Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Mathematics and Applications (MAp) Journal

ESTIMASI CADANGAN KLAIM IBNR MENGGUNAKAN METODE CHAIN-LADDER DAN BORNHUETTER-FERGUSON PADA PRODUK INDEMNITY DI PT. XYZ Raisha Amini; Yulial Hikmah
MAp (Mathematics and Applications) Journal Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/map.v4i1.4203

Abstract

Klaim IBNR (Incurred But Not Reported) adalah klaim yang sudah terjadi namun belum dilaporkan. Karena belum dilaporkan, maka totalnya diakumulasikan dalam bentuk cadangan dan dianggap sebagai kewajiban bagi perusahaan asuransi karena sudah terjadi. Klaim yang sudah terjadi namun belum dilaporkan ini disebabkan oleh keterlambatan atau disebut lag/jarak yang disebabkan oleh berbagai faktor. Setiap produk asuransi memiliki lag yang berbeda-beda. Perusahaan asuransi tidak mempunyai data keterlambatan tersebut sehingga data tersebut dapat dibentuk dari data klaim historis menggunakan run-off triangle. Tujuan dari run-off triangle adalah mengetahui berapa lama yang dibutuhkan dari suatu klaim yang terjadi sampai klaim tersebut dilaporkan. Data klaim historis dalam bentuk run-off triangle disebut sebagai incurred sehingga diperoleh gambaran pengalaman klaim dan data tersebut digunakan untuk mengestimasikan masa depan dengan tujuan untuk mendapatkan estimasi ultimate loss. Estimasi ultimate loss adalah estimasi total klaim jika sudah full terlaporkan. Jika sudah didapatkan estimasi ultimate loss dan incurred, maka selisihnya merupakan cadangan klaim yang sudah terjadi namum belum dilaporkan atau IBNR. Terdapat banyak metode untuk memperhitungkan cadangan klaim IBNR. Beberapa Metode yang dapat digunakan adalah dengan metode Chain-Ladder dan Bornhuetter-Ferguson. Hasil menunjukkan bahwa metode Bornhuetter-Ferguson lebih sesuai pada pehitungan cadangan klaim untuk produk indemnity di PT. XYZ. Hal ini disebabkan oleh data klaim historis di penelitian ini memiliki rata-rata waktu penundaan pelaporan klaim lebih dari dua hingga tiga bulan serta estimasi cadangan klaim dengan metode Bornhuetter-Ferguson menghasilkan cadangan klaim lebih besar dibandingkan dengan metode Chain-Ladder. Oleh karena itu, PT. XYZ akan lebih aman untuk menghindar risiko kekurangan cadangan jika menerapkan metode Bornhuetter-Ferguson dibandingkan dengan metode Chain-Ladder.
PERHITUNGAN PREMI LANJUTAN (RENEWAL PREMIUM) PADA ASURANSI KESEHATAN KUMPULAN MENGGUNAKAN METODE EXPERIENCE RATING DI PT ABC Clarissa, Putri Rumondang; Hikmah, Yulial; Hikmah, Ira Rosianal
MAp (Mathematics and Applications) Journal Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/map.v6i1.8556

Abstract

Asuransi Kesehatan merupakan suatu perlindungan keuangan untuk memberikan jaminan atas biaya pengobatan dan perawatan medis yang dibutuhkan seseorang ketika sakit. Asuransi Kesehatan dibagi menjadi dua kategori, yaitu Asuransi Kesehatan Individu dan Asuransi Kesehatan Kumpulan. Asuransi Kesehatan Kumpulan ditujukan untuk para karyawan dengan Perusahaan Pemberi Kerja sebagai pemegang polisnya. Pada umumnya, Asuransi Kesehatan Kumpulan memiliki kontrak polis yang berjangka satu tahun, dimana ketika polis tersebut sudah berakhir, maka akan dilakukan evaluasi ulang untuk menentukan premi lanjutan (renewal premium). Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menetapkan tarif premi lanjutan pada Asuransi Kesehatan Kumpulan, diantaranya manual rating, experience rating, dan blended rating. Umumnya, perusahaan asuransi menggunakan metode experience rating untuk menghitung premi lanjutan karena metode ini menggunakan data pengalaman klaim dan biaya-biaya yang terjadi di masa lalu. Pada penelitian ini dijelaskan bagaimana proses perhitungan premi lanjutan menggunakan metode experience rating dengan loss ratio. Hasil menunjukkan bahwa proses perhitungan dapat dilakukan dengan empat tahap, yaitu: menghitung loss ratio, menghitung permissible loss ratio, menghitung gross rate, dan terakhir menghitung premi lanjutan (renewal premium). Berdasarkan studi kasus di PT ABC, akan diberikan dua kemungkinan dalam penentuan besar premi lanjutan. Kemungkinan pertama yaitu besar premi lanjutan akan naik (meningkat) dari premi awal. Sementara, kemungkinan keduanya yaitu besar premi lanjutan akan tetap sama pada premi awal sebelumnya. Semakin tinggi besar klaim daripada besar premi pada suatu polis, maka akan semakin tinggi juga kemungkinan premi lanjutan (renewal premium) pada polis tersebut.