Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Isolasi dan Uji Patogenesitas Cendawan Endofit Asal Tanaman Pisang Kepok (Musa acuminate balbisiana colla): Isolation and Inhibition Test of Endophytic Fungi from Kepok Banana (Musa acuminate balbisiana colla) Eka Lestari Ariyanti; Rahmat Jahuddin; Asti Irawanti Azis
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.5429

Abstract

Cendawan endofit dapat digunakan sebagai agens hayati dalam memperbaiki pertumbuhan dan ketahanan tanaman dalam menghadapi serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengisolasi cendawan endofit asal tanaman pisang dan menguji potensinya sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil isolasi cendawan endofit pada jaringan tanaman pisang kepok diperoleh sebanyak 6 isolat. Hasil identifikasi dan karakterisasi menunjukkan terdapat 4 genus cendawan. Genus cendawan tersebut yaitu Culvularia sp., Fusarium sp., Aspergillus sp., dan Trichoderma sp. Isolat cendawan tersebut diseleksi untuk melihat kemampuan dalam memacu pertumbuhan tanaman melalui uji patogenesitas. Hasil uji patogenesitas menunjukkan cendawan dari genus Trichoderma sp., dan Fusarium sp. memiliki kemampuan terbaik dalam memacu pertumbuhan tanaman. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa cendawan endofit non patogen asal tanaman pisang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Endophytic fungi can be used as biological agents in improving plant growth and resistance in the face of disease attacks. This study aims to isolate endophytic fungi from banana plants and test their potential as a booster for plant growth. From the results of the isolation of endophytic fungi in the banana pupace plant tissue, 6 isolates were obtained. The results of identification and characterization show that there are 4 genera of fungi. The genus of fungi is Culvularia sp., Fusarium sp., Aspergillus sp., and Trichoderma sp. The fungus isolates were selected to see the ability to spur plant growth through pathogenicity tests. Pathogenicity test results show that fungi from the genus Trichoderma sp., and Fusarium sp. have the best ability to spur plant growth. This indicates that some non-pathogenic endophytic fungi from banana plants have the potential to be a driver of plant growth.
Identifikasi Penyebab Penyakit pada Filosfer Tanaman Vanili di Kelurahan Palampang, Bulukumba Iis Yulia Ningsih; Yulis Sayang; Eka Lestari Ariyanti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jzh8ja34

Abstract

Tanaman vanili (Vanilla planifolia) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi, namun produktivitasnya mengalami penurunan akibat serangan penyakit pada bagian tanaman di atas permukaan tanah (filosfer). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen penyebab penyakit pada filosfer tanaman vanili serta menguji efektivitas biofungisida Glio WP dalam menghambat pertumbuhan patogen secara in vitro. Penelitian diawali dengan eksplorasi lapangan di Kelurahan Palampang, Kabupaten Bulukumba, dilanjutkan dengan isolasi dan identifikasi cendawan patogen di Laboratorium. Identifikasi dilakukan berdasarkan karakteristik makroskopis dan mikroskopis, sedangkan uji antagonis menggunakan Glio WP pada konsentrasi 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patogen berasosiasi dengan penyakit filosfer vanili terdiri atas Aspergillus flavus dan Aspergillus niger pada daun, serta Fusarium oxysporum pada batang. Aspergillus flavus dan Aspergillus niger berperan sebagai patogen sekunder pada jaringan daun yang telah terinfeksi Cephaleuros sp., sedangkan Fusarium oxysporum merupakan penyebab utama penyakit busuk batang vanili. Uji antagonis menunjukkan bahwa Glio WP mampu menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum sebesar 66,82% dan Aspergillus flavus sebesar 24,91%-32,41%, namun tidak efektif terhadap Aspergillus niger.