Boulaouali, Tijani
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

QURANIC ALLAH AND BIBLICAL GOD : A COMPARATIVE STUDY OF THE TRANSLATION OF GOD'S NAME IN CONTEMPORARY DUTCH TRANSLATIONS Boulaouali, Tijani
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 9 No 2 (2024): Al-Bayan : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-bayan.v9i2.38594

Abstract

Artikel ini membahas konsep dasar bahasa Arab dan konsep dasar Al-Qur’an tentang “Allah” dalam terjemahan Al-Qur’an berbahasa Belanda, terutama yang dibuat oleh para ahli Arab Belanda kontemporer: Kramers (1953), Leemhuis (1989) dan Verhoef (2015). Pertanyaan utama penelitian ini adalah, sejauh mana kita dapat berbicara tentang dampak yang mungkin terjadi dari kerangka referensi Alkitab dalam memilih kata “Tuhan” sebagai padanan kata “Allah”? Pertama, Allah didekati secara etimologis, terminologis, dan teologis dari sudut pandang Alkitab dan Al-Qur’an. Kemudian, formula liturgis Basmalah, di mana istilah Allah disebutkan, diselidiki berdasarkan terjemahan tiga penerjemah Belanda kontemporer. Terakhir, analisis menyeluruh dibuat berdasarkan makna teologis dan eksegetis dari konsep Allah dan dua sifat ilahi Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm. Prosedur penerjemahan Peter Newmark digunakan di sini. Hasilnya, penelitian ini menunjukkan seberapa besar kerangka referensi Alkitab telah mempengaruhi terjemahan Al-Qur’an di Belanda. Pertama, istilah ‘Tuhan’ secara implisit membawa konotasi teologis dan filosofis tertentu (Helenistik, Biblikal, Kristen) yang sebagian berbeda dengan konsep Allah dalam Al-Qur’an dan tradisi Islam. Kedua, pengaruh Alkitab secara eksplisit terlihat jelas, seperti yang terlihat dalam terjemahan Al-Qur'an Kramers dan dalam pemilihan nama ilahi atau atribut barmhartig (Maha Pengasih), yang merupakan konsep sentral dalam agama Kristen.
Portraying Islam and the West : in Tzvetan Todorov’s The Fear of Barbarians: Beyond the Clash of Civilizations Boulaouali, Tijani
International Journal of Islamic Khazanah Vol. 13 No. 2 (2023): IJIK
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijik.v13i2.25527

Abstract

This review deals with the relationship between Islam and the West from the point of view of the Bulgarian-French philosopher Tzvetan Todorov, especially in his book the Fear of Barbarians. Some issues have been discussed. Firstly, the term barbarism or savagery is defined and compared with the concept civilization. Secondly, attention is paid to Todorov's historical criticism of a number of Western concepts and postulates that they are circulating in politics and the media. Finally, some negative stereotypes about Islam and Muslims, that Todorov has criticised and corrected, have been highlighted in this article.
Islam At the Crossroads of Global Ethics: An Ecumenical-Pluralist Reading of Hans Küng (1928-2021) Boulaouali, Tijani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.173-203

Abstract

Religious and cultural pluralism has introduced a new approach that differs from classical European orientalism, taking into account the historical, socio-cultural, and political transformations experienced by Western societies in their shift from monoculturalism to pluralism. Contemporary Western scholars, philosophers, and theologians have given significant space to Islamic components, offering pluralism as one of the most objective frameworks for interacting with Islam. Hans Küng stands out among other thinkers for his objectivity, courage, and ability to deconstruct Orientalist assumptions that approach Islam from a narrow ideological perspective. This study explores Küng’s main ideas and projects, particularly his concepts of global ethics, pluralism, interfaith dialogue, competing paradigms, and the reinterpretation of the friend-enemy dichotomy. This study shows that Küng’s theological and philosophical foundation in interacting with Islam is closely related to his personal experiences and intellectuality. This led him to initiate a global ethics project as a moral foundation for interfaith dialogue. Küng positions Islam in the context of cosmic pluralism as an important component in the equation of international peace and interfaith dialogue, not only through its tolerant teachings, but also through its rich legal and philosophical heritage, which has contributed to the advancement of human civilization. Therefore, he calls for a reinterpretation of Islam and a deconstruction of contemporary Muslim challenges through competing paradigms to find a viable way out of the current crisis of civilization.[Pluralisme agama dan budaya telah memperkenalkan pendekatan baru yang berbeda dari pembacaan orientalistik Eropa klasik, dengan mempertimbangkan transformasi historis, sosio-budaya, dan politik yang dialami oleh masyarakat Barat dalam pergeseran mereka dari monokulturalisme ke pluralisme. Cendekiawan, filsuf, dan teolog Barat kontemporer telah memberikan tempat yang signifikan bagi komponen Islam, dengan menawarkan pluralisme sebagai salah satu kerangka kerja paling objektif untuk berinteraksi dengan Islam. Hans Küng menonjol di antara para pemikir lainnya karena objektivitasnya, keberaniannya, dan kemampuannya untuk mendekonstruksi asumsi-asumsi orientalistik yang mendekati Islam dari perspektif ideologis yang sempit. Studi ini mengeksplorasi gagasan dan proyek utama Küng, terutama konsepnya tentang etika global, pluralisme, dialog antaragama, paradigma yang bersaing, dan reinterpretasi dikotomi teman dan musuh. Studi ini menunjukkan bahwa landasan teologis dan filosofis Küng dalam berinteraksi dengan Islam sangat berkaitan erat dengan pengalaman pribadi dan intelektualitasnya. Hal tersebut membawanya untuk menggagas proyek etika global sebagai landasan moral untuk dialog antaragama. Küng memposisikan Islam dalam konteks pluralisme kosmis sebagai komponen penting dalam persamaan perdamaian internasional dan dialog antaragama, tidak hanya melalui ajaran-ajarannya yang toleran, tetapi juga melalui warisan yuridis dan filosofisnya yang kaya, yang telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Oleh karena itu, ia menyerukan reinterpretasi Islam dan dekonstruksi tantangan Muslim kontemporer melalui metodologi paradigma yang bersaing untuk menemukan jalan keluar yang layak dari krisis peradaban saat ini.]