Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kinerja kecerdasan buatan dalam mendeteksi fraktur tulang pada hasil radiografi : Sistematik Literatur Review Nurifin, Stevany
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v4i2.689

Abstract

Abstract Background: artificial intelligence (AI), is currently very widely used in various lines of human life, including in the health sector. Dalam ilmu radiologi peran AI sudah mulai dilibatkan dalam interpretasi pembacaan hasil pencitraan radiologi dengan tujuan agar penegakana diagnosis radiologis dapat berjalan lebih efisien. Purpose: To assess the performance of artificial intelligence in detecting human bone fractures on rediological imaging results. Method: A systematic literature review method using the PUBMED search application with a publication time span of the last 5 years using  search queries ("artificial intelligence" OR "machine learning" OR "deep learning") AND ("bone fracture detection" OR "fracture detection" OR "bone injury detection") AND ("X-ray" OR "radiograph") AND ("sensitivity" OR "diagnosis speed "OR" cost efficency). Result: The results of the search found 27 manuscripts that were included in the inclusion criteria, where it can be seen that the use of AI in the field of radiology has been carried out in many countries, not only for x-ray radiology imaging, but also for CT Scan, and MRI imaging, which are applied to various bone fractures and have also been compared in speed and effectiveness for diagnosis using human radiologists. Conclusion: From this study, it can be concluded that  the artificial intelligence method has a fairly good ability in identifying human bone fractures on radiological images, which can help clinicians to avoid misdiagnosis and speed up the time to establish the diagnosis.   Pendahuluan: Kecerdasan buatan atau yang sering dikenal dengan artificial inteligent (AI), saat ini sudah sangat luas sekali digunakan dalam berbagai lini kehidupan manusia, termasuk di bidang kesehatan. Dalam ilmu radiologi peran AI sudah mulai dilibatkan dalam interpretasi pembacaan hasil pencitraan radiologi dengan tujuan agar penegakana diagnosis radiologis dapat berjalan lebih efisien. Tujuan: Penelitian ini  bertujuan untuk menilai kinerja kecerdasan buatan dalam mendeteksi fraktur tulang manusia pada hasil pencitraan radilogis. Metode: Studi ini dilakukan dengan metode sistematik literatur review menggunakan aplikasi pencarian PUBMED dengan rentang waktu publikasi 5 tahun terakhir menggunakan query pencarian ("artificial intelligence" OR "machine learning" OR "deep learning") AND ("bone fracture detection" OR "fracture detection" OR "bone injury detection") AND ("X-ray" OR "radiograph") AND ("sensitivity" OR "diagnosis speed “OR” cost efficency”). Hasil: Hasil penelusuran ditemukan 27 naskah yang masuk dalam kriteria inklusi, dimana terlihat bahwa penggunaan AI dalam bidang radiologi sudah dilakukan di banyak negara, tidak hanya untuk pencitraan radiologi x ray, namun juga pada pencitraan CT Scan, dan MRI, yang diaplikasikan pada berbagai fraktur tulang serta  telah pula dilakukan perbandingan kecepatan dan efektifitasnya terhadap diagnosis menggunakan radiolog manusia. Simpulan: Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa  metode kecerdasan buatan memiliki kemampuan yang cukup baik dalam melakukan identifikasi fraktur tulang manusia pada gambaran radiologik, hal ini dapat membantu klinisi untuk menghindari kesalahan diagnosis dan mempercepat waktu penegakan diagnosis.
Performance of artificial intelligence in detecting bone fractures in radiographic results: A systematic literature review Nurifin, Stevany
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 Number 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i1.666

Abstract

Background: Artificial intelligence (AI), is currently very widely used in various lines of human life, including in the health sector. In radiology, the role of AI has begun to be involved in the interpretation of radiological imaging results with the aim of making radiological diagnosis more efficient. Purpose: To assess the performance of artificial intelligence in detecting human bone fractures on radiological imaging results. Method: A systematic literature review method using the PUBMED search application with a publication period of the last 5 years using search queries ("artificial intelligence" OR "machine learning" OR "deep learning") AND ("bone fracture detection" OR "fracture detection" OR "bone injury detection") AND ("X-ray" OR "radiograph") AND ("sensitivity" OR "diagnosis speed "OR" cost efficiency). Results: There are 27 articles showing that the use of AI in the field of radiology has been widely used in various countries, not only for X-ray radiology imaging, but also for CT Scan and MRI imaging applied to various fractures and its speed and effectiveness have also been compared for diagnosis using human radiology personnel. Conclusion: Artificial intelligence methods have a fairly good ability to identify human fractures in radiological images, which can help doctors avoid misdiagnosis and speed up the time to establish a diagnosis.
Peran Usg Thorax dalam Mengungkap Efusi Pleura: Kasus dan Inovasi Nurifin, Stevany
Lentera: Multidisciplinary Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Lentera: Multidisciplinary Studies
Publisher : Publikasiku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/lentera.v3i1.134

Abstract

Efusi pleura adalah penumpukan cairan abnormal di rongga pleura, ruang antara pleura parietal dan pleura viseral yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Diagnosis yang akurat dan cepat sangat penting untuk pengobatan yang efektif. Studi kasus ini menyajikan seorang wanita berusia 45 tahun dengan sesak napas yang semakin parah dan nyeri dada. Pemeriksaan foto thorax awal gagal mendeteksi efusi pleura minimal, yang biasanya hanya teridentifikasi jika jumlah cairan melebihi 200 mL. Namun, USG thorax berhasil mengidentifikasi efusi dengan volume cairan minimal sekitar 5-50 mL. USG thorax menawarkan akurasi tinggi, memungkinkan visualisasi langsung cairan pleura, dan memandu prosedur torakosentesis. Ini tidak hanya meningkatkan ketepatan diagnosis tetapi juga meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan klinis. Oleh karena itu, USG thorax adalah alat penting dalam diagnosis dan manajemen efusi pleura, memberikan hasil klinis yang optimal.
Peran Usg Thorax dalam Mengungkap Efusi Pleura: Kasus dan Inovasi Nurifin, Stevany
Lentera: Multidisciplinary Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Lentera: Multidisciplinary Studies
Publisher : Publikasiku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/lentera.v3i1.134

Abstract

Efusi pleura adalah penumpukan cairan abnormal di rongga pleura, ruang antara pleura parietal dan pleura viseral yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Diagnosis yang akurat dan cepat sangat penting untuk pengobatan yang efektif. Studi kasus ini menyajikan seorang wanita berusia 45 tahun dengan sesak napas yang semakin parah dan nyeri dada. Pemeriksaan foto thorax awal gagal mendeteksi efusi pleura minimal, yang biasanya hanya teridentifikasi jika jumlah cairan melebihi 200 mL. Namun, USG thorax berhasil mengidentifikasi efusi dengan volume cairan minimal sekitar 5-50 mL. USG thorax menawarkan akurasi tinggi, memungkinkan visualisasi langsung cairan pleura, dan memandu prosedur torakosentesis. Ini tidak hanya meningkatkan ketepatan diagnosis tetapi juga meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan klinis. Oleh karena itu, USG thorax adalah alat penting dalam diagnosis dan manajemen efusi pleura, memberikan hasil klinis yang optimal.
Perbandingan Keakuratan CT Angiography dan MRI dalam Diagnosa Penyakit Arteri Koroner: Tinjauan Literatur Sistematis Nurifin, Stevany
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.56797

Abstract

Penyakit arteri koroner (PAC) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas global akibat penyempitan atau penyumbatan arteri koroner oleh plak aterosklerotik, yang dapat menyebabkan iskemia miokard, angina pektoris, infark miokard, gagal jantung, hingga kematian mendadak. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk memastikan intervensi medis yang tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas computed tomography angiography (CTA) dan magnetic resonance imaging (MRI) dalam mendeteksi PAC. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap 50 studi relevan yang membahas keakuratan kedua modalitas pencitraan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CTA memiliki sensitivitas dan spesifisitas rata-rata masing-masing 95% dan 97%, sementara MRI memiliki sensitivitas 89% dan spesifisitas 94%. CTA unggul dalam resolusi spasial tinggi untuk visualisasi anatomi arteri koroner, meskipun memiliki keterbatasan berupa paparan radiasi ionisasi dan risiko reaksi alergi terhadap media kontras. Sebaliknya, MRI lebih aman karena tidak menggunakan radiasi dan dapat mengevaluasi fungsi jantung, perfusi miokard, serta viabilitas jaringan, sehingga cocok untuk pasien dengan risiko tinggi atau kebutuhan pemeriksaan berulang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi CTA dan MRI melalui pendekatan hybrid imaging dapat meningkatkan akurasi diagnostik secara komprehensif. Oleh karena itu, pemilihan modalitas pencitraan harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan tujuan pemeriksaan untuk meningkatkan kualitas diagnosis PAC serta efektivitas pengelolaan penyakit ini.