Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna dalam Tata Busana Tari Serasan Seandanan di Sanggar Seni Duagha Desa Pagar Dewa Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Mega Puspita Sari; Auzy Madona Adoma; Silo Siswanto
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang terkandung dalam tata busana Tari Serasan Seandanan di Sanggar Seni Duagha Desa Pagar Dewa Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS). Tata busana yang dikaji meliputi perlengkapan dasar, perlengkapan tubuh, perlengkapan kepala, perlengkapan kaki, dan aksesoris pendukung. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data diperoleh dari ketua sanggar, ketua adat, dan penari di Sanggar Seni Duagha. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan triangulasi untuk menguji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata busana Tari Serasan Seandanan tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap pertunjukan, tetapi juga memiliki makna simbolik yang mencerminkan nilai budaya masyarakat Ogan Komering Ulu Selatan. Korset melambangkan kesopanan dan pengendalian diri; baju kawai daya melambangkan keanggunan dan kehormatan perempuan; kain kanduk mencerminkan identitas budaya masyarakat setempat. Perlengkapan kepala berupa siger ranau melambangkan kemuliaan, kehormatan, dan keteguhan perempuan. Aksesoris seperti selendang kain kanduk, kalung papan jajar, gelang kano, anting bulan bintang, dan rampai mengandung nilai estetika dan filosofi kehidupan masyarakat. Penari pembawa tepak memiliki perlengkapan khusus berupa siger ranau dan selempang yang melambangkan kedudukan muli batin atau anak raja dalam adat setempat. Dengan demikian, tata busana Tari Serasan Seandanan menjadi simbol identitas budaya yang mengandung nilai kesopanan, keharmonisan, dan penghormatan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
Tata Rias dan Busana Joged Rindik Kembang Semare sebagai Representasi Identitas Banjar Nusa Karya Ni Made Sukmawati; Auzy Madona Adoma; Silo Siswanto
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.613

Abstract

Joged Rindik Kembang Semare merupakan tari kreasi Bali yang tumbuh dari antusiasme generasi muda Banjar Nusa Karya, Desa Srimulyo, Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk tata rias dan busana serta menganalisis maknanya sebagai representasi identitas budaya Bali di tanah perantauan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan observasi, wawancara kepada pencipta tari, tokoh adat, dan penari, serta dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata riasnya termasuk rias korektif yang dipertegas melalui alis hitam, gradasi eyeshadow merah, kuning, dan biru, lipstik merah cerah, serta titik putih dan merah pada dahi dan pelipis. Busana didominasi warna ungu, merah, kuning, dan emas melalui angkin, badong, ampok-ampok, kamen prada, sampur, gelang kana, subeng, cemare, dan gelungan. Perpaduan visual tersebut membangun kesan ceria, anggun, dan dinamis sekaligus menegaskan adaptasi budaya Bali di Banjar Nusa Karya. Temuan ini berkontribusi pada dokumentasi seni tari lokal dan pelestarian identitas budaya komunitas transmigran Bali di Sumatera Selatan secara berkelanjutan.