Madjid Fahdul Bahar
Universitas Jember

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Nilai Pancasila dalam Tradisi Endhog-Endhogan di Kabupaten Banyuwangi Madjid Fahdul Bahar; Devina Damayanti
JURNAL PUSPAKA Vol 1 No 1 (2024): Jurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan
Publisher : Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/jurnalpuspaka.v1i1.301

Abstract

Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi lebih tepatya di desa Balak, kecamatan Songgon adalah sebuah tradisi unik umat Islam yang dilakukan setiap 12 Rabiul Awal atau Maulid Nabi. Kata “Endhog” berarti telur, dalam tradisi ini telur rebus tersebut diikat lalu ditusukkan ke bambu, kemudian dihias dengan kertas warna-warni, yang disebut dengan Kembang Endhog. Tradisi ini merupakan sebuah hasil alkulturasi nilai keislaman dan kearifan suku Osing. KH. Abdullah Faqih yang merupakan pencipta tradisi ini, memiliki maksud digunakan sebagai alat dakwah namun dalam kacamata Pancasila jarang yang mengetahui bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi dan gotong royong. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila dalam tradisi Endhog-endhogan, dengan menggunakan pendekatan kajian Pustaka. Menggunakan metode deskriptif untuk menganalisis data yang diperoleh dari sumber literatur. Hasil penelitian ini memiliki maksud menekankan bahwa tradisi Endhog-endhogan bukan hanya sebagi bentuk alkulturasi budaya islam dan Oesing, Tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang mengutamakan hubungan sosial dan persatuan Masyarakat.
Nilai Pancasila dalam Tradisi Endhog-Endhogan di Kabupaten Banyuwangi Madjid Fahdul Bahar; Devina Damayanti
JURNAL PUSPAKA Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan
Publisher : Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/jurnalpuspaka.v1i1.301

Abstract

Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi lebih tepatya di desa Balak, kecamatan Songgon adalah sebuah tradisi unik umat Islam yang dilakukan setiap 12 Rabiul Awal atau Maulid Nabi. Kata “Endhog” berarti telur, dalam tradisi ini telur rebus tersebut diikat lalu ditusukkan ke bambu, kemudian dihias dengan kertas warna-warni, yang disebut dengan Kembang Endhog. Tradisi ini merupakan sebuah hasil alkulturasi nilai keislaman dan kearifan suku Osing. KH. Abdullah Faqih yang merupakan pencipta tradisi ini, memiliki maksud digunakan sebagai alat dakwah namun dalam kacamata Pancasila jarang yang mengetahui bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi dan gotong royong. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila dalam tradisi Endhog-endhogan, dengan menggunakan pendekatan kajian Pustaka. Menggunakan metode deskriptif untuk menganalisis data yang diperoleh dari sumber literatur. Hasil penelitian ini memiliki maksud menekankan bahwa tradisi Endhog-endhogan bukan hanya sebagi bentuk alkulturasi budaya islam dan Oesing, Tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang mengutamakan hubungan sosial dan persatuan Masyarakat.
Perlawanan Wong Agung Wilis Terhadap VOC Belanda Di Blambangan (1767-1768): Studi Analisis Teori Hegemoni Gramsci Dendy Wahyu Anugrah; Madjid Fahdul Bahar
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i1.955

Abstract

Sejarah perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC Belanda yang dipimpin oleh Wong Agung Wilis pada tahun 1767-1768 adalah upaya memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan di Bumi Blambangan. Kedatangan VOC Belanda, selain membuat rakyat Blambangan justru mengalami ketertindasan secara politis, ekonomi, dan kebudayaan, ternyata juga membawa ideologi dominan yang hegemonik. Mulanya, VOC Belanda melakukan monopoli perdagangan, kemudian bermaksud menguasai wilayah Blambangan karena dianggap sebagai wilayah strategis untuk melakukan perdagangan dan penanaman komoditas perkebunan. Rakyat Blambangan dipaksa melakukan kerja wajib membangun benteng dan menanam di perkebunan oleh VOC Belanda. Dari keadaan semacam itu, muncul perlawanan dari rakyat Blambangan yang dipelopori oleh Wong Agung Wilis sebagai respon atas ketertindasan. Maka, historisitas perlawanan rakyat Blambangan tersebut perlu dibaca dalam kerangka teoritis tertentu. Dalam penelitian ini teori hegemoni Antonio Gramsci digunakan untuk menganalisis pemberontakan Agung Wilis dan Rakyat Blambangan tersebut. Metode yang digunakan ialah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatakan historis-filosofis. Akhirnya penelitian ini menghasilkan beberapa temuan, yakni gerakan tersebut merupakan usaha melawan hegemoni (counter hegemony) dan proses transformatifuntuk mengahancurkan hegemoni lama (kolonialisme-imperialisme VOC Belanda) dengan strategi hegemoni baru (pembebasan dari ketertindasan sistemik)