Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Taboo as Oral Discourse and Cultural Code: Performative Communication of Moral and Ecological Values in Bugis Society Suparman, Suparman; Abdullah Syukur; Tsamratul’aeni, Tsamratul’aeni
LETS: Journal of Linguistics and English Teaching Studies Vol. 7 No. 1 (2025): LETS: Journal of Linguistics and English Teaching Studies
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/lets.v7i1.1860

Abstract

This study aims at examining the phenomenon of taboo in Bugis society through an anthropolinguistic perspective. tTaboo is understood as a prohibition or taboo transmitted orally, functioning as a social, religious, and ecological mechanism to regulate behavior and to maintain communal harmony. By using a qualitative approach within the paradigm of linguistic ethnography, this research involved 12 key informants in Luwu Regency, South Sulawesi. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation of taboo texts. The analysis was conducted through data reduction, thematic classification, and anthropological interpretation. The findings reveal four main dimensions of Bugis taboo: (1) religious integrating local customs with Islamic teachings; (2) social emphasizing ethics of mutual assistance and norms of interaction; (3) health-related particularly prohibitions concerning pregnant women and children; and (4) ecological functioning as local knowledge for natural resource conservation. Bugis taboo is shown to function not merely as an oral tradition, but also as a performative speech act that regulates behavior, instills moral values, and preserves local wisdom. These findings affirm the contribution of taboo as an important component of intangible cultural heritage while enriching cross-cultural studies of taboo.
Menyulam Tradisi dalam Sajian Manre Samampa sebagai Wajah Kuliner Budaya Lokal Tsamratul’aeni, Tsamratul’aeni; Abdullah Syukur
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.611

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merevitalisasi dan menguatkan identitas kuliner lokal melalui pelestarian tradisi Manre Samampa sebagai bagian dari kearifan budaya masyarakat Tana Luwu khususnya kalangan mahasiswa. Manre Samampa tidak sekadar praktik konsumsi bersama, tetapi merepresentasikan nilai kebersamaan, kesyukuran, solidaritas social antar mahasiswa, serta etika penghormatan dalam struktur adat. Namun, arus globalisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat modern menyebabkan tradisi ini mulai tergerus dan kurang dikenal oleh generasi muda. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif berupa sosialisasi nilai filosofis Manre Samampa, pelatihan penyajian kuliner tradisional berbasis higienitas dan estetika modern, kemudian dikemas dalam video sosialisasi budaya terkait sebagai potensi ekonomi kreatif local selain ragam budaya itu sendiri. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, demonstrasi praktik, diskusi kelompok, dan evaluasi berbasis refleksi budaya. Sasaran kegiatan adalah mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah Budaya, Etika dan Karakter Tana Luwu program Studi Informatika, Fakultas Teknik Komputer yang sebagai pemuda, dan praktisi  budaya lokal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap makna simbolik sajian Manre Samampa, keterampilan dalam pengolahan dan penyajian makanan tradisional yang lebih inovatif tanpa meninggalkan nilai adat, serta tumbuhnya kesadaran menjadikan tradisi kuliner sebagai identitas budaya sekaligus peluang ekonomi. Dengan demikian, pengabdian ini berkontribusi dalam menyinergikan pelestarian tradisi dan penguatan kemandirian ekonomi berbasis budaya lokal.