meskipun harus segera ditambahkan, bahwa riset kuantitatif memiliki handicap-nya tersendiri dalam riset keagamaan. Dalam fenomena keagamaan, jumlah tidak menentukan kebenaran. Justru lebih sering terjadi, fenomena yang unik atau menyimpang, entah itu dalam arti pribadi atau barang mati atau kejadian atau prediksi sekalipun, lebih ‘berkualitas’ dan lebih benar. Di sinilah ada konformasi antara riset kualitatif dan pembacaan dekonstruktif.