Hanis, Iin Fatimah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN : CASE REPORT Arifuddin, Andi Tenri Sanna; Hanis, Iin Fatimah; Puspa, Syopyanah Sri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43213

Abstract

Gangguan pendengaran dapat diartikan sebagai hilangnya kemampuan untuk mendengarkan bunyi dalam cakupan frekuensi yang normal untuk didengar. Salah satu penyebab gangguan pendengaran adalah otitis media supuratif kronik  (OMSK). OMSK atau dikenal dengan istilah sehari-hari “congek” merupakan infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 2 bulan. Prevalensi  OMSK  di dunia  mencapai  65 – 330  juta  orang  dan 60%  (39 - 200  juta) diantaranya  menderita gangguan  pendengaran  secara signifikan. Jenis gangguan pendengaran yang paling sering dialami oleh pasien OMSK yaitu conductive hearing loss (CHL). Didapatkan kasus, seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke poli THT RS Mitra Husada Makassar dengan keluhan keluar cairan kuning, kental dan berbau  pada kedua telinga. Keluhan dirasakan sudah lama sejak ± 5 tahun namun hilang timbul. Keluhan disertai nyeri kepala, merasakan pendengaran berkurang pada kedua telinga, batuk dan pilek. Pasien mengaku sering mengalami batuk pilek yang berulang. Pada pemeriksaan fisik telinga (otoskopi) didapatkan sekret mukopurulen, berbau pada kedua telinga, kavum timpani tampak hiperemis dan perforasi total membran timpani bilateral tanpa kolesteatoma. Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan audiometri didapatkan CHL moderate pada kedua telinga. Tatalaksana dilakukan aural toilet pada kedua telinga dan diberikan antibiotik topikal, mukolitik, dekongestan dan antihistamin. Komplikasi OMSK dibagi menjadi komplikasi intratemporal dan ekstratemporal.
Analisis hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran nelayan pesisir: Sebuah tinjauan sistematis dan sintesis kritis Hanis, Iin Fatimah; Zamli, Zamli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2051

Abstract

Backgoround: Behavioral barriers to hearing loss prevention among coastal fishers in Palopo are an increasingly pressing issue requiring a systematic review due to the high occupational noise exposure experienced by this group and its long-term consequences on hearing health, occupational safety, and quality of life. Various studies have shown that fishers and maritime industry workers are at high risk of developing noise-induced hearing loss (NIHL) due to exposure to high-intensity and repeated noise from ship engines, fishing gear, and the challenging acoustic dynamics of the maritime work environment. Purpose: To identify and synthesize behavioral barriers to hearing loss prevention among coastal fishers. Method: This study was designed as a systematic review with critical synthesis that integrates cross-study findings on risk perceptions, behavioral barriers, and hearing loss prevention efforts among coastal fishers, following the study selection and analysis framework described in the available references. The research design followed a query transformation stage that formulated the primary research focus into several search questions, such as noise risk perceptions, factors influencing prevention behavior, barriers to hearing protection use, and the success and limitations of educational interventions. Results: Low risk perception, discomfort of protective equipment, unsupportive social norms, and limited organizational structures are key factors hindering preventive behavior. Furthermore, educational interventions reportedly increase knowledge but do not always directly influence behavioral change without adequate tools and policies. Conclusion: This study confirms that preventing hearing loss among fishers requires a multidimensional approach encompassing individual, social, cultural, and organizational factors. This research makes an important contribution to broadening our understanding of the dynamics of preventive behavior in the context of maritime communities and provides a basis for developing more effective and contextualized hearing protection interventions and policies.   Keywords: Fishermen; Hearing Loss; Preventive Behavior.   Pendahuluan: Hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir Palopo merupakan isu yang semakin mendesak untuk ditelaah secara sistematis karena tingginya paparan kebisingan kerja yang dialami kelompok ini dan konsekuensi jangka panjang yang ditimbulkannya terhadap kesehatan pendengaran, keselamatan kerja, serta kualitas hidup. Berbagai studi telah menunjukkan, bahwa nelayan dan pekerja industri maritim berada pada risiko signifikan untuk mengalami noise-induced hearing loss (NIHL) akibat paparan kebisingan intensitas tinggi dan berulang dari mesin perahu, alat tangkap, dan lingkungan kerja laut yang dinamika akustiknya sangat menantang. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan mensintesis hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir. Metode: Penelitian ini dirancang sebagai tinjauan sistematis dengan sintesis kritis yang mengintegrasikan temuan lintas studi mengenai persepsi risiko, hambatan perilaku, dan upaya pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir, sesuai kerangka seleksi dan analisis studi yang telah dijelaskan dalam referensi yang tersedia. Desain penelitian ini mengikuti tahapan transformasi kueri yang memformulasikan fokus utama penelitian menjadi beberapa pertanyaan pencarian, seperti persepsi risiko terhadap kebisingan, faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan, hambatan penggunaan alat pelindung pendengaran, serta keberhasilan dan keterbatasan intervensi pendidikan. Hasil: Persepsi risiko yang rendah, ketidaknyamanan alat pelindung, norma sosial yang tidak mendukung, serta keterbatasan struktur organisasi menjadi faktor utama yang menghambat perilaku pencegahan. Selain itu, intervensi pendidikan dilaporkan meningkatkan pengetahuan tetapi tidak selalu berpengaruh langsung terhadap perubahan perilaku tanpa dukungan alat dan kebijakan yang memadai. Simpulan: Penelitian menegaskan bahwa pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup faktor individual, sosial, budaya, dan organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas pemahaman mengenai dinamika perilaku pencegahan dalam konteks komunitas maritim serta menyediakan dasar bagi pengembangan intervensi dan kebijakan perlindungan pendengaran yang lebih efektif dan kontekstual.   Kata Kunci: Gangguan Pendengaran; Nelayan; Perilaku Pencegahan.