Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pewarisan Makna Simbolik Peretuq / Peretus Dalam Tradisi Pengobatan Di Dusun Paokkambut Kecamatan Labuapi Lombok Barat Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi April)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i4.214

Abstract

The Peretuq tradition in Paokkambut Hamlet is a cultural heritage of the Sasak people that continues to survive amid modern influences. This ritual combines spiritual, social, and symbolic elements into a complex healing system. It functions not only as an alternative treatment for supernatural disturbances but also as a means of personal transformation and recovery. Using Victor Turner’s ritual theory, Peretuq is understood as a liminal process guiding individuals from separation to spiritual and social reintegration. Ritual stages such as body measurement, crown pulling, chanting of mantras, and application of sembe’ represent symbolic communication with transcendent forces. Beyond spiritual healing, the tradition reflects a unique blend of local wisdom and Islamic values. Thus, Peretuq plays a vital role in maintaining cultural identity, social solidarity, and spiritual balance within Sasak society.
Deconstruction of Patriarchal Authority in Religious Interpretation (Analysis of Minister of Religious Affairs Nasaruddin Umar’s Statement on the Monopoly of Religious Interpretation in Indonesia in 2025): Penelitian Adam Yudha Aryasatya; Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi; Lalu Nauval Ahsan Thofhani
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2704

Abstract

Penelitian ini menganalisis pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, pada Maret 2025, yang secara terbuka menolak monopoli tafsir oleh ulama laki-laki dan mengakui adanya bias patriarkal dalam struktur bahasa Arab dan praktik tafsir Islam. Dengan pendekatan teori power atau knowledge dari Michel Foucault, penelitian ini menemukan bahwa pernyataan tersebut berfungsi sebagai intervensi wacana penting yang mampu menggeser dominasi epistemik tafsir keagamaan yang patriarkal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara berperan aktif dalam membongkar otoritas tunggal tafsir dan memberi legitimasi simbolik bagi keterlibatan perempuan dalam proses produksi pengetahuan keagamaan, meskipun belum ada implementasi kebijakan yang konkret secara menyeluruh, pernyataan ini membuka ruang diskursif bagi perubahan struktural yang lebih inklusif di masa depan, seperti reformasi kurikulum tafsir, partisipasi perempuan dalam forum bahtsul masā’il, serta penguatan tafsir berbasis pengalaman perempuan. Pernyataan Menag dapat dibaca sebagai titik awal menuju reformasi epistemik dalam diskursus Islam Indonesia, yang menandai keterlibatan negara dalam mendorong keadilan gender dalam wacana keislaman kontemporer.
Kohesi Sosial pada Komunitas Jamaah Sapta Dharma di Taman Siswa Yogyakarta Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.51.02

Abstract

This study examines how Émile Durkheim’s concept of mechanical solidarity is manifested in the daily life of the Sapta Dharma community in Taman Siswa, Yogyakarta. Situated within Indonesia’s plural social landscape and the marginal position often experienced by non–state-recognized belief groups, the Sapta Dharma community represents a social collective that sustains its existence through strong internal cohesion. Using Durkheim’s framework, the analysis focuses on four key indicators of mechanical solidarity: shared spiritual values, commitment to tradition and ancestral heritage, a simple and egalitarian division of labor, and the application of repressive or corrective responses to norm deviations. The findings indicate that social cohesion within the Sapta Dharma community is not based on functional interdependence or specialized roles characteristic of organic solidarity. Instead, it is grounded in shared beliefs, collective spiritual experiences, and a strong collective consciousness centered on core teachings such as the Wahyu Panca Gaib. Solidarity is reinforced through routine ritual practices, reverence toward the founder, and a communal way of life oriented toward inner harmony and Javanese spiritual values. The absence of rigid hierarchy and the equitable distribution of communal responsibilities further strengthen feelings of mutual cooperation and belonging. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teori kohesi sosial Émile Durkheim, khususnya konsep solidaritas mekanik, termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari komunitas Sapta Dharma di Taman Siswa, Yogyakarta. Dalam konteks keberagaman sosial Indonesia serta tantangan yang dihadapi kelompok penghayat kepercayaan di luar agama yang diakui negara, komunitas ini merepresentasikan kelompok sosial yang mampu mempertahankan eksistensinya melalui kohesi internal yang kuat. Analisis difokuskan pada empat indikator utama solidaritas mekanik, yaitu kesamaan nilai spiritual, keterikatan pada tradisi dan warisan leluhur, pembagian kerja yang sederhana dan egaliter, serta mekanisme penanganan penyimpangan terhadap norma komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial dalam komunitas Sapta Dharma tidak dibangun atas dasar kontrak fungsional atau spesialisasi peran sebagaimana dalam solidaritas organik, melainkan bertumpu pada kesamaan keyakinan, pengalaman spiritual kolektif, dan kesadaran kolektif yang kuat, terutama yang berpusat pada ajaran inti Sapta Dharma seperti Wahyu Panca Gaib. Ikatan antaranggota diperkuat melalui praktik ritual yang berkelanjutan, penghormatan terhadap pendiri, serta orientasi hidup yang menekankan harmoni batin dan spiritualitas Jawa. Ketiadaan hierarki formal dan pembagian tugas yang setara mendorong tumbuhnya semangat gotong royong dan rasa memiliki bersama. Penyimpangan norma tidak ditangani melalui sanksi formal, melainkan melalui pendekatan simbolik dan upaya pemulihan harmoni sosial. Temuan ini menegaskan bahwa solidaritas mekanik berfungsi sebagai mekanisme ketahanan sosial yang efektif dalam menghadapi tekanan eksternal seperti stigma dan diskriminasi, sekaligus memperkuat identitas kolektif komunitas penghayat kepercayaan di Indonesia.