Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Makna dan Tradisi Prosesi Tujuh Bulanan Ibu Hamil Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Desa Tempapan Kuala, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas Etriadi
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 3 No. 3 (2024): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v3i4.758

Abstract

This study aims to examine the meaning and tradition of the seven-month procession for pregnant women in the social life of the people of Tempapan Kuala Village, Galing Sub-district, Sambas Regency. The seven-month procession is part of a traditional ritual that is full of cultural values, religiosity, and social togetherness. This research used a qualitative approach with a descriptive method, where data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies. The results showed that the seven-month procession not only serves as a form of prayer and hope for the safety of the mother and fetus, but also strengthens social solidarity among community members. This tradition reflects a combination of Islamic values and local customs, which are implemented through various symbols and rituals, such as giving offerings, reciting prayers, and mutual cooperation in its implementation. In addition, the procession also serves as an informal educational tool for the younger generation on the importance of maintaining traditions and strengthening social relations. However, there are challenges in maintaining this tradition in the midst of modernization and social change. The findings contribute to understanding the role of local traditions in shaping cultural identity and strengthening social cohesion in rural communities. This study recommends the need for tradition preservation efforts through collaboration between traditional leaders, religious leaders, and the local government.
Konsep Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah di SMAN 1 Galing Etriadi
SAMBARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 (2024): September
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/sambarapkm.v3i1.757

Abstract

Local wisdom has great potential as a source of relevant and contextualized history learning for students. Historical materials do not have to be limited to textbooks, but can be obtained from the surrounding environment which is rich in local historical values. However, the enrichment of historical materials in schools, especially in public high schools, is still relatively minimal. This community service activity (PKM) aims to increase the knowledge of students and teachers at SMA Negeri 1 Galing through the integration of local wisdom as additional material in history learning. The PKM implementation method includes five stages: (1) location observation to understand the condition of the school and the number of participants, (2) confirmation with the school for scheduling activities, (3) implementation of material socialization by the team according to scientific fields, (4) evaluation through direct and indirect guidance related to the application of teaching materials, and (5) closing activities. The results of this activity showed an increase in students' and teachers' understanding of local history, and contributed to the enrichment of history subject matter in schools. Thus, local wisdom not only enriches learning materials but also strengthens students' cultural identity.
Makna Saprahan Dalam Tradisi Melayu Sambas Etriadi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2025): Juli
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v3i3.1001

Abstract

Tradisi Saprahan merupakan warisan budaya masyarakat Sambas yang mengandung nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi, tercermin dalam prinsip hidup "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi". Tradisi ini diwujudkan melalui praktik makan bersama dengan duduk bersila dalam barisan yang sama, mencerminkan solidaritas dan keharmonisan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai budaya dan fungsi sosial tradisi Saprahan sebagai wujud kearifan lokal dalam memperkuat kohesi sosial masyarakat Sambas. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Saprahan tidak hanya berperan sebagai aktivitas komunal, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai-nilai kekerabatan, toleransi, dan persatuan antarkomunitas. Temuan ini menegaskan bahwa Saprahan merupakan bentuk kearifan lokal yang relevan untuk terus dilestarikan dalam menghadapi tantangan modernisasi dan disintegrasi sosial
Pengalaman Belajar Mahasiswa Prodi Sejarah dan Peradaban Islam Unissas Sambas Dalam Upaya Melestarikan Warisan Budaya di Museum Daerah Sambas Etriadi
SAMBARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 2 (2025): Mei
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/sambarapkm.v3i2.1002

Abstract

Kurangnya pengetahuan tentang manfaatnya mengunjungi museum serta hal-hal yang tidak terkait dengan minat / bidang studi, menjadi masalah informasi yang perlu diperbaiki, baik dari segi pendidikan, pengembangan pribadi, maupun pengalaman budaya bagi mahasiswa PRODI Sejarah dan Peradaban Islam UNISSAS Sambas. Memahami alasan ini dapat membantu museum dan institusi pendidikan dalam mengembangkan strategi untuk meningkatkan minat dan keterlibatan mahasiswa dalam mengunjungi dan terlibat dengan museum, baik melalui program edukasi, konservasi dan restorasi terbuka, pengalangan dana dan kampanye sosial. Strategi metode pengabdian meliputi pendekatan kolaboratif dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti komunitas lokal, institusi pendidikan, ahli, dan pengunjung museum itu sendiri. Dengan menggunakan kuisioner atau angket yang relevan, pengabdian di museum daerah Sambas dapat menghasilkan data yang kuat dan bermanfaat untuk mengevaluasi keberhasilan program, memahami kebutuhan pengunjung, dan merencanakan perbaikan atau pengembangan lebih lanjut pada layanan museum. Melalui kampanye dan kegiatan penggalangan dana, museum dapat meningkatkan dukungan publik. Masyarakat akan melihat upaya nyata yang dilakukan oleh mahasiswa dan museum untuk menjaga, memelihara, serta mengembangkan aset budaya yang bernilai ini. Museum telah berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang mendalam bagi mahasiswa Prodi Sejarah serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memahami nilai-nilai budaya, mengasah keterampilan, dan terlibat dalam upaya pelestarian artefak bersejarah