Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Psikologi Konsumen dalam Era Digital: Analisis Literatur tentang Peran Emosi dalam Digital Advertising dan Brand Attachment Muammar Revnu Ohara; Febrina Rita Albeta; Okta Karneli; Vivi Rizkiana Aprilla; Firmansyah Firmansyah
Jurnal Minfo Polgan Vol. 14 No. 1 (2025): Artikel Penelitian
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/jmp.v14i1.14564

Abstract

Peran emosi dalam digital advertising semakin menjadi perhatian dalam studi psikologi konsumen, terutama dalam membentuk brand attachment dan mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini merupakan tinjauan pustaka dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan analisis deskriptif terhadap artikel yang dipublikasikan di Google Scholar dalam rentang tahun 1987–2024. Dari 50 artikel yang ditemukan, sebanyak 25 artikel digunakan setelah seleksi ketat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital advertising berbasis emosi lebih efektif dibandingkan dengan iklan yang hanya menekankan aspek rasional produk, terutama dalam membangun keterikatan emosional dan loyalitas pelanggan. Studi kasus dari berbagai merek seperti Dove, Coca-Cola, dan Gojek menunjukkan bahwa storytelling emosional, visual yang kuat, dan personalisasi dapat meningkatkan interaksi konsumen serta menciptakan hubungan jangka panjang dengan merek. Namun, strategi pemasaran berbasis emosi yang tidak dikelola dengan baik berisiko menimbulkan backlash, seperti yang terjadi pada kampanye kontroversial Pepsi dengan Kendall Jenner. Implikasi penelitian ini menyoroti pentingnya pemanfaatan emosi secara autentik dalam digital advertising untuk meningkatkan efektivitas pemasaran dan loyalitas pelanggan. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal cakupan data dan tidak mengukur langsung respons emosional konsumen, sehingga penelitian lebih lanjut dengan pendekatan empiris diperlukan untuk memperdalam pemahaman mengenai dampak emosional dalam digital advertising.
Pengaruh Literasi Keuangan dan Gaya Hidup terhadap Penggunaa Paylater pada Platform Shopee Dikalangan Mahasiswa Gen Z (Studi Mahasiswa FISIP Universitas Riau) Fikri Rio Fernando; Febrina Rita Albeta
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8924

Abstract

Perkembangan teknologi keuangan digital mendorong peningkatan penggunaan layanan buy now pay later, termasuk Shopee Paylater, terutama di kalangan Generasi Z. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh literasi keuangan dan gaya hidup terhadap penggunaan Shopee Paylater pada mahasiswa Generasi Z Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel berjumlah 100 mahasiswa aktif yang memenuhi kriteria sebagai pengguna Shopee Paylater dan dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert, kemudian dianalisis dengan regresi linear berganda menggunakan SPSS Statistics 25. Hasil pengujian instrumen menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan valid dan setiap variabel memiliki tingkat reliabilitas yang memenuhi kriteria. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan Shopee Paylater, dengan nilai t hitung 3,461 dan signifikansi 0,001. Gaya hidup juga berpengaruh positif dan signifikan, dengan nilai t hitung 3,594 dan signifikansi 0,001. Secara simultan, literasi keuangan dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap penggunaan Shopee Paylater, ditunjukkan oleh nilai F hitung 35,610 dan signifikansi 0,000. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,411 menunjukkan bahwa kedua variabel menjelaskan 41,1% variasi penggunaan Shopee Paylater, sedangkan 58,9% dipengaruhi faktor lain. Temuan penelitian menegaskan bahwa pemahaman keuangan dapat mendukung penggunaan Paylater yang lebih terkontrol, sedangkan gaya hidup dapat meningkatkan kecenderungan mahasiswa memanfaatkan fasilitas pembayaran tersebut.