Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PENGGUNAAN HAND SANITIZER DENGAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA MAHASISWA FK UISU MASA COVID-19: CORRELATION USE OF HAND SANITIZERS WITH OCCURRENCE OF IRRITANT CONTACT DERMATITIS FK UISU DURING COVID-19 Della, Zahra; Harris, Bilkes
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 8 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v8i2.810

Abstract

Background: Irritant contact dermatitis is an inflammatory condition of the skin due to eUISUposure to irritants. According to the Centers for Disese Control and Prevention (CDC), prevention of COVID-19 can be done by maintaining hand hygiene by using a hand sanitizer. Objective: Correlation Use Of Hand Sanitizers With Occurrence Of Irritant Contact Dermatitis FK UISU During Covid-19. Method: Observational analytic research with a cross-sectional approach with a consecutive sampling technique. The sample size is 181 students of the Faculty of Medicine, Islamic University of North Sumatra class of 2019, 2020, and 2021. Data was collected using a questionnaire which was distributed directly to the respondents. Hypothesis testing using univariate and bivariate analysis. Results: The results of statistical analysis using the contingency coefficient test found that there is no significant relationship between the use of hand sanitizer and the occurrence of irritant contact dermatitis (p=0.556) in students of the Faculty of Medicine, Islamic University of North Sumatra during the COVID-19 pandemic. Conclusion: There is no significant relationship between the use of hand sanitizers and the occurrence of irritant contact dermatitis in students of the Faculty of Medicine, Islamic University of North Sumatra during the COVID-19 pandemic AbstrakLatar Belakang: Dermatitis kontak iritan adalah suatu keadaan peradangan pada kulit akibat paparan zat iritan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pencegahan COVID-19 dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan dengan menggunakan hand sanitizer. Namun penggunaan hand sanitizer yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya dermatitis kontak iritan. Tujuan: Mengetahui hubungan penggunaan hand sanitizer dengan terjadinya dermatitis kontak iritan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU di masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dan teknik consecutive sampling. Besar sampel adalah 181 orang mahasiswa FK UISU angkatan 2019, 2020, dan 2021. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dibagikan secara langsung pada responden. Pengujian hipotesis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil analisis data statistik dilakukan dengan uji koefisien kontingensi yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan hand santizer dengan terjadinya dermatitis kontak iritan (p=0,556) pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU di masa pandemi COVID-19. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan hand sanitizer dengan terjadinya dermatitis kontak iritan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU di masa pandemi COVID-19.
KERONTOKAN DAN KEBOTAKAN PADA RAMBUT Harris, Bilkes
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 20 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.083 KB) | DOI: 10.30743/ibnusina.v20i2.219

Abstract

Kerontokan rambut (efluvium) adalah kehilangan rambut kurang lebih 120 helai perhari, dapat difus atau lokal (setempat). Bila kerontokan berlanjut dapat terjadi kebotakan (alopesia). Kerontokan rambut (efluvium) dapat memberikan manifestasi klinis berupa efluvium anagen dan efluvium telogen. Pada kebotakan (Alopesia) dapat memberikan manifestasi klinis berupa patchy (bercak setempat), ophiasis, retikular, alopesia areata totalis, alopesia areata universalis dan dengan atau tanpa pembentukan jaringan parut (sikatrikal dan non sikatrikal). Terdapat berbagai ragam teori mengenai penyebab/etiopatogene dari kerontokan dan kebotakan pada rambut seperti pengaruh radiasi, kemoterapi, obat-obatan sitostatika, malnutrisi berat, pasca febris akut, pasca partus, berbagai penyakit gangguan sistemik, penyakit kulit setempat dan HIV. Sejumlah pengobatan pada kerontokan rambut (efluvium) dan kebotakan (alopesia) mampu menginduksi kembali pertumbuhan rambut, namun belum ada pengobatan yang terbukti secara universal dapat menyembuhkan sebagian penyakit ini.