Eko Suroso
Muhammadiyah University Purwokerto

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Kekerasan Struktural, Kultural, dan Langsung dalam Novel Kereta Semar Lembu Karya Zaky Yamani: Analisis Perspektif Johan Galtung Afita Dwi Khasanah; Laily Nurlina; Eko Suroso
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7780

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis representasi kekerasan struktural, kekerasan kultural, dan kekerasan langsung dalam novel Kereta Semar Lembu karya Zaky Yamani dengan menggunakan perspektif teori kekerasan Johan Galtung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian adalah novel Kereta Semar Lembu cetakan kedua terbitan Maret 2023. Data penelitian berupa kutipan narasi, dialog, dan peristiwa dalam novel yang merepresentasikan ketiga bentuk kekerasan tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan bentuk kekerasan ke dalam kategori kekerasan struktural, kultural, dan langsung berdasarkan konsep segitiga kekerasan Johan Galtung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan struktural dalam novel direpresentasikan melalui ketidakadilan sistemik seperti eksploitasi tenaga kerja, penghapusan identitas pekerja, dan ketimpangan akses terhadap hak-hak dasar. Kekerasan kultural tampak dalam bentuk legitimasi nilai, stereotipe, serta normalisasi penderitaan yang membenarkan ketidakadilan dan penindasan. Sementara itu, kekerasan langsung direpresentasikan melalui tindakan fisik dan verbal seperti pemukulan, penyiksaan, dan ancaman yang dialami tokoh-tokoh dalam novel. Ketiga bentuk kekerasan tersebut saling berkaitan dan membentuk gambaran kekerasan multidimensional yang merefleksikan realitas sosial masyarakat. Dengan demikian, novel Kereta Semar Lembu tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai medium kritik sosial terhadap praktik kekerasan dan ketidakadilan struktural dalam kehidupan masyarakat.
Ketidakadilan dan Penindasan Sosial dalam Novel Jalan Lahir Karya Dias Novita Wuri: Kajian Sosiologi Sastra Pierre Bourdieu Hannifia Dalia Azza Mahfira; Laily Nurlina; Eko Suroso; Sukirno Sukirno
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/fy8v4c39

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh representasi ketidakadilan dan penindasan sosial terhadap perempuan yang ditampilkan secara berlapis dalam novel Jalan Lahir (2021) karya Dias Novita Wuri, mulai dari kekerasan seksual pada masa pendudukan militer Jepang hingga kekerasan domestik pascaperang. Penelitian bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut dan menganalisis struktur sosial yang melatarbelakanginya melalui bentuk ranah, modal, habitus, dan kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis; data berupa kutipan naratif dan dialog dikumpulkan melalui teknik baca-catat, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa serta diperkuat melalui triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan lima bentuk dominasi yang saling berkelindan, yaitu reproduksi habitus patriarki lintas generasi, kekerasan simbolik melalui normalisasi peran dan rasa bersalah perempuan, penindasan tubuh perempuan sebagai arena kekuasaan militer, dominasi melalui modal politik institusi pendudukan, serta variasi resistensi korban yang berkisar dari perlawanan terbuka hingga disintegrasi diri. Temuan ini menegaskan bahwa ketidakadilan dalam novel bukan peristiwa personal yang berdiri sendiri, melainkan struktur yang direproduksi secara berulang lintas ruang, waktu, dan generasi. Penelitian ini memberi kontribusi bagi kajian sastra Indonesia berupa penerapan kerangka Bourdieu secara terpadu dan integratif, yang memungkinkan pembacaan ketidakadilan sebagai bentuk relasi kuasa berlapis, bukan sekadar tema representasi perempuan yang berdiri sendiri, sekaligus memperkaya khazanah sosiologi sastra Indonesia dalam mengkaji karya bertema trauma sejarah dan kekerasan berbasis gender.