Sandidi, Agung
Universitas Kristen Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengenalan Budaya dan Bahasa Betawi kepada Pengungsi Asal Timur Tengah, Myanmar, dan Afrika di Jakarta Saragih, Mike Wijaya; Prasetyo, Teguh; Sirait, Lisbeth; Fortunae, Benedicta Stella; Sandidi, Agung; Lendway, Natan Christofel
Jurnal PKM: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2025): Jurnal PkM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v8i1.27561

Abstract

Pengungsi merupakan komunitas diaspora yang sering dianggap liyan karena terpaksa pindah dari negara asal. Di Indonesia, khususnya Jakarta, pengungsi menempati ruang-ruang terbatas sebagai warga yang terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu dan kurang terintegrasi dengan ruang budaya Jakarta itu sendiri. Pengungsi kurang memiliki akses untuk melebur atau sekadar memahami budaya lokal Jakarta. Menyikapi fenomena tersebut, Universitas Kristen Indonesia bekerja sama dengan JRS Indonesia dan UNHCR melakukan upaya mengenalkan budaya dan bahasa Jakarta/Betawi kepada para pengungsi di Jakarta. Target peserta dalam kegiatan ini adalah pengungsi dewasa yang berasal dari Timur Tengah, Afrika, dan Myanmar. Pengenalan budaya ini dilakukan dengan berbagai cara, seperti menonton film pendek dan diskusi mengenai tradisi Palang Pintu. Dari film tersebut, pengungsi diajak berkenalan lebih jauh mengenai tradisi, bahasa, maupun makanan tradisional Betawi. Tujuannya, para pengungsi, khususnya orang tua, dapat lebih mendekatkan diri dengan masyarakat di tempat mereka singgah, yakni di Jakarta. Metode yang digunakan dalam pengenalan dan diskusi budaya ini adalah dengan sosialisasi, diskusi/wawancara, dan pengisian kuesioner. Dari wawancara dan pengisian kuesioner ditemukan bahwa kegiatan ini sangat membantu dalam memperkaya pengetahuan tentang lingkungan dan budaya masyarakat Jakarta sehingga mereka lebih mengenal dan mau berbaur (tidak merasa inferior) dengan masyarakat Jakarta sendiri.