Luthviyah Romziana
Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tradisi Muraja’ah dalam Menjaga Hafalan Al-Qur’an bagi Santri PPIQ di Wilayah Az-Zainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Luthviyah Romziana; Wilandari Wilandari; Lum Atul Aisih
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 11 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v11i2.125

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian living Quran dalam tradisi muraja’ah menjaga hafalan al-Qur’an bagi santri PPIQ di wilayah Az-Zainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tradisi muraja’ah merupakan salah satu metode yang diterapkan di PPIQ az-Zainiyah untuk menjaga hafalan santri. Dalam penelitian ini ada beberapa hal yang hendak dicapai yaitu mengenai praktek muraja’ah al-Qur’an santri PPIQ, sejauh mana efektifitas santri PPIQ dalam menjaga hafalan al-Qur’an dan mengenai makna muraja’ah al-Qur’an bagi santri PPIQ. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pada tahap deskriptif akan dibahas tentang segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tradisi muraja’ah al-Qur’an, seperti bagaimana santri menjaga hafalan, apa kendala dari menghafal al-Qur’an. Sedangkan teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah, dalam segi pelaksanaan, terdapat 2 praktik muraja’ah, yaitu praktik yang dilakukan harian dan bulanan. Praktik harian dilakukan setiap malam setelah salat maghrib yaitu pukul 18.00 WIB - 20.00 WIB, kecuali malam Jumat dan Selasa dengan membaca al-Qur'an sebanyak 5 kaca (2,5 halaman). Sedangkan praktik bulanan yaitu membacakan al-Qur'an bi al-ghayb secara lancar dan benar dalam hukum tajwid, dan semua juz yang sudah dihafal akan disimak oleh teman, pengurus ataupun pembina. Adapun resepsi santri dalam tradisi muraja’ah dalam menjaga hafalan al-Qur’an di PPIQ wilayah az-Zainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid yaitu: pertama, al-Qur’an merupakan shifa’ atau obat. Kedua, dengan al-Qur’an menjadikan dekat dengan Rabb-nya. Ketiga, mendapat keberkahan dari al-Qur’an.
Pendampingan Metode Jibril dalam Program Tahsinul Qiroa'ah untuk Meningkatkan Kualitas Bacaan Al-Qur'an Santri Baru di Pusat Pendidikan Ilmu Al-Qur'an Pondok Pesantren Nurul Jadid Luthviyah Romziana; Renilda Vili Andini; Mala Hayati; Nayla Amalia; Apriliyani Firdausiyah; Siti Aisyah; Arina Isa Salsabila
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 1 No. 3 (2024): September-Desember "Implementation of Social Service Programs to Increase Commu
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/af4ncd70

Abstract

Menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an santri baru, terutama karena latar belakang pendidikan santri yang beragam. Metode konvensional seperti halaqah sering kali kurang efektif dalam memberikan perhatian individual kepada santri. Oleh karena itu, Metode Jibril diterapkan dalam Program Tahsinul Qiroa'ah sebagai pendekatan inovatif yang mengedepankan pendampingan intensif untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an secara tajwid dan tartil.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas implementasi Metode Jibril dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an santri baru di PPIQ Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kegiatan ini menggunakan pendekatan sistematis yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pendampingan dilakukan selama tiga minggu dengan dua tahapan utama: tahqiq (pengenalan dasar bacaan) dan tartil (pendalaman hukum tajwid). Data diperoleh melalui pre-test, post-test, dan observasi langsung selama pelaksanaan program. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada kualitas bacaan Al-Qur'an santri, khususnya dalam pelafalan huruf hijaiyah, penerapan hukum tajwid, dan tartil. Program ini juga berhasil menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan personal, sehingga meningkatkan motivasi santri dalam mempelajari Al-Qur'an. Metode Jibril terbukti efektif dalam mengatasi kendala pembelajaran Al-Qur'an yang dihadapi santri baru di PPIQ Pondok Pesantren Nurul Jadid. Implementasi program ini memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas bacaan santri dan dapat direplikasi sebagai model pembelajaran di lembaga lain.
Millennial Interpretation Model of the Triqul Surahs in The Qur’anything by Ismail Al-Ascholy: A Perspective of H. G. Gadamer’s Hermeneutics Intan Paramisti; Luthviyah Romziana
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i1.2649

Abstract

The religious condition of the millennial generation in the digital era is characterized by the openness of information, the intensity of social media use, as well as fatigue toward modes of Islamic teaching that are formal, rigid, and less communicative. One relevant approach to address this issue is Hans-Georg Gadamer’s hermeneutics. This study is a library research employing a qualitative approach, using the concepts of Wirkungsgeschichte (history of effect), pre-understanding, fusion of horizons, and application (Anwendung). The findings indicate that pesantren background, the oral culture of Madura, and Ismail’s engagement in the digital sphere shape a productive pre-understanding that gives rise to a strong adab? ijtim?‘? exegetical style, marked by contextual bi al-ra’yi interpretation and a popular–humorous tone. Surah al-Ikhl?? is read as a critique of the phenomenon of “semi-gods” and ego-idolatry; al-Falaq is interpreted as a “fissure” in the dynamics of life and as a critique of envy and competition in social media culture; while al-N?s is understood as a response to whisperings, inner anxiety, and the psychological pressures of the digital age. Thus, The Qur’anything presents a model of popular Qur’anic exegesis that bridges the authority of pesantren tradition with the spiritual and psychological needs of the millennial generation, while reaffirming the Qur’an as a living text that remains relevant to contemporary religious problems.