Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemikiran Hadits KH Hasyim Asy'ari Terhadap Penyimpangan Akidah diTanah Jawa (Tela'ah Atas Kitab Risa>lah Ahlusunnah wal Jama>'ah) Sukma Maulana
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam adalah agama yang lurus, karena dia berlandaskan wahyu baik wahyu dari Allah, maupun wahyu yang disebut sebagai hadits nabi. Namun tidak sedikit orang yang salah dalam memahami makna ajaran Islam, karena berangkat dari ketidaktahuan dan taqlid buta. Di Indonesia sendiri sejak zaman kolonial Belanda sudah banyak aliran-aliran Islam yang di anggap sesat menyesatkan. Penelitian ini dilatabelakangi oleh maraknya aliran-aliran menyimpang di Indonesia, khususnya di zaman pra kemerdekaan. Selain itu, isu tentang aliran di Indonesia akan selalu meanarik perhatian untuk diteliti. Oleh karenanya peneliti tertarik mengkaji tema ini lebih dalam lagi. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan berupa model kajian tematik yang berfokus pada hadits dalam kitab Risa>lah Ahlusunnah wal Jama>’ah karya KH. Hasyim Asy’ari dengan pembahasan khusus penyimpangan akidah di tanah Jawa. Kesimpulan artikel menunjukan bahwa akidah-akidah menyimpang di masa kolonial sangat marak sekali. Adapun beberapa penyimpangan-penyimpangan aliran di tanah Jawa pada saat itu adalah munculnya sekte Wahabi, Syi’ah, Ibahiyun, Reinkarnasi dan paham H{ulu>l/Ittih}a>d. Kemudian dalam tinjauan maqa>s}i>d al-syari>’ah bahwa akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah akidah yang lurus dan telah diletakan beberapa kaidah yang baik dan benar dalam beragama. Oleh karena itu aliran-aliran menyimpang tersebut bukanlah ajaran Islam yang lurus, akan tetapi hanya membuat nilai Islam kotor.
EVALUASI SISTEM PENERIMAAN MURID BARU (SPMB) DI KOTA BANDAR LAMPUNG (STUDI PERBANDINGAN SMP NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG DAN SMP NEGERI 45 BANDAR LAMPUNG) Sukma Maulana; Eko Budi Sulistio; Dian Kagungan
Administrativa : Jurnal Birokrasi, Kebijakan dan Pelayanan Publik Vol 8 No 2 (2026): Administrativa: Jurnal Birokrasi, Kebijakan dan Pelayanan Publik
Publisher : Jurusan Ilmu Administrasi Publik FISIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/administrativa.v8i2.403

Abstract

The implementation of the New Student Admission System (SPMB) in Bandar Lampung City under the Minister of Primary and Secondary Education Regulation Number 3 of 2025 still faces challenges in achieving equitable student distribution. This condition is reflected in the contrast between SMP Negeri 2 Bandar Lampung, which experiences high applicant interest, and SMP Negeri 45 Bandar Lampung, which remains under-enrolled despite having available capacity. This study aims to evaluate the implementation of the SPMB policy in Bandar Lampung City and to identify the supporting and inhibiting factors affecting its success. This research uses a descriptive qualitative approach through interviews, observation, and documentation. The data were analyzed using Stufflebeam's CIPP evaluation model consisting of context, input, process, and product evaluation. The findings show that, in the context aspect, SPMB emerged as a corrective policy to address disparities in the previous admission system, yet geographical boundaries and domicile administration still affect access, especially in border areas. In the input aspect, institutional reputation, facilities, human resources, and digital readiness shape school attractiveness and policy implementation. In the process aspect, online registration and verification have supported transparency, but server disruptions, invalid documents, and unequal digital literacy remain obstacles. In the product aspect, SPMB has improved access through domicile and affirmation pathways, but equal distribution of students between schools has not been fully achieved. Therefore, SPMB requires stronger socialization, more reliable digital infrastructure, equalization of school facilities, and special policy arrangements for border-area schools.