Maghfiratuzzahroh
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Flexing and the Ethics of Wealth in the Qur'an: A Maqasidi Interpretation of Qarun's Story in Q.S. Al-Qashas, Verse 76-82 Maghfiratuzzahroh; Hijjiyah , Syivaul Hikmatul
Al-Karim: International Journal of Quranic and Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2024): Al-Karim: International Journal of Quranic and Islamic Studies, September
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/al-karim.v2i2.6038

Abstract

This study aims to explore the phenomenon of flaunting wealth, commonly referred to as "flexing," through the lens of the Maqasidi interpretation framework developed by Abdul Mustaqim. The research seeks to elucidate the intended message behind the Qur’anic narrative of Qarun in Q.S. Al-Qashas: 76–82 and to uncover the Maqasidiyyah (objectives-based) values embedded within the text. Employing a qualitative library research approach with a descriptive-analytical method, the study uses primary data from the Qur’anic verses and secondary sources such as classical and contemporary tafsir literature, dictionaries, and academic articles. The findings reveal that the story of Qarun serves as a warning against excessive attachment to wealth, arrogance, and the neglect of social empathy. When contextualized within the modern phenomenon of flexing, the narrative highlights several key Maqasid al-Shariah, including Hifz al-Din (preservation of religion), Hifz al-Mal (preservation of wealth), Hifz al-Aql (preservation of intellect), and Hifz al-Nafs (preservation of life). In addition, the study identifies practical ethical values such as al-Insaniyah (humanity), al-Musawah (equality), and al-Mas’uliyyah (responsibility) that are relevant to contemporary societal behavior.Theoretically, this research demonstrates the potential of Maqasidi interpretation to serve as a dynamic framework for contextualizing Qur’anic teachings in light of evolving socio-cultural phenomena. Contribution: The study contributes to the growing body of literature on contemporary Qur'anic interpretation by bridging classical scriptural meanings with modern ethical challenges, particularly in relation to consumerism and identity expression in digital culture.
PENDIDIKAN KARAKTER MARYAM DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR QUR’AN KARIM KARYA MAHMUD YUNUS Aulia, Nurul; Maghfiratuzzahroh; M. Yusril
CONTEMPLATE: Jurnal Ilmiah Studi Keislaman Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Al-Qur'an Al-Ittifaqiah Indralaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/contemplate.v6i1.1351

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kisah Maryam, sebagaimana yang dipaparkan dalam Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan (liberary research). Kemudian diperkuat oleh data primer merujuk pada (Tafsir Qur’an Karim). Sedangkan data sekunder berupa cakupan dari tafsir, serta literature pendidikan karakter yang masih relevan dengan tema penelitian. Selanjutnya untuk analisis data berupa metode analisis isi dan pendekatan tematik, guna untuk menelusuri konstruksi pendidikan karakter pada narasi kisah mArtam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mahmud Yunus dalam tafsirnya mengemukakan kisah Maryam melalui corak edukatif, yang menekankan pada nilai-nilai iman, kesucian, kesabaran, ketaatan, serta keikhlasan sebagai dasar utama dalam pendidikan pada karakter Islam. Dari kelima nilai tersebut menjadi kunci utama dalam membentuk kepribadian Muslim dan Muslimah yang berakhlakul karimah yang baik dan tangguh. Penelitian ini juga menegaskan bahwasannya Mahmud Yunus dalam Tafsir Qur’an Karim tidak hanya menekankan pada nilai teologis saja, namun berkontribusi juga dalam membangun pengajaran yang berintegritas. Dengan demikian, Penggambaran kisah Maryam memberikan inspirasi bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang tidak hanya memprioritaskan pada ilmu pengetahuan saja, namun juga pada pembinaan terhadap akhlak dan spiritualitas yang baik. Terlebih lagi pada konteks pendidikan modern, baik untuk umat Muslim maupun umat beragama.