Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Akulturasi Budaya Jawa Sunda Pada Masyarakat Kutasari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah Sholikhah, Amirotun; Widodo, Ageng
MEUSEURAYA - Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol.1 No.2 (Desember 2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.887 KB) | DOI: 10.47498/meuseuraya.v1i2.1271

Abstract

Keberadaan dua suku bangsa dengan latar belakang budaya berbeda dan bermukim dalam satu wilayah dapat menimbulkan terjadinya proses sosial berkenaan dengan akulutarsi budaya yaitu adanya perpaduan berbagai unsur kebudayaan yang berbeda dan memembentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan ciri khas budaya masing-masing. Adanya usaha penyesuaian diri dengan menerima pola-pola dan aturan-aturan komunikasi dominan yang yang ada pada masyarakat pribumi. Sekelompok masyarakat Suku Sunda sejak ratusan lalu yang tinggal atau menetap di wilayah sebuah dusun berlatar belakang suku Jawa. Hal tersebut memungkinkan terjadinya proses akulturasi budaya, dimana suku Sunda menyesuaikan diri dan menerima pola-pola dan aturan-aturan komunikasi dominan yang ada pada suku Jawa. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Grugak, Desa Kutasari RW 014 Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah. Subyek dalam penelitian ini adalah masyarakat Dusun Grugak yang berasal dari suku Jawa sebagai pribumi dan Suku Sunda sebagai pendatang. Bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang proses akulturasi adat, tradisi, bahasa, kepercayaan masyarakat saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan observasi,wawancara dan dokumentasi. Analisis datanya adalah deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa unsur-unsur kebudayaan Jawa seperti adat /tradisi dan kesenian masih berjalan hingga saat ini di Dusun Grugak, Menggambarkan adanya upaya mempertahankan identitas kesukuan masing masing. Sehingga proses akulturasi tidak menyentuh semua unsur. Kecuali bahasa, dimana Bahasa Sunda lebih dominan menjadi bahasa komunikasi sehari-hari menggusur bahasa pribumi Jawa. Berkat peran aktif para pemuka agamanya sehingga dari unsur sistem kepecayaan faham kejawen mulai berkurang Terjadinyan Pergeseran nilai budaya mulai terjadi antara lain karena faktor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mempengaruhi perubahan pola pikir masyarakat Dusun Grugak lebih bersifat praktis dan eknomis terutama generasi mudanya.
Community economic empowerment through oyster mushroom cultivation: A case study on agricultural-based empowerment using local raw materials Rohmah, Isyfi Shofia; Sholikhah, Amirotun
Kemakmuran Hijau: Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 2 No. 1: (February) 2025
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/jekop.v2i1.2025.1332

Abstract

Background: Community economic empowerment based on oyster mushroom cultivation is one alternative to improve the welfare of rural communities. The potential for abundant raw materials, such as sawn timber waste, as well as the relatively easy cultivation process and low capital, make this business promising. The Sumber Maju Business Group seeks to implement empowerment through training and business development to improve the economy of the villagers. Methods: This research uses a qualitative approach with a case study method to analyze the implementation of economic empowerment through oyster mushroom cultivation by the Sumber Maju Business Group. Data were collected through in-depth interviews with administrators, group members, and the local community, as well as through observation of the empowerment stages carried out, from preparation to evaluation and termination. Findings: This study found that community empowerment through oyster mushroom cultivation succeeded in improving the village economy, as evidenced by the increasing number of mushroom huts and group members' income. However, some stages of empowerment are still not optimal, such as the lack of government involvement in providing the necessary production equipment and the low awareness of some people about the potential of this business. Nevertheless, there is a strong desire from the community to develop this business further. Conclusion: Economic empowerment through oyster mushroom cultivation can increase the economic independence of group members and improve community welfare. However, there are challenges related to government involvement and the provision of adequate production facilities. Novelty/Originality of this article: This article offers new insights into agricultural-based economic empowerment that utilizes affordable local potential, namely wood waste, as the main raw material.
Pemberdayaan Petani Gula dalam Upaya Pembangunan Ekonomi Lokal Sholikhah, Amirotun; Suyuti, Muh Hikmaudin
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.9381

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana PT. PNM Mekar Unit Cilongok 1 Cabang Banyumas dalam proses pemberdayaan serta pembangungan ekonomi lokal bagi para petani gula di Desa Sokawera Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Berjenis penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga aspek pemberdayaan yaitu: Enabling, Empowering dan Protetecting, pada aspek Enabling sudah dilaksanakan oleh PNM Mekar Unit Cilongok 1 dengan baik, yaitu telah mampu menciptakan suasana yang mendorong potensi para petani gula di Desa Sokawera Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas untuk berkembang, aspek Empowering yaitu memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat Desa Sokawera berupa membukakan peluang agar masyarakat lebih berdaya dengan mengolah hasil pohon kelapa menjadi gula Jawa dan jenis olahan lain dari bahan dasar gula Jawa, adapun aspek Protecting PNM Mekar Unit Cilongok 1 belum berjalan secara maksimal. Sebab kegiatan melindungi para petani dalam hal pengambilan keputusan misalnya untuk apa saja dana pinjaman yang sudah disalurkan, tidak dipantau penggunaannya dan ketika ada yang tidak bisa mengangsur maka dibebankan pada seluruh anggota kelompok mereka yaitu dikenal dengan sistem tanggung renteng hal ini tentu saja jika berulang bisa menimbulkan beban kelompok. Pembangunan Ekonomi lokal, peningkatan pendapatan para petani gula di Desa Sokawera umumnya sebatas pada pemenuhan kebutuhan pokok seperti makan sehari-hari sebagian ada yang bisa memperbaiki rumah dan menyekolahkan anak.untuk pengembangan usaha baru yang lebih menjanjikan belum bisa terwujud disebabkan keterampilan yang dimiliki para petani masih perlu dilatih terus oleh pihak penyokong dana bisa bekerjasama dengan pemerintah setempat.