Lucy Dewan Yulianto
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TIPE BERPIKIR ANAK BERBAKAT MATEMATIKA TINGKAT SMA DI KOTA BANDUNG Lucy Dewan Yulianto; Turmudi Turmudi; Asep Syarif Hidayatullah
Journal on Mathematics Education Research (J-MER) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/j-mer.v2i2.7910

Abstract

Keunikan seorang anak merupakan fenomena yang menarik, dari cara berpikir, gaya belajar, psikologis anak dan masih banyak lagi. Potensi yang dimiliki suatu individu dinamakan bakat. Kecerdasan dan keberbakatan dianggap suatu konsep yang berhubungan. Cerdas istimewa dan berbakat istimewa, cerdas istimewa dipandang sebagai potensi intelektual secara umum, sedangkan berbakat istimewa merupakan potensi individu pada suatu bidang tertentu. Salah satunya adalah matematika. Anak berbakat matematika merupakan bagian kelompok anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa dalam bidang matematika atau menunjukkan kemampuan matematika yang luar biasa. Cara berpikir mereka berbeda ketika memahami masalah matematika. Hal ini merupakan fenomenayang menarik untuk diteliti mendalam.Penelitian ini menggunakan metode partisipan observer moderat yang bertujuan melihat karakteristik dan pola pikir anak berbakat matematika secara mendalam. Tipeberpikir anak berbakat matematika tingkat SMA di Kota Bandung itu berbeda-beda, ada anak yang bertipe aljabar, analisis, logika, geometri-spasial, kombinatorik, dan adapula anak yang bertipe divergen. Pola pikir yang berbeda akibat dari pengalaman dan latihan yang berbeda pula. Beberapa anak berbakat mampu meraih prestasi, namun ada pula anak berbakat yang berprestasi kurang (underachiever). Tiga faktor penting dalam mencetak anak yang unggul dalam matematika, yakni keberbakatan matematika, motivasi internal-eksternal dan lingkungan. Dilihat dari sisi psikologis, anak berbakat matematika memiliki sifat-sifat yang berbeda dari anak pada umumnya, terutama rasa empati. Semakin tinggi logika anak, maka semakin rendah rasa empati. Fenomena tersebut perlu diteliti lebih lanjut.