Jeruk kasturi (Citrus microcarpa) atau Calamansi fruit merupakan tanaman yang semakin diminati oleh masyarakat sebagai bahan minuman dan pencampur aroma makanan. Produksi jeruk ini masih terbatas pada tanaman pekarangan (Abdullah, 2012). Lamanya masa produktif juga menyebabkan harga jeruk kasturi relatif mahal dikarenakan biaya distribusi dari daerah Sumatra Barat dan Sumatera Utara selaku produsen yang diperhitungkan, sementara permintaan terhadap jeruk kasturi semakin meningkat, sehingga perlu peningkatan ketersediaan bibit yang berkualitas dalam jumlah yang banyak melalui kultur jaringan. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan UPT Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, jalan Kaharudin Nasution, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah laminar air flow cabinet, gelas ukur, gelas piala, petridish, pipet, autoclave, timbangan analitik, erlenmayer, magnetic stirrer, pengaduk kaca, pinset, skarpel, lampu spritus, hand sprayer, pH meter, pisau, botol kultur, kompor gas, labu ukur, tabung reaksi, karet plastik, panci, gunting, alumunium foil, alat tulis dan perlengkapan pencucian yang mendukung kegiatan dalam penelitian keltur jaringan. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh pemberian hormon 2,4-D dan BAP terhadap induksi dan pertumbuhan kalus tanaman jeruk kasturi (Citrus microcarpa) didapatkan data Waktu Muncul Kalus. Hasil pengamatan waktu muncul kalus pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian kombinasi hormon 2,4-D dan BAP secara deskripsi dari angka yang diperoleh adalah berpengaruh. Pada perlakuan D4B0,5 dan D4B1 merupakan rerata waktu muncul kalus yang paling cepat, yaitu 3,33 HSK. Semakin tinggi kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh yang ditambahkan dalam medium menyebabkan laju pertumbuhan kalus semakin tinggi, hal ini sesuai menurut Robles-Martinez et al. (2016) penggunaan auksin 2,4- D dapat memacu pertumbuhan kalus, auksin berupa 2,4-D dapat menaikkan tekanan osmotik, meningkat- kan permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding sel, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan plastisitas, dan pengembangan dinding sel.