Penyakit arteri koroner (PAC) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas global akibat penyempitan atau penyumbatan arteri koroner oleh plak aterosklerotik, yang dapat menyebabkan iskemia miokard, angina pektoris, infark miokard, gagal jantung, hingga kematian mendadak. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk memastikan intervensi medis yang tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas computed tomography angiography (CTA) dan magnetic resonance imaging (MRI) dalam mendeteksi PAC. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap 50 studi relevan yang membahas keakuratan kedua modalitas pencitraan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CTA memiliki sensitivitas dan spesifisitas rata-rata masing-masing 95% dan 97%, sementara MRI memiliki sensitivitas 89% dan spesifisitas 94%. CTA unggul dalam resolusi spasial tinggi untuk visualisasi anatomi arteri koroner, meskipun memiliki keterbatasan berupa paparan radiasi ionisasi dan risiko reaksi alergi terhadap media kontras. Sebaliknya, MRI lebih aman karena tidak menggunakan radiasi dan dapat mengevaluasi fungsi jantung, perfusi miokard, serta viabilitas jaringan, sehingga cocok untuk pasien dengan risiko tinggi atau kebutuhan pemeriksaan berulang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi CTA dan MRI melalui pendekatan hybrid imaging dapat meningkatkan akurasi diagnostik secara komprehensif. Oleh karena itu, pemilihan modalitas pencitraan harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan tujuan pemeriksaan untuk meningkatkan kualitas diagnosis PAC serta efektivitas pengelolaan penyakit ini.
Copyrights © 2025