Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus pada Tenaga Kesehatan di Instalasi Gawat Darurat dan Rawat Inap Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado Tirza M. Z. Osok; Olivia A. Waworuntu; Heriyannis Homenta
Jurnal Syntax Admiration Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Syntax Admiration
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jsa.v6i1.2073

Abstract

Improper use of antibiotics can lead to antibiotic resistance. According to the World Health Organization (WHO), antibiotic resistance is currently one of the greatest global health threats. The 2022 WHO Global Antimicrobial Resistance and Use and Surveillance System (GLASS) report indicates that One of the common bacteria that is found to be resistant to antibiotics is Staphylococcus aureus which is resistant to methicillin or Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). MRSA is recognized as a leading cause of Healthcare-Associated Infections (HAIs) and is associated with high morbidity, mortality, and healthcare costs. Research on MRSA among healthcare workers in Indonesia, especially in Manado, is still very limited, which prompted this study. Purpose: To identify the presence of MRSA among healthcare workers in the Emergency Department (ED) and inpatient wards at Sitti Maryam Islamic Hospital, Manado. Methods: A cross-sectional study involving all nurses working in the ED and inpatient wards. Nasal swab samples were cultured on MSA media and further bacterial identification was conducted. Antibiotic sensitivity testing was performed using MHA media and cefoxitin disks 30 μg. Results: Out of the 23 anterior nasal swab samples taken from healthcare workers, it was found that 13 samples (57%) of healthcare workers had Staphylococcus aureus colonization and 5 samples (38%) of them had resistance to the antibiotic cefoxitin. The overall MRSA colonization in the nasal cavities of healthcare workers was 5/23 (22%). Conclusion: MRSA was identified among healthcare workers at Sitti Maryam Islamic Hospital, Manado.
Identifikasi Methicillin – Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) pada Tenaga Kesehatan di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Dr. J.H Awaloei Manado Eka Julistri Ume; Olivia A. Waworuntu; Heriyannis Homenta
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i4.2468

Abstract

Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) merupakan patogen penyebab Healthcare-Associated Infections (HAIs) yang resisten terhadap antibiotik beta-laktam, termasuk metisilin. Selain itu, penggunaan antibiotik spektrum luas di ICU dapat berkontribusi pada peningkatan beban resistensi antimikroba, yang mendukung munculnya Mikroorganisme Multidrug-Resisten (MDR), termasuk MRSA. Kontaminasi silang antara pasien dan tenaga kesehatan menjadi faktor risiko utama untuk kolonisasi MRSA. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya MRSA pada tenaga kesehatan di ruang ICU Rumah Sakit Dr. J.H Awaloei Manado. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil dari tenaga kesehatan di ruang ICU Rumah Sakit Dr. J. H. Awaloei Manado dan diuji untuk mengidentifikasi keberadaan MRSA menggunakan media MSA, uji katalase, koagulase, dan uji sensitivitas antibiotik. Dari 22 sampel yang diidentifikasi ditemukan bakteri Staphylococcus aureus (63,6%), Staphylococcus sp., (27,3%), Streptococcus sp., (9,09%) dan uji sensitivitas satu (4,54%) sampel yang resisten terhadap antibiotik cefoxitin. Simpulan dari penelitian ini yaitu ditemukan MRSA pada tenaga kesehatan di ruang ICU RS. Dr. J.H Awaloei Manado sebanyak 1(4,54%) dari 22 sampel. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya MRSA pada tenaga kesehatan di ruang ICU rumah sakit ini mengindikasikan perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap infeksi MRSA, serta penerapan kebijakan pengendalian infeksi yang lebih efektif. Tindakan preventif seperti peningkatan kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri yang lebih baik, dan pengelolaan antibiotik yang bijaksana dapat membantu mencegah penyebaran MRSA dan mengurangi infeksi nosokomial di rumah sakit, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.