Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Negosiasi Adat dan Administrasi Perkawinan dalam Pengurusan Pengantar Nikah di Sungai Penuh Lubis, Yumna Sakinah; Iskandar, Nuzul; Yusra, Hannilfi
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol. 1 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v1i2.7583

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan bernegosiasi dengan aturan-aturan adat dalam suatu komunitas masyarakat. Lazim dipahami bahwa pelaksanaan suatu hukum positif tidak serta merta terlaksana tanpa berdinamika dengan konteks sosial-kultural di mana ia berada, terlebih jika objek yang diatur tersebut sudah diatur terlebih dahulu dengan norma adat yang lebih lokalitstik. Artikel ini bertujuan untuk mengisi celah kekosongan penelitian dalam menjelaskan bagaimana hukum positif memberikan pengaruh terhadap praktik perkawinan yang sudah lama dipraktikkan masyarakat, serta bagaimana norma-norma adat mempengaruhi pelaksanaan norma hukum positif. Studi ini menggunakan pendekatan grounded theory dengan mengandalkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, sedangkan lokasi penelitian adalah salah satu kecamatan di wilayah Kota Sungai Penuh, Jambi. Artikel ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Sungai Penuh tidak merasa keberatan dengan ditambahkan syarat dalam prosedur registrasi nikah di Kantor Urusan Agama, yaitu harus mendapat persetujuan tertulis dari tokoh adat yang disebut tengganai walaupun syarat itu tidak tertera secara formal dalam dokumen Undang-Undang Perkawinan dan peraturan turunannya. Justru masyarakat menerima tambahan aturan ini sebagai bentuk sinergi yang baik antara aturan negara, aturan agama, dan aturan adat.This article aims to elucidate how the implementation of the Marriage Law negotiates with customary rules within a community. It is commonly understood that the implementation of positive law does not occur in isolation but dynamically interacts with the socio-cultural context in which it operates, especially when the subject matter is already regulated by more localized customary norms. This article seeks to fill a research gap in explaining how positive law influences long-standing marriage practices within a community and how customary norms impact the implementation of positive legal norms. The study employs a grounded theory approach, relying on data obtained through interviews, observations, and document analysis, conducted in one of the sub-districts in the city of Sungai Penuh, Jambi. The article demonstrates that the community in Sungai Penuh does not object to additional requirements in the marriage registration procedure at the Office of Religious Affairs, namely obtaining written approval from a customary figure known as tengganai, even though this requirement is not formally stipulated in the Marriage Law and its derivative regulations. Instead, the community perceives this additional rule as a form of synergistic collaboration between state, religious, and customary regulations.
Negosiasi Adat dan Administrasi Perkawinan dalam Pengurusan Pengantar Nikah di Sungai Penuh Lubis, Yumna Sakinah; Iskandar, Nuzul; Yusra, Hannilfi
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol. 1 No. 2 (2023): Editions July-December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v1i2.7583

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan bernegosiasi dengan aturan-aturan adat dalam suatu komunitas masyarakat. Lazim dipahami bahwa pelaksanaan suatu hukum positif tidak serta merta terlaksana tanpa berdinamika dengan konteks sosial-kultural di mana ia berada, terlebih jika objek yang diatur tersebut sudah diatur terlebih dahulu dengan norma adat yang lebih lokalitstik. Artikel ini bertujuan untuk mengisi celah kekosongan penelitian dalam menjelaskan bagaimana hukum positif memberikan pengaruh terhadap praktik perkawinan yang sudah lama dipraktikkan masyarakat, serta bagaimana norma-norma adat mempengaruhi pelaksanaan norma hukum positif. Studi ini menggunakan pendekatan grounded theory dengan mengandalkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, sedangkan lokasi penelitian adalah salah satu kecamatan di wilayah Kota Sungai Penuh, Jambi. Artikel ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Sungai Penuh tidak merasa keberatan dengan ditambahkan syarat dalam prosedur registrasi nikah di Kantor Urusan Agama, yaitu harus mendapat persetujuan tertulis dari tokoh adat yang disebut tengganai walaupun syarat itu tidak tertera secara formal dalam dokumen Undang-Undang Perkawinan dan peraturan turunannya. Justru masyarakat menerima tambahan aturan ini sebagai bentuk sinergi yang baik antara aturan negara, aturan agama, dan aturan adat.This article aims to elucidate how the implementation of the Marriage Law negotiates with customary rules within a community. It is commonly understood that the implementation of positive law does not occur in isolation but dynamically interacts with the socio-cultural context in which it operates, especially when the subject matter is already regulated by more localized customary norms. This article seeks to fill a research gap in explaining how positive law influences long-standing marriage practices within a community and how customary norms impact the implementation of positive legal norms. The study employs a grounded theory approach, relying on data obtained through interviews, observations, and document analysis, conducted in one of the sub-districts in the city of Sungai Penuh, Jambi. The article demonstrates that the community in Sungai Penuh does not object to additional requirements in the marriage registration procedure at the Office of Religious Affairs, namely obtaining written approval from a customary figure known as tengganai, even though this requirement is not formally stipulated in the Marriage Law and its derivative regulations. Instead, the community perceives this additional rule as a form of synergistic collaboration between state, religious, and customary regulations.
The Application of Tengganai Permission in Traditional Marriage Processes: A Review of Al-‘Adah al-Muhakkamah Lubis, Yumna Sakinah; Yul, Widiya; Masrur, Masrur
International Journal of Multidisciplinary Research of Higher Education Vol 9 No 2 (2026): (April) Theme Education, Religion Studies, Social Sciences, STEM and Economic Dev
Publisher : Islamic Studies and Development Center in Collaboration With Students' Research Center Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki keragaman hukum adat yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Namun, tidak seluruh praktik hukum adat dapat serta-merta dijadikan dasar hukum dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kajian dengan menjelaskan bagaimana prinsip al-‘Adah al-Muhakkamah memandang penerapan hukum adat yang dipraktikkan dalam masyarakat, khususnya dalam konteks pernikahan adat. Penelitian ini menggunakan pendekatan grounded theory dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Lokasi penelitian berada di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat yang berlaku di Kota Sungai Penuh mewajibkan adanya surat izin tengganai sebagai salah satu syarat administratif untuk mengurus surat pengantar nikah di tingkat desa. Dari perspektif al-‘Adah al-Muhakkamah, praktik adat ini tidak bertentangan dengan hukum Islam, berlaku secara umum bagi masyarakat, diterapkan secara konsisten, dan telah berlangsung secara turun-temurun. Selain berfungsi sebagai kelengkapan administratif, kewajiban surat izin tengganai juga berperan sebagai mekanisme perlindungan terhadap perempuan dan anak kemenakan, serta sebagai kontrol sosial adat untuk memastikan tanggung jawab pihak laki-laki sebelum pernikahan dilangsungkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan izin tengganai dalam pernikahan adat di Kota Sungai Penuh merupakan bentuk integrasi antara hukum adat dan hukum Islam yang sejalan dengan prinsip-prinsip al-‘Adah al-Muhakkamah. Adat ini tidak hanya merepresentasikan kearifan lokal tetapi juga berfungsi menjaga kemaslahatan, kehormatan, dan perlindungan dalam institusi pernikahan dengan tetap berpegang pada tiga unsur utama pernikahan, yaitu ketentuan agama, peraturan perundang-undangan, dan adat istiadat setempat.