Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PKM Pendampingan dalam Meningkatkan Pemahaman Santri Terhadap Materi Ghoorib Melalui Metode Ummi di Wilayah Al-Mawaddah Rifqatul Husna; Ummi Farhatil Unsiyyah; Nur Laila Zahrotul Maulidiyah; Ulfatul Hasanah; Zayyadi Zayyadi
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 1 No. 3 (2024): September-Desember "Implementation of Social Service Programs to Increase Commu
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/hbwkt111

Abstract

Gharoibul ayat  adalah istilah yang merujuk pada bacaan-bacaan Al-Qur'an yang jarang digunakan atau memiliki variasi yang tidak umum dalam ilmu qira'at. Pembelajaran Gharoibul ayat sangat penting dalam memperluas pemahaman umat Islam terhadap keragaman cara membaca Al-Qur'an yang diakui secara sah dalam tradisi qira'at mutawatir. Seiring berkembangnya zaman Santri sering kali bingung dalam membedakan antara aturan bacaan Gharib dengan aturan tajwid lainnya, karena gharoibul qira’ah adalah materi yang relatif lebih kompleks dan jarang ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Pengabdian ini membantu santri dalam memahami materi ilmu Gharoibul ayat  serta membiasakan santri dalam mengamalkan materi Gharoibul ayat . Metode yang digunakan ialah metode pendampingan yang bekerja secara langsung dan terlibat dalam kegiatan santri untuk memberikan bimbingan dan arahan. Adapun langkah yang dilakukan ialah menerapkan metode ummi yang efektif dan terstruktur, pendampingan intensif dalam kelompok kecil, alat bantu dan evaluasi pada santri, dengan beberapa langkah yang telah dilakukan menunjukan hasil signifikan dalam meningkatkan pemahaman santri terhadap materi Gharoibul ayat  dengan baik. Keterbatasan dalam pengabdian ini ialah tingkat pemahaman santri yang berbeda beda dalam memahami materi Gharoibul ayat  serta kurangnya minat dan motivasi terhadap beberapa santri, hal ini dapat diatasi dengan adanya pendampingan intensif dan evaluasi berkala yang telah dilakukan.
Relasi Kiai-Santri dan Tuduhan Feodalisme dalam Tradisi Pesantren: Kajian Tafsir Tematik Atas Otoritas, Adab, dan Kritik Ulfatul Hasanah; Abd. Basid Basid
AL-KAINAH: Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 1 (2026): Al-Kainah: Journal of Islamic Studies
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) STAI Miftahul Huda Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jis.v5i1.1606

Abstract

Latar Belakang: Artikel ini menganalisis tuduhan feodalisme dalam relasi kiai-santri di pesantren melalui pendekatan tafsir tematik Al-Qur’an. Isu ini mengemuka seiring berkembangnya wacana publik yang menilai praktik ta’dzim santri kepada kiai sebagai bentuk relasi subordinatif yang menyerupai struktur feodal. Tujuan Penelitian: penelitian ini bertujuan menganalisis tuduhan feodalisme dalam relasi kiai-santri melalui kajian tafsir temaktik Al-Qur’an serta menjelaskan batas antara otoritas pedagogis-keagamaan dan dominasi feodal dalam tradisi pesantren.  Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif berbasis studi kepustakaan dengan menjadikan Tafsir Al-Azhar karya Hamka dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab sebagai sumber primer. Analisis dilakukan terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan adab terhadap ilmu, otoritas moral, dan prinsip koreksi dalam Islam, lalu dibaca dengan bantuan teori relasi kuasa Michel Foucault dan kekuasaan simbolik Pierre Bourdieu. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi kiai-santri dalam kerangka normatif Al-Qur’an tidak bertumpu pada dominasi feodal, tetapi pada legitimasi keilmuan, etika penghormatan, dan tanggung jawab moral. Penghormatan kepada kiai merupakan bentuk pengakuan simbolik atas otoritas ilmu, bukan pengultusan personal yang menutup ruang kritik. Dalam perspektif ini, pesantren dapat dipahami sebagai institusi pedagogis-keagamaan yang menempatkan adab dan otoritas dalam hubungan yang seimbang dengan prinsip amr ma’ruf nahi munkar. Kesimpulan: Artikel ini menegaskan pentingnya membedakan antara otoritas keilmuan yang sah dan praktik feodalistik yang bertentangan dengan etika Islam.