Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching Learning dengan melibatkan anak-anak sekolah minggu usia 8 – 12 tahun secara aktif dalam proses penjelajaran ini sehingga anak-anak dapat berkreasi, berkarya, meningkatkan kreativitas mereka. Oleh sebab itu guru sekolah minggu diharapkan dapat membangun sebuah sekolah minggu yang maju dan berkembang, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Mengajar anak-anak memang tidak mudah, guru harus mengenal gaya belajar anak agar dapat menemukan apa yang menjadi masalah anak di dalam belajar. Apabila guru tidak kreatif dalam mengajar, maka yang terjadiadalah anak akan merasa bosan, malas, jenuh, dan tidak suka mendengarkan firman Tuhan. Apalagi anak-anak sekarang semakin sibuk dengan sekolah, kursus-kursus, dan berbagai kesibukan lainnya, sehingga kegiatan mereka padat sekali. Bisa dibayangkan, jika acara sekolah minggu tidak menarik, mereka mungkin bisa saja merasa “rugi” untuk hadir di sekolah minggu. Jika ini yang terjadi, apa yang bakal terjadi kepada mereka, sementara anak-anak adalah harapan dan generasi masa depan gereja. Dengan melihat fakta yang terjadi di dalam pelayanan sekolah minggu Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka, guru kurang memperhatikan kondisi yang terjadi dengan anak-anak sekolah minggu. Ada begitu banyak kendala yang terjadi, baik karena waktu anak lebih banyak untuk kegiatan ekstra kurikuler, waktu yang begitu singkat, pengajaran firman Tuhan tidak terlalu ditekankan, kurangnya bahan ajar, kurangnya kesadaran orang tua untuk mengajak anak ke Sekolah Minggu.