This study examines how Émile Durkheim’s concept of mechanical solidarity is manifested in the daily life of the Sapta Dharma community in Taman Siswa, Yogyakarta. Situated within Indonesia’s plural social landscape and the marginal position often experienced by non–state-recognized belief groups, the Sapta Dharma community represents a social collective that sustains its existence through strong internal cohesion. Using Durkheim’s framework, the analysis focuses on four key indicators of mechanical solidarity: shared spiritual values, commitment to tradition and ancestral heritage, a simple and egalitarian division of labor, and the application of repressive or corrective responses to norm deviations. The findings indicate that social cohesion within the Sapta Dharma community is not based on functional interdependence or specialized roles characteristic of organic solidarity. Instead, it is grounded in shared beliefs, collective spiritual experiences, and a strong collective consciousness centered on core teachings such as the Wahyu Panca Gaib. Solidarity is reinforced through routine ritual practices, reverence toward the founder, and a communal way of life oriented toward inner harmony and Javanese spiritual values. The absence of rigid hierarchy and the equitable distribution of communal responsibilities further strengthen feelings of mutual cooperation and belonging. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teori kohesi sosial Émile Durkheim, khususnya konsep solidaritas mekanik, termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari komunitas Sapta Dharma di Taman Siswa, Yogyakarta. Dalam konteks keberagaman sosial Indonesia serta tantangan yang dihadapi kelompok penghayat kepercayaan di luar agama yang diakui negara, komunitas ini merepresentasikan kelompok sosial yang mampu mempertahankan eksistensinya melalui kohesi internal yang kuat. Analisis difokuskan pada empat indikator utama solidaritas mekanik, yaitu kesamaan nilai spiritual, keterikatan pada tradisi dan warisan leluhur, pembagian kerja yang sederhana dan egaliter, serta mekanisme penanganan penyimpangan terhadap norma komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial dalam komunitas Sapta Dharma tidak dibangun atas dasar kontrak fungsional atau spesialisasi peran sebagaimana dalam solidaritas organik, melainkan bertumpu pada kesamaan keyakinan, pengalaman spiritual kolektif, dan kesadaran kolektif yang kuat, terutama yang berpusat pada ajaran inti Sapta Dharma seperti Wahyu Panca Gaib. Ikatan antaranggota diperkuat melalui praktik ritual yang berkelanjutan, penghormatan terhadap pendiri, serta orientasi hidup yang menekankan harmoni batin dan spiritualitas Jawa. Ketiadaan hierarki formal dan pembagian tugas yang setara mendorong tumbuhnya semangat gotong royong dan rasa memiliki bersama. Penyimpangan norma tidak ditangani melalui sanksi formal, melainkan melalui pendekatan simbolik dan upaya pemulihan harmoni sosial. Temuan ini menegaskan bahwa solidaritas mekanik berfungsi sebagai mekanisme ketahanan sosial yang efektif dalam menghadapi tekanan eksternal seperti stigma dan diskriminasi, sekaligus memperkuat identitas kolektif komunitas penghayat kepercayaan di Indonesia.