Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Test of The Effectiveness of Sweet Wood (Cinnamomum Burmanii) on Healing of Wood Wounds in Wistar Rats Muhammad Chairul; Stevani Rose Br Sinaga; Boyke Marthin Simbolon
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i1.50271

Abstract

Incised wounds are disruptions of skin integrity that require effective treatment to accelerate healing. Cinnamon (Cinnamomum burmanii), rich in secondary metabolites such as eugenol, cinnamaldehyde, and flavonoids, is known for its potential as an anti- inflammatory, antioxidant, and antibacterial agent. This study aims to evaluate the effectiveness of cinnamon extract ointment in healing incised wounds in Wistar rats. This experimental study used a post-test only control group design. A total of 30 Wistar rats were divided into five groups: a negative control (ointment base), a positive control (gentamicin ointment), and three treatment groups with cinnamon extract ointments at concentrations of 10%, 20%, and 40%. Observations of wound length and healing percentages were conducted over 14 days. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests. The results showed a significant reduction in wound length in the 40% cinnamon extract ointment group (19.6 mm) compared to the negative control (12.8 mm) and were close to the effectiveness of gentamicin ointment (20 mm). The highest wound healing percentage was also achieved in the 40% concentration group (98.2%), comparable to gentamicin ointment (100%). Cinnamon extract ointment at a concentration of 40% effectively accelerates the healing of incised wounds in Wistar rats, with effectiveness comparable to gentamicin ointment. Further research is needed to evaluate its safety and clinical potential.
Hubungan Hipertensi dengan Penurunan Glomerular Filtration Rate pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Wulantika Silaban; Elviyanti Br. Tarigana; Boyke Marthin Simbolon
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.8978

Abstract

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Hipertensi diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko utama terjadinya dan progresivitas GGK, dengan prevalensi mencapai 85-90% pada pasien GGK. Penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) merupakan indikator utama penurunan fungsi ginjal yang progresif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara hipertensi dengan penurunan GFR pada pasien GGK di Rumah Sakit Khusus Ginjal Rasyida Medan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 129 pasien GGK. Data dikumpulkan melalui rekam medis yang mencakup karakteristik demografis, status hipertensi, nilai GFR, dan komorbiditas lainnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan program SPSS. Dari 129 subjek penelitian, mayoritas adalah laki-laki (62,8%) dengan kelompok usia terbanyak 60-80 tahun (45,0%). Prevalensi hipertensi pada pasien GGK sangat tinggi mencapai 95,3%. Sebagian besar pasien berada pada stadium terminal G5 (67,4%). Diabetes melitus ditemukan pada 17,8% pasien. Analisis bivariat menunjukkan bahwa pada pasien dengan hipertensi, 82,2% berada pada stadium lanjut (G4-G5), mengonfirmasi hubungan yang kuat antara hipertensi dengan progresivitas GGK. Kelompok usia muda (25-42 tahun) menunjukkan proporsi tertinggi pada stadium terminal (88,9%), mengindikasikan progresivitas yang lebih cepat. Terdapat hubungan bidireksional antara hipertensi dan penurunan GFR pada pasien GGK. Hipertensi mempercepat penurunan fungsi ginjal melalui berbagai mekanisme patofisiologis, sementara penurunan fungsi ginjal memperburuk hipertensi, membentuk siklus yang saling memperkuat. Tingginya proporsi pasien pada stadium terminal menekankan pentingnya deteksi dini, kontrol tekanan darah yang optimal, dan penatalaksanaan komprehensif untuk memperlambat progresivitas GGK.