Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Fostering Cultural Awareness through Gastronomy in UNSOED Student Safrina Arifiani Felayati; Chendy Arieshanty Paramytha Sulistyo; Eka Yunita Liambo; Riefki Fajar Ganda Wiguna
SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra Vol. 17 No. 1 (2025): SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa Asing (FBA) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/sphota.v17i1.10235

Abstract

This study analyses the effectiveness of gastronomy in fostering cultural awareness among UNSOED students, emphasizing how food can serve as a bridge to cultural understanding. This study was conducted in five different classes with a total of 150 students from Fakultas Ilmu Budaya and Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNSOED. This study uses a qualitative experiential approach with a focus on interactive and practical learning. Students participate in gastronomy practices where they bring traditional foods from local and international cultures (e.g., mendoan, sandwiches, and baguettes), followed by tasting and discussion sessions. Data were collected through observation and reflective feedback from students to assess the impact of gastronomy experiences on the development of cultural awareness. This study found that tasting various foods significantly increased students' understanding of various cultural values and practices. In addition, this approach is in line with the objectives of the MBKM program, which emphasizes flexibility and real-world learning experiences. Gastronomy, as demonstrated in this study, has proven to be a practical and effective tool in fostering cultural awareness in students. By connecting food traditions to cultural history and social practices, students not only learn about different cultures but also develop a deeper appreciation for cultural diversity. The findings indicate that direct engagement with gastronomy significantly enhances students’ cultural awareness by providing an immersive learning experience. The study reveals that experiential learning through gastronomy fosters open-mindedness, appreciation for diversity, and critical thinking regarding cultural differences. This research contributes to the field of cultural education by demonstrating the effectiveness of gastronomy as an educational tool. It highlights the potential integration of culinary-based cultural education into university curricula, providing a model that can be adapted in other educational institutions
Pelatihan Keigo Dan Pemahaman Budaya Jepang untuk Meningkatkan Kompetensi Komunikasi siswa dalam Persiapan  ke Jepang Hartati; Ely Triasih Rahayu; Eko Kurniawan; Safrina Arifiani Felayati; Fauzan Fadlullah
PRAXIS: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): PRAXIS Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47776/aq288407

Abstract

Program pelatihan keigo dan pemahaman budaya Jepang ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi komunikasi siswa dalam rangka persiapan keberangkatan ke Jepang, khususnya bagi siswa yang akan mengikuti program magang, studi, atau kerja. Permasalahan utama yang dihadapi siswa adalah keterbatasan pemahaman terhadap penggunaan keigo (bahasa hormat Jepang) serta rendahnya kesadaran akan nilai-nilai budaya Jepang yang sangat menekankan kesopanan, hierarki sosial, dan etika komunikasi. Metode pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui pelatihan intensif yang meliputi pemaparan materi, simulasi komunikasi kontekstual, diskusi interaktif, serta praktik langsung penggunaan keigo dalam situasi formal dan semi-formal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep dasar keigo, kemampuan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan konteks sosial, serta meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang secara sopan. Selain itu, siswa juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap nilai-nilai budaya kerja dan kehidupan sosial masyarakat Jepang. Program ini memberikan kontribusi positif dalam mempersiapkan siswa agar mampu beradaptasi secara linguistik dan kultural, sehingga diharapkan dapat meminimalkan kesalahpahaman komunikasi dan meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi lingkungan Jepang yang multikultural dan profesional.
Pemberdayaan PKK Melalui One Village One Product (OVOP) Berbasis Potensi Lokal Desa Karangnangka Ely Triasih Rahayu; Hartati; Safrina Arifiani Felayati; Fauzan Fadlullah
PRAXIS: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): PRAXIS Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47776/dmgehv94

Abstract

Pemberdayaan PKK RW 04 Desa Karangnangka melalui One Village One Product (OVOP) menjadi konsep tim Pengabdian Kepada Masyarakat Unsoed. Konsep OVOP berperan sebagai peningkatan kualitas potensi perdesaan. Konsep OVOP akan mengimplementasikan 3 prinsip yaitu; 1) mengoptimalkan potensi lokal dalam menghasilkan suatu produk yang only one and number one, 2) pengembangan berdasarkan kemandirian, kreatifitas dan inovatif, 3) pengembangan SDM. Desa Karangnangka merupakan desa dengan mata pencaharian yang didominasi oleh bercocok tanam dan perikanan. Tujuan dari PKM ini adalah; 1) meningkatkan keterampilan dan kapasitas anggota PKK dalam pengembangan produk berbasis potensi lokal sebagai produk unggulan penciri OVOP, (2) pelatihan pemasaran secara online. PKM dilakukan dengan teknik PRA (Particioatory Rural Appraisal) untuk mengidentifikasi permasalahan serta potensi desa yang dimiliki. Teknik PRA, merupakan metode yang berfokus pada pemberdayaan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan identifikasi permasalahan dan potensi desa secara partisipatif sehingga masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan peserta terkait teknik pengolahan singkong dan abon lele dengan standar yang lebih higienis, konsisten, dan inovatif. Peserta juga mampu membuat variasi produk serta memahami strategi pemasaran digital menggunakan platform media sosial. Selain itu, terbentuk komitmen kelompok PKK untuk mengembangkan produk unggulan desa secara berkelanjutan.