Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Eksplorasi Potensi Tanaman Lokal dalam Meredakan Gejala Inflamasi Periodontitis: Scoping Review Lintang Mega Pertiwi; Dorisna Prijaryanti; Arini Indriyasari
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45711

Abstract

Periodontitis merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang ditandai dengan adanya peradangan yang terjadi di jaringan periodontal, khususnya di jaringan-jaringan yang mendukung struktur gigi seperti root cementum, gingiva, periodontal ligament, dan alveolar bone. Periodontitis umumnya ditandai dengan gejala inflamasi kronis dengan peningkatan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, interleukin (IL)-6, IL-10, and IL-17. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan jenis tanaman lokal dan kandungan dalam tanaman lokal yang mampu dimanfaatkan sebagai terapi adjuvant dalam pengelolaan periodontitis. Penelitian ini dilakukan dengan metode scoping review melibatkan sumber informasi dari ScienceDirect, PubMed, dan Google Scholar. Hasilnya terdapat 16 artikel ilmiah yang menunjukkan bahwa tanaman lokal memiliki potensi untuk dijadikan sebagai terapi adjuvant bagi penderita periodontitis antara lain adalah biji papaya, kulit buah naga merah, daun kelor, aloe vera, ikan lemuru, virgin coconut oil, green robusta coffee bean extract, daun Graptophyllum Pictum, daun miana ungu, kulit buah cocoa, daun binahong, curcumin, dan gingseng merah. Tanaman lokal tersebut mengandung antioksidan seperti polifenol, flavonoid, quercetin, alkaloid, xanthone, EPA dan DHA yang berpotensi meredakan inflamasi pada penderita periodontitis. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas tanaman lokal dalam meredakan inflamasi pada periodontitis.
EDUKASI DAN PEMERIKSAAN RONGGA MULUT SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI ANEMIA PADA REMAJA PUTRI Dorisna Prijaryanti; Maulidya Machdaniar; Lintang Mega Pertiwi
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 9, No 3 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v9i3.40288

Abstract

Abstrak: Permasalahan kesehatan yang mendominasi pada kelompok usia remaja putri adalah Anemia. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Selain pemeriksaan laboratorium, anemia dapat menimbulkan manifestasi klinis pada rongga mulut, seperti glositis, mukosa pucat, dan stomatitis aftosa rekuren (SAR). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai anemia serta melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan rongga mulut. Kegiatan dilaksanakan di SMKN 1 Ngasem Kediri dengan melibatkan 71 siswi. Metode yang digunakan meliputi edukasi mengenai penyebab, gejala, pencegahan anemia, dan manifestasi oral anemia, dilanjutkan dengan pemeriksaan rongga mulut menggunakan kaca mulut, tongue spatula, dan senter. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta terkait anemia berdasarkan diskusi dan tanya jawab setelah edukasi. Pemeriksaan rongga mulut menemukan 3 siswi (4,2%) mengalami glositis ringan dan 4 siswi (5,6%) mengalami stomatitis aftosa rekuren, sedangkan sebagian besar peserta menunjukkan kondisi rongga mulut normal. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dan pemeriksaan rongga mulut dapat menjadi metode sederhana yang bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran serta mendukung deteksi dini anemia pada remaja putri di lingkungan sekolah.Abstract:  Anaemia is still a major health concern among teenage females because of increased iron demand during growth and blood loss during menstruation. In addition to laboratory results, anemia can cause clinical indicators in the oral cavity, such as pale mucosa, glossitis, and recurrent aphthous stomatitis (RAS). The objectives of this community service initiative are to raise awareness of anemia among teenage girls and encourage early detection through oral cavity exams. The event took place at SMKN 1 Ngasem Kediri and involved 71 female students. The oral cavity was examined using a mouth mirror, tongue spatula, and torch following education on the causes, symptoms, prevention, and oral manifestations of anemia. Descriptive analysis of the data was done using percentages and frequency distributions. Based on discussions and post-session question responses, the activity's outcomes indicated improved participants' comprehension of anemia. Oral examinations showed that while most participants had normal oral health, three female students (4.2%) had mild glossitis and four (5.6%) had recurrent aphthous stomatitis. This exercise shows how oral cavity exams and education can be straightforward but powerful ways to promote early anemia identification among teenage girls in school environments.
Assessment of Dental, Oral, and Nutritional Health Condition in Rejomulyo Christinne Triwidawati; Lintang Mega Pertiwi; Dorisna Prijaryanti; Widy Jatmiko
NuCSJo : Nusantara Community Service Journal Vol. 1 No. 3 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/nucsjo.v1i3.89

Abstract

Dental and oral health play an important role in determining individual’s well being and quality of life. The appropriateness of dietary intake as shown by Body Mass Index (BMI) is a factor that influences dental and oral health. The objective of this community services is to identify health issues and improve awareness regarding dental health, oral hygine, and nutrition among the society in Rejomulyo. This activity employs observation, data collecting, material preparation, and the execution of health education. The observation phase revealed that dental and oral health in Rejomulyo exhibited a middling state, with 32% of respondents classified as obese. The outcomes of the education activities indicate an enhancement in respondent’s knowledge of dental, oral, and nutrition. 
MODULASI MIKROBIOTA USUS MELALUI FERMENTASI PANGAN LOKAL DALAM PENCEGAHAN SINDROM METABOLIK Maulidya Machdaniar; Lintang Mega Pertiwi; Ibnu Gunawan
Jurnal Kesehatan dan Pembangunan Vol 16 No 2 (2026): Jurnal Kesehatan dan Pembangunan
Publisher : LPPM STIKes Mitra Adiguna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52047/jkp.v16i2.474

Abstract

Metabolic syndrome is a cluster of cardiometabolic risk factors with an increasing global prevalence, including in Indonesia (21.66%). Gut microbiota dysbiosis has been identified as a central mechanism linking dietary patterns to metabolic syndrome pathogenesis through inflammatory pathways, insulin resistance, and hepatic dysfunction. Fermented foods represent a promising non-pharmacological prevention strategy through modulation of the gut microbiota ecosystem; however, evidence based on Indonesian local foods remains scarce. This study employed a Systematic Literature Review (SLR) approach combined with bibliometric analysis using VOSviewer 1.6.20 on 106 selected articles from the ScienceDirect database (2016–2026). The analysis identified four major clusters: (1) gut microbiota composition modulation and lipid-hepatic regulation via the gut–liver axis; (2) microbiota–SCFA–insulin resistance interactions; (3) gene expression regulation and PI3K/AKT cellular signaling; and (4) translational applications of probiotic- and prebiotic-based functional foods. Cross-cluster synthesis revealed that short-chain fatty acids (SCFAs), particularly butyrate, serve as key mediators linking all four pathways simultaneously. Traditional Indonesian fermented foods such as tempe, oncom, and tape possess inherent synbiotic potential yet remain systematically unexplored. These findings underscore the urgency of conducting clinical research on local Indonesian fermented foods to support nutritional policy development and functional food innovation.