Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TEKNIK PENGOPERASIAN DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAP PADA ALAT TANGKAP PURSE SEINE DI KM ERA SAMUDRA YANG BERPANGKALAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) SILBOLGA Syamson, Indra; Tashwir, Tashwir; Rosano, Zalmi
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 8, No 2 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v8i2.1592

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap purse seine, menganalisis komposisi hasil tangkapan berdasarkan lokasi penangkapan, serta mengidentifikasi cara perawatan alat tangkap di kapal. Penelitian dilakukan di PPN Sibolga dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi langsung, dan kajian literatur. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil yang didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pelagis kecil mendominasi hasil tangkapan purse seine di KM Era Samudra, dengan lima jenis utama yaitu Sardina pilchardus, Rastrelliger sp., Sphyraena barracuda, dan Euthynnus affinis. Perbaikan jaring dilakukan jika sobek, biasanya karena tersangkut karang atau baling-baling kapal. Penyambungan jaring memerlukan keterampilan dan pengetahuan tentang teknik serta cara penyambungan yang tepat agar kuat dan rapi.
KERAGAMAN HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) SIBOLGA Rosano, Zalmi; Syamson, Indra; Tashwir, Tashwir
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 9, No 1 (2025): SEMAH: Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v9i1.1726

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga merupakan salah satu pelabuhan strategis di wilayah barat Indonesia yang menjadi pusat aktivitas pendaratan ikan pelagis, terutama dari kapal penangkap jenis purse seine. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman hasil tangkapan kapal purse seine di PPN Sibolga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga April 2024 di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga, yang terletak di Kota Sibolga, Provinsi Sumatra Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan fokus pada pengukuran dan analisis keragaman hasil tangkapan. Analisis data yang akan digunakan dalam kegiatan ini adalah deskriptif data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh jenis ikan tangkapan utama, yaitu layang (Decapterus koheru), kuwe (Caranx ignobilis), kembung (Rastrelliger sp.), tongkol (Euthynnus affinis), lemuru (Sardinella lemuru), layur (Trichiurus lepturus), dan selar (Selaroides leptolepis), serta dua jenis hasil tangkapan sampingan, yaitu cumi-cumi (Loligo sp.) dan tenggiri (Scomberomorus sp.). Terjadi perbedaan mencolok antara hasil tangkapan Trip 1 dan Trip 2, di mana Trip 1 didominasi oleh layang dan lemuru, sedangkan Trip 2 oleh selar dan kembung. Hasil ini menunjukkan adanya dinamika sumber daya ikan yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan musim. Informasi ini penting untuk mendukung pengelolaan perikanan pelagis secara berkelanjutan di wilayah perairan Sibolga.
SEBARAN DAERAH PENANGKAPAN BAGAN PERAHU DI SAMUDERA HINDIA Rahmani, Ratih Martia; Sarianto, Deni; Tashwir, Tashwir; Syamson, Indra; Rosano, Zalmi; Mesenu, Mesenu; Aisyah, Siti
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 8, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4510

Abstract

Abstract: Fishing areas have long been used by fishermen to determine the potential or not of a body of water. Mapping of fishing areas is often forgotten by fishermen in determining whether or not an area has the potential to be targeted. This research aims to map fishing areas using fishing gear and the types of fish caught in the Indian Ocean. This research was carried out in the waters of the Mentawai Islands and Tiku waters, West Sumatra Province. The research results show that there are three fishing areas in the Indian Ocean, namely (1) Siberut Island Zone, (2) Siberut Tiku Inter-Island Zone and (3) Tiku Zone. The main catch was 16 types of fish which were the target catch. The biggest catches are mackerel, Gymnocranius griseus and Carangoides armatus. The smallest catch is anchovies. With such a small catch of anchovies, it can be said that Bagan is no longer the main target for anchovies. This change was caused by the difficult fishing areas for anchovies and the cheap selling prices for anchovies.Keyword: Catch, Fishing ground, Mapping, Zone, SustainabilityAbstrak: Daerah penangkapan telah lama digunakan oleh para nelayan untuk menentukan potensial atau tidak suatu perairan. Pemetaan daerah penangkapan seringkali dilupakan oleh nelayan dalam menentukan potensial atau tidaknya suatu perairan yang akan dijadikan sasaran penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah penangkapan dengan alat tangkap bagan dan jenis ikan yang tertangkap di Samudera Hindia. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Kepulauan Mentawai dan Perairan Tiku, Propinsi Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga wilayah daerah penangkapan di Samudera Hindia yaitu (1) Zona Pulau Siberut, (2) Zona antar Pulau Siberut Tiku dan (3) zona Tiku. Hasil tangkapan utama diperoleh sebanyak 16 jenis ikan yang menjadi target tangkapan. Tangkapan terbanyak adalah ikan kembung, gulamah, dan kuwe. Tangkapan paling sedikit adalah ikan teri. Dengan hasil tangkapan teri yang sedikit dapat dikatakan bahwa bagan bukan lagi target utamanya ikan teri. Perubahan ini disebabkan oleh daerah penangkapan ikan teri susah makin susah dan harga jual ikan teri yang semakin murah.Kata kunci: Daerah tangkapan, Hasil tangkapan, Keberlanjutan, Pemetaan, Zona
PRAKTIK ILLEGAL FISHING STUDI KASUS: KABUPATEN BATU BARA PROVINSI SUMATERA UTARA Rosano, Zalmi; Rahmani, Ratih Martia; Syamson, Indra; Mesenu, Mesenu
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 8, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4503

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the practice of illegal fishing in Tanjung Tiram District, Batu Bara Regency, North Sumatra Province, and to examine the causal factors, socio-economic impacts, and the effectiveness of fishery law enforcement in the region. As an archipelagic state, Indonesia possesses vast marine resources; however, illegal fishing practices are still rampant, committed both by foreign vessels and local fishermen. The research employed a juridical-empirical method with a sociological approach, involving interviews, observations, and documentation with traditional fishermen, fisheries officers, and local authorities. The findings reveal that illegal fishing in this area includes the use of trawls, drag nets, and explosives. The main factors driving such activities are weak law enforcement, economic pressure, and low legal awareness among coastal communities. The impacts include marine ecosystem degradation, decreased income of traditional fishermen, and rising social conflicts. This study recommends strengthening inter-agency surveillance, enhancing legal awareness and community education, and developing alternative economic programs to reduce illegal fishing and promote sustainable marine resource management in Indonesia.Keyword: Illegal Fishing, Fishermen, Fisheries Law, Socio-Economic Impact, Tanjung TiramAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik illegal fishing yang terjadi di Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, serta menelaah faktor penyebab, dampak sosial-ekonomi, dan efektivitas penerapan hukum perikanan di wilayah tersebut. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar, namun praktik penangkapan ikan secara ilegal masih marak dilakukan, baik oleh kapal asing maupun nelayan lokal. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-empiris dengan pendekatan sosiologis, melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap nelayan tradisional, pejabat Dinas Perikanan, dan pihak Kecamatan Tanjung Tiram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik illegal fishing di kawasan ini dilakukan dengan berbagai cara seperti penggunaan pukat hela (trawl), pukat tarik, dan bahan peledak. Faktor utama yang mendorong nelayan melakukan praktik tersebut adalah lemahnya penegakan hukum, tekanan ekonomi, dan rendahnya kesadaran hukum masyarakat pesisir. Dampak yang ditimbulkan antara lain kerusakan ekosistem laut, penurunan pendapatan nelayan tradisional, dan munculnya konflik sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan pengawasan lintas lembaga, peningkatan sosialisasi hukum kelautan dan perikanan, serta pemberdayaan ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir sebagai langkah strategis dalam mengurangi praktik illegal fishing dan menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia.Kata kunci: Illegal Fishing, Nelayan, Hukum Perikanan, Sosial Ekonomi, Tanjung Tiram