Gangguan pendengaran dapat diartikan sebagai hilangnya kemampuan untuk mendengarkan bunyi dalam cakupan frekuensi yang normal untuk didengar. Salah satu penyebab gangguan pendengaran adalah otitis media supuratif kronik (OMSK). OMSK atau dikenal dengan istilah sehari-hari “congek” merupakan infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 2 bulan. Prevalensi OMSK di dunia mencapai 65 – 330 juta orang dan 60% (39 - 200 juta) diantaranya menderita gangguan pendengaran secara signifikan. Jenis gangguan pendengaran yang paling sering dialami oleh pasien OMSK yaitu conductive hearing loss (CHL). Didapatkan kasus, seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke poli THT RS Mitra Husada Makassar dengan keluhan keluar cairan kuning, kental dan berbau pada kedua telinga. Keluhan dirasakan sudah lama sejak ± 5 tahun namun hilang timbul. Keluhan disertai nyeri kepala, merasakan pendengaran berkurang pada kedua telinga, batuk dan pilek. Pasien mengaku sering mengalami batuk pilek yang berulang. Pada pemeriksaan fisik telinga (otoskopi) didapatkan sekret mukopurulen, berbau pada kedua telinga, kavum timpani tampak hiperemis dan perforasi total membran timpani bilateral tanpa kolesteatoma. Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan audiometri didapatkan CHL moderate pada kedua telinga. Tatalaksana dilakukan aural toilet pada kedua telinga dan diberikan antibiotik topikal, mukolitik, dekongestan dan antihistamin. Komplikasi OMSK dibagi menjadi komplikasi intratemporal dan ekstratemporal.