Novendri Putra
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelestarian Pakaian Adat Melayu Riau Bagi Remaja di Provinsi Riau : Budaya Melayu Riau Novendri Putra; Sri Wahyuningsih; Rizky Fatya Amanda; Juliani, Juliani; Yunda Hasbi Pratama
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i2.3806

Abstract

Riau Province is an Indonesian province located on the east coast of the central island of Sumatra. Its coastal area borders the Strait of Malacca. Until 2004, the province also included the Riau Islands, a large group of small islands (the main islands include Batam Island and Bintan Island) located east of Sumatra and south of Singapore. The archipelago was split into its own province in July 2004. The capital and largest city in Riau province is Pekanbaru, and the other major city after Pekanbaru is Dumai. Riau is currently one of the richest provinces in Indonesia, and its resources are dominated by natural resources, especially petroleum, natural gas, rubber, oil palm and fiber plantations. along with the abundance of natural resources, Riau is also famous for its rich traditions and culture, both physical and non-physical that are inherent in the Riau people themselves. one of the physical cultures in Riau is Riau Malay traditional clothing. The people in Riau are dominated by the Malay tribe, where this tribe is also influenced by the Malay culture in Sumatra, Malaysia, Singapore. due to the close proximity of the region. characterized by similarities in dress or dress that has its own characteristics. the people of Riau usually wear their traditional clothes at major events, such as traditional ceremonies, holidays, official events.
Dinamika Persepsi Spasial Masyarakat Pariangan: Mempertahankan Kearifan Tradisional di Tengah Tekanan Modernisasi Almegi Almegi; Novendri Putra
TSAQIFA NUSANTARA: Jurnal Pembelajaran dan Isu-Isu Sosial Vol. 5 No. 1 (2026): Vol 05. No. 01 2026 (Maret)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem pegunungan memainkan peran vital sebagai penyedia jasa lingkungan sekaligus ruang hidup yang membentuk identitas sosial-budaya masyarakat lokal. Namun, di tengah arus modernisasi yang masif, cara masyarakat memaknai dan berinteraksi dengan ruang ekologisnya mulai mengalami transformasi nilai yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi spasial masyarakat lokal terhadap jasa ekosistem pegunungan serta perubahan persepsi tersebut di tengah tekanan modernisasi di Nagari Tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-eksploratif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 28 informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas petani, tokoh adat, dan masyarakat yang memiliki keterkaitan langsung dengan pemanfaatan jasa ekosistem Gunung Marapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memandang Gunung Marapi sebagai sistem ekologis terintegrasi yang menyediakan jasa penyedia, pengaturan, budaya, dan pendukung. Persepsi spasial masyarakat dibentuk oleh kedekatan lokasi, aksesibilitas, keterkaitan antarwilayah, serta aktivitas manusia. Kearifan lokal masih berperan sebagai dasar moral dan ekologis dalam pengelolaan lingkungan, namun modernisasi mendorong transformasi persepsi dari orientasi ekologis–spiritual menuju orientasi ekonomi dan pemanfaatan ruang yang lebih rasional. Meskipun demikian, nilai-nilai tradisional tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan berintegrasi dengan kebutuhan adaptasi modern. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan ekosistem pegunungan berbasis persepsi spasial dan pengetahuan lokal untuk menjaga keberlanjutan sistem sosial-ekologi pegunungan. Kata Kunci: Ekosistem pegunungan, jasa lingkungan, kearifan lokal, modernisasi, persepsi spasial