Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Konsep Circular Economy melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Minyak Jelantah sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Lingkungan Filda Rahmiati; Hally Hanafiah; Jean Richard Jokhu; Lerissa Daniela; Jonathan Lampatar Siregar; Setyarini Santosa; R. Stevanus Bayu Mangkurat
Share: Journal of Service Learning Vol. 10 No. 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/share.10.2.104-110

Abstract

Penerapan teori Circular Economy dalam pembuatan pelatihan pembuatan sabun dari minyak jelantah ini dilaksanakan untuk menganalisis konsep Circular Economypada UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Cikarang. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk mengimplementasi-kan teori konsep Circular Economy pada pelaku UMKM. Pada aktifitas kegiatan ilmiah ini para pelaku UMKM diberikan pengenalan akan Circular Economy melalui pengolahan limbah minyak jelantah menjadi produk yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan, yaitu sabun. Aktifitas ini mencakup aspek-aspek penting dari teknik pembuatan sabun, penggunaan bahan tambahan yang aman, dan manfaat lingkungan dari pemanfaatan kembali minyak jelantah yang biasanya dibuang. Hasil dari aktifitas ini peserta mendapatkan pengetahuan praktis dan pengalaman langsung dalam mengubah limbah menjadi produk yang dapat dipasarkan dan dari kegiatan ini pelaku UMKM menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan dan pemahaman peserta mengenai pengolahan limbah. Pelaku berhasil memproduksi sabun berkualitas tinggi yang memiliki potensi untuk didistribusikan secara komersial. Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga menyediakan sumber pendapatan tambahan bagi UMKM di Cikarang. Keberhasilan pelatihan ini menekankan pentingnya mengintegrasikan praktik Circular Economy dalam bisnis lokal, mendorong pembangunan berkelanjutan, dan mempromosikan pengelolaan lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan limbah secara efektif, UMKM dapat berkontribusi pada ekonomi yang lebih berkelanjutan dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan stabilitas keuangan.
The Importance Of Financial Inclusion For Women’s Empowerment In Seaweed Industry As A Potential Resource For Blue Economy Development Lerissa Daniela; Tasya Zahwa Prayoga; R. S. Bayu Mangkurat; Jonathan Lampatar Siregar; Filda Rahmiati
JHSS (JOURNAL OF HUMANITIES AND SOCIAL STUDIES) Vol 8, No 3 (2024): JHSS (Journal of Humanities and Social Studies)
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jhss.v8i3.10776

Abstract

This study focuses on the seaweed sector and women's economic empowerment while providing an outline of the Blue Economy idea and its current situation in Lancang island, Kepulauan Seribu, Indonesia. The Blue Economy is gaining popularity as a way to protect marine ecosystems while assuring nation’s economic success and encourages the sustainable use of ocean resources. Indonesia, the biggest archipelago in the world, has a considerable blue economy potential. This research underlines the significance of striking a balance between economic expansion, the preservation of marine biodiversity, and the welfare of coastal communities. It emphasizes the responsibilities played by women in the seaweed sector and their restricted access to financial institutions.  Furthermore, the study underlines the importance of additional research to improve long-term economic resilience by empowering women in the seaweed sector, contribute to long-term community development, and promoting financial inclusion. Though vital, seaweed women face several obstacles, including inadequate financial services and decision-making power. These constraints must be overcome to maximize the blue economy development. To conclude, financial inclusion, especially through cooperatives and digital financial services, is key to closing this gap. Indonesia and other nations can maximize the blue economy's potential while promoting sustainable development and empowerment by prioritizing financial inclusion