Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Kualitas Fisik Udara terhadap Kejadian Sick Building Syndrome pada Pegawai Gedung Menara UMI Makassar Amaliah Natsir; Sainah, Sainah
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v4i1.4097

Abstract

Over the past two decades, the construction of high-rise buildings with closed ventilation systems has become increasingly common in various countries. Most of these buildings rely on artificial ventilation systems using Air Conditioners (AC). If not properly maintained, AC units can become a source of indoor air pollution, ultimately reducing air quality and triggering health issues. One of the health disorders associated with indoor air quality is Sick Building Syndrome (SBS), which is the focus of this study. SBS is a condition caused by exposure to pollution in enclosed spaces and is closely related to environmental factors, particularly indoor air quality. This study employed data collection methods through questionnaires and measurements of physical air parameters, including temperature, humidity, airflow velocity, and lighting. The study population consisted of 157 individuals, with 47 participants selected using the purposive sampling technique. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test, while multivariate analysis was performed using multiple linear regression. The results showed no significant relationship between temperature and airflow velocity with the occurrence of SBS. However, humidity and lighting were significantly associated with SBS. Among these factors, lighting was identified as the most influential variable in the occurrence of SBS, confirming the research hypothesis. As a recommendation, employees are encouraged to maintain their physical well-being and practice relaxation techniques when experiencing SBS symptoms. Additionally, building management is advised to regularly monitor indoor air quality to prevent the adverse effects of SBS
Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Risiko ISPA Akibat Kebiasaan Membakar Sampah Amaliah Natsir
Patria Artha Journal of Community (PKM) Vol. 6 No. 1 (2026): Patria Artha Journal of Community
Publisher : Universitas Patria Artha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33857/pajoco.v10i1.1038

Abstract

Masyarakat di wilayah Desa Banyuanyara masih memiliki kebiasaan membakar sampah rumah tangga sebagai metode utama pengelolaan sampah. Kebiasaan tersebut dilakukan karena keterbatasan fasilitas pengangkutan sampah, kurangnya tempat pembuangan sementara, serta minimnya pengetahuan masyarakat mengenai dampak kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebiasaan membakar sampah dan pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih aman. Pengabdian ini dilaksanakan di Kantor Desa Banyuanyara Kabupaten Takalar dengan melibatkan 31 masyarakat sebagai peserta. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan edukatif. Kegiatan diawali dengan pengisian kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal masyarakat tentang ISPA dan kebiasaan membakar sampah. Selanjutnya dilakukan penyuluhan kesehatan mengenai risiko ISPA akibat pembakaran sampah menggunakan media edukasi sederhana seperti poster atau leaflet. Evaluasi akhir melalui pertanyaan atau kuesioner singkat menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat setelah kegiatan edukasi dilakukan. Hal ini menandakan bahwa metode penyuluhan dan media edukasi yang digunakan cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait risiko ISPA. Diharapkan masyarakat dapat mengurangi kebiasaan membakar sampah dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Selain itu, diperlukan dukungan berkelanjutan dari pihak terkait, seperti kader kesehatan dan pemerintah setempat, untuk melakukan edukasi secara rutin agar upaya pencegahan ISPA dapat berjalan secara berkesinambungan.